Parenting

Agar Anak Tak Kecanduan Gadget, Jangan Lebih dari 1-2 Jam Sehari

Di dunia yang serba terkomputerisasi ini, paparan gadget dan teknologi selalu dijumpai sehari-hari. Bahkan sebagian orang telah masuk ke dalam taraf adiktif atau kecandun terhadap pemakaian gadget. Tidak hanya pada orang tua, namun juga anak-anak.

Psikolog Roslina Verauli menjelaskan bahwa taraf adiktif itu dikategorikan ketika kegiatan bersama gadget atau teknologi sudah sampai mengganggu fungsi hidup sehari-hari anak. Anak pada usia pra sekolah semestinya banyak memiliki waktu untuk bermain aktif dan berhubungan dengan orang-orang dekat.

Hasil riset American Academy of Pediatrics (AAP) pada tahun 1999 menyimpulkan bahwa waktu anak berinteraksi dengan teknologi, termasuk gadget, komputer, tablet, dan layar TV semestinya tidak lebih dari 1—2 jam per hari. Pada saat riset itu dilakukan memang paparan teknologi tidak seluas saat ini, namun ternyata AAP tidak mengoreksi hasil penelitiannya hingga sekarang. Sehingga, batas tersebut tetap berlaku.

”Hasil riset itu masuk akal karena anak usia pra sekolah membutuhkan waktu bermain minimal 5 jam per hari,” tutur Roslina saat dihubungi Jawa Pos.

Lebih lanjut Roslina mengatakan bahwa aktivitas bermain dalam 5 jam tersebut harus terdiri dari kegiatan bermain aktif dan pasif. Sementara, bermain dengan gadget hanya merupakan kegiatan bermain pasif saja. Karena itu, waktu bermain 5 jam harus diisi dengan kegiatan gerak aktif pula. Misalnya, bermain di luar dengan teman sebaya atau memanipulasi alat bermain di rumah.

Menurut Roslina ada kesalahan pandangan antara anak dan gadget di kalangan orang tua dan sebagian pakar. Mereka menganggap gadget sebagai sebab anak mengalami kecanduan dan melakukan kegiatan abnormal. Namun, sebenarnya anak bermain dengan gadget adalah sebuah akibat. Yang timbul karena kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi, sehingga melarikan diri ke gadget.

Apa yang menyebabkan anak tidak terpenuhi kebutuhan emosionalnya? Pertama, karena diskonfirmasi antara orang tua dan anak. Maksudnya, orang tua berada di rumah bersama anak namun tidak menganggap penting sang anak. Anak lebih banyak diabaikan. ”Kalau orang tua bersikap hangat, orang tua tidak akan bisa dikalahkan oleh gadget,” tukas Roslina.

Selain itu, perlu diperhatikan pula apakah anak cukup terfasilitasi dengan kegiatan di luar, misalnya mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Perhatikan pula apakah anak memiliki pilihan untuk bermain dengan teman-teman sebayanya. Hal-hal tersebut dapat mengalihkan perhatian anak dari gadget, yang sebenarnya muncul karena kurangnya pilihan berkegiatan aktif.

”Sebelum nyalahin gadget cek dulu tiga hal itu,” kata Roslina.

Tidak ada batasan minimal usia mengenalkan anak pada gadget. Di zaman yang serba computerize ini kemampuan menguasasi komputer adalah salah satu agenda untuk menguasai kemampuan adaptif. Mobil, televisi, dan banyak hal lainnya saat ini sudah berbasis komputer.

Sehingga normal-normal saja mengenalkan anak dengan gadget. Namun, untuk mulai menggunakan gadget Roslina membatasi minimal usia 2—3 tahun.

Di samping itu, hal terakhir yang harus diperhatikan orang tua adalah memakai gadget sesuai peruntukannya. Apakah untuk bekerja, bermain, atau berhubungan dengan dunia luar. Seorang anak akan meniru perilaku orang yang dikaguminya. Pada usia pra sekolah, riset menunjukkan orang yang dikagumi tersebut adalah orang tuanya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 3 Mei 2015

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s