Kehamilan, Kesehatan, Kewanitaan, Perkembangan Anak

Peran Sugesti untuk Keberhasilan ASI

MENTENG—Setiap bayi di bawah usia dua tahun membutuhkan air susu ibu (ASI) sebagai makanan terbaik bagi tubuhnya. Di dalam ASI mengandung banyak kebaikan. Tidak hanya sebagai asupan makanan tetapi juga melindungi bayi dari berbagai risiko penyakit. Sayangnya, tidak semua ibu menyadari hal ini. Sebagian ibu masih memberikan susu formula kepada buah hati kecilnya. Dikarenakan kurang kepahaman tentang pentingnya ASI atau memang ASI sang ibu tidak keluar.

Sebenarnya hal apa saja yang memengaruhi produksi ASI seorang ibu? Dokter spesialis anak sekaligus ketua pembina sentra laktasi dr Utami Roesli menerangkan bahwa yang paling berpengaruh adalah sugesti sang ibu.

”Produksi ASI dipengaruhi hormon oksitosin yang sangat tergantung pada pikiran negatif atau positif,” jelas Utami.

Dia menambahkan hormon oksitosin akan meningkat jika ibu mendapatkan rasa nyaman. Sebaliknya, apabila ibu mengalami stres atau tekanan, contohnya ibu melahirkan yang dirawat di ruang emergency, ASI biasanya tidak keluar. ”Jika berpikir ASI keluar maka dia keluar, kalau tidak ya tidak. Tergantung what you believe,” tutur Utami.

Lebih lanjut, kata dia, hal itu berkaitan dengan psycho neuro immunology (PNI). Yakni, bagaimana hal psikis mampu merangsang neurologi dan daya tahan tubuh yang bagus. Utami menambahkan bahwa peran ayah sangat besar dalam keberhasilan ASI. Kaitannya dengan menciptakan perasaan nyaman pada ibu. Di antaranya dengan menunjukkan kasih sayang kepada sang istri dan membantu meringankan pekerjaan rumah tangga contohnya.

Dalam sebuah penelitian clinical pediatric 1994 Utami menerangkan ditemukan bukti nyata peran ayah dalam keberhasilan produksi ASI sang ibu. Penelitian dilakukan pada 115 ibu menyusui. Hasilnya menunjukkan 98,1 persen ibu yang mendapat pertolongan dengan benar dari sang suami berhasil menyusui. Sedangkan, hanya 26,9 persen ibu yang berhasil menyusui saat tidak mendapat pertolongan dengan benar dari sang suami.

Hormon lainnya yang berperan dalam produksi ASI adalah prolaktin. Pada wanita hormon ini berfungsi menstimulasi sel di dalam alveoli otak untuk memproduksi ASI. Jika hormon prolaktin memproduksi ASI, maka hormon oksitosin adalah hormon yang merangsang keluarnya ASI.

Terkait suplemen tambahan seperti susu ibu hamil, Utami berpendapat hal tersebut boleh-boleh saja namun sebetulnya tidak perlu. Dirinya menyarankan agar ibu memperbanyak asupan gizi dari bahan makanan alami seperti daging, ikan, telur, sayur, dan buah-buahan. ”Kalsium dari susu kan pabrikan, yang alami juga banyak terdapat di ikan teri atau kacang-kacangan misalnya,” tukas Utami.

Sementara, terkait anjuran yang banyak berkembang di masyarakat untuk menghasilkan produksi ASI, seperti daun katu pada masyarakat Jawa dan jantung pisang pada masyarakat Sulawesi, Utami menerangkan hal itu bergantung pada keyakinan sang ibu itu sendiri. ”Kalau berpikir dengan daun katu bisa banyak ya banyak, kalau yakinnya dengan jantung pisang ya bisa juga,” tandas Utami. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 10 Juli 2015

Standard
Kesehatan, Parenting, Pendidikan, Perkembangan Anak

Disleksia

KEBAYORAN LAMA—Bagi pecinta film India mungkin pernah menonton film Taare Zameen Par. Dikisahkan seorang anak berusia 8 tahun masih mengalami kesulitan membaca. Tidak seperti anak lainnya yang sudah bisa membaca pada usia lebih muda. Ternyata, anak tersebut mengalami disleksia. Namun, di balik kekurangannya, bocah tersebut memiliki kemampuan biasa dalam melukis dan berimajinasi.

Disleksia juga banyak terjadi di dunia nyata. Kendala yang dialami penyandangnya secara garis besar adalah kesulitan dalam membaca. Menurut psikolog tumbuh kembang Linda Gunawan dalam Diagnostic and Statistical manual of Mental Disorders (DSM) IV 1994 disleksia dimasukkan dalam kategori kesulitan belajar (learning disability). Yang terdiri dari kesulitan dalam membaca-disleksia, kesulitan dalam menulis-disgraphia, dan kesulitan dalam menghitung-discalculating).

”Tidak ada hubungan langsung antara intelektual dan disleksia,” ujar Linda saat dihubungi Jawa Pos.

Lebih lanjut, kata Linda, proses pembelajaran anak bukan hanya melalui membaca, tetapi juga melalui auditori dan pengamatan. Kendala yang dialami penyandang disleksia adalah kurangnya sumber informasi dari tulisan yang menghambat bertumbuhnya informasi itu sendiri. Sehingga turut menghambat bertumbuhnya potensi optimal intektualnya.

Kedua, lanjut Linda, masalah juga ditemukan dengan kemampuan menulis anak. Terutama ketika dia menulis kata. Ini yang menghambat kemampuan akademisnya di sekolah, jika masalah tidak ditangani.

Namun, seperti kisah Ishaan dalam film Taare Zameen Par dan ilmuwan Einstein yang juga merupakan penyandang disleksia, seringkali penyandangnya memiliki kelebihan di atas rata-rata. Menurut Linda, tidak ada studi yang menyatakan bahwa gangguan perkembangan seseorang berkorelasi dengan kelebihan spesifik dibandingkan orang pada umumnya.

”Satu hal yang perlu dihargai dari mereka, bahwa mereka bekerja lebih keras untuk mengembangkan diri,” tutur Linda.

Oleh karena itu, kata dia, setiap perkembangan kecil, setiap minat yang menonjol dalam diri anak penyandang disleksia, perlu mendapatkan perhatian untuk dikembangkan orang tua. Pencegahan dini disleksia dapat dilakukan ketika orang tua melihat adanya masalah tahap perkembangan awal.

Seperti kemampuan penglihatan awal, berguling dan duduk tepat waktu, perkembangan motorik mulut anak, dan perkembangan bahasanya.

Salah satu orang tua yang memiliki anak penyandang disleksia adalah Amalia Prabowo. Anak sulungnya Aqillurahman A.H. Prabowo (10) masih mengalami kesulitan membaca hingga saat ini. Namun, Amalia tidak tinggal diam. Dengan saran Linda, Amalia berusaha menemukan minat dan potensi terbesar Aqil. ”Kami melakukan hiking setiap pekan sebagai terapi untuk Aqil,” tukas Amalia.

Sembari melakukan terapi Amalia melakukan penjajakan potensi Aqil. Akhirnya ditemukan bahwa Aqil memiliki imajinasi yang luas dan kemampuan melukis yang di atas anak rata-rata. Setiap pekan pula Aqil menghasilkan karya lukis baru yang kini telah dibukukan. Bahkan kisah hidup Aqil akan segera diluncurkan dalam sebuah film.

Bagi orang tua yang memiliki anak dengan disleksia, Linda berpesan agar segera ditangani kepada ahlinya, begitu anak tidak berkembang sebagaimana seharusnya pada anak seusianya. Selain itu, bersabar dalam proses. ”Jangan berpikir bahwa anakku bodoh atau mengeluarkan kata tersebut untuk menunjukkan frustrasi kita. Itu akan memberikan konsep diri yang buruk pada anak sehingga sulit berkembang kemudian,” tandasnya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 27 Juli 2015

Standard
Kesehatan, Parenting, Pola Tidur

Disiplinkan Waktu Tidur

KEBAYORAN LAMA—Mengantuk di siang hari rasanya sangat mengganggu pekerjaan. Sebagian orang bahkan bisa merasa ngantuk yang tidak tertahankan di siang hari sehingga langsung tertidur. Jika gangguan tersebut sering berulang, berhati-hatilah Anda mengalami penyakit gangguan tidur. Salah satunya Delayed Sleep Phase Syndrome (DSPS).

Kesehatan tidur seseorang sangat berpengaruh pada performa dan kesehatan tubuhnya. Menurut dokter spesialis tidur dr Andreas Prasadja kesehatan tidur orang Indonesia secara umum masih sangat buruk. Hal tersebut dilihat dari banyaknya orang Indonesia yang mengalami kantuk di siang hari. ”Kalau tidur cukup, nggak akan ngantuk,” ujar Andreas saat dihubungi Jawa Pos (26/7) kemarin.

Dia mengatakan, jangan langsung menganggap bahwa orang yang ngantuk itu pemalas. Mengantuk merupakan tanda adanya kebutuhan tidur yang belum terpenuhi. Tidak terpenuhinya waktu tidur tersebut salah satunya karena mengalami DSPS. DSPS merupakan gangguan tertundanya waktu tidur seseorang selama beberapa jam dari waktu tidur pada umumnya.

”Penderita DSPS misalnya berusaha tidur pada pukul 12 malam, namun sekuat apa pun dia berusaha baru bisa tidur satu sampai dua jam kemudian,” tutur Andreas.

Lebih lanjut, kata dia, gangguan tidur ini paling banyak dialami oleh remaja dan dewasa muda. Yakni di usia pubertas hingga pertengahan usia 20-an. Menurutnya ada dua faktor yang memengaruhi hal ini. Pertama, jam biologis tidur pada usia remaja dan dewasa muda adalah di atas jam 11. Bagi kalangan muda waktu malam adalah saat meningkatnya vitalitas untuk melaksanakan pekerjaan. Selain itu, faktor lainnya adalah perilaku tidur yang tidak disiplin.     

”Mereka tidak mengatur kesehatan tidurnya karena kehidupan sosial atau karena tugas. Sementara di waktu pagi mereka sudah dituntut ke sekolah atau berangkat kerja sehingga terjadi social jetlag,” tukas Andreas.

Dia menambahkan dalam jangka panjang durasi tidur yang kurang akan meningkatkan tekanan darah, risiko kanker, penyakit jantung, dan penyakit-penyakit metabolik. Selain itu juga bisa mengganggu aspek psikologis seperti depresi dan stres. Sementara, tidur yang cukup sangat penting untuk mengaktifkan konsentrasi, daya ingat, dan kreativitas. Andreas mengatakan kebutuhan tidur pada remaja dan dewasa muda adalah 8,5 sampai 9 seperempat jam per hari.

Untuk mengatasi gangguan DSPS Andreas menyarankan tidak perlu memaksakan tidur. Ada treatment yang dapat dilakukan sendiri. Yakni, pertama biasakan rutin tidur pada jam yang bisa dilakukan contohnya pukul 2 malam. Setelah rutin tidur pada jam tersebut, majukan waktu tidur 15 menit pada satu malam. Kemudian majukan 15 menit lagi pada malam berikutnya, begitu seterusnya hingga tercapai waktu tidur ideal yang mencukupi kebutuhan durasi tidur.

”Saat tidur buat kondisi tubuh merasa rileks dan nyaman. Bila sulit tidur jangan dipaksakan, bisa keluar sebentar barulah setelah merasa rileks mencoba tidur kembali,” tandas Andreas. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 26 Juli 2015

Standard
Kehamilan, Kesehatan, Perkembangan Anak

Stunting Pengaruhi Kemampuan Intelektual

SENEN – Persoalan stunting (anak bertubuh pendek) di Indonesia tergolong sebagai kasus kesehatan masyarakat yang berat. Itu juga diakui World Health Organization (WHO) dengan catatan telah melebihi jmlah 30 persen. Sedangkan, stunting di Indonesia pada 2010 mencapai 35,7 persen.  Menurut data riset kesehatan dasar (Riskesdas), angka tersebut menempatkan Indonesia berada di urutan kelima berdasar kontribusi terhadap beban global dari masalah stunting.

Stunting merefleksikan keadaan kurang gizi kronis pada anak. Hal tersebut menjadi perhatian utama karena dampak jangka panjangnya tidak dapat diubah. Dampak tersebut seperti, perawakan pendek saat dewasa, rendahnya produktivitas kerja, dan rendahnya pencapaian di sekolah.

”Pada kasus stunting ada sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan intelektual,” ujar Luh Ade Ari Wiradnyani saat ditemui pada acara promosi doktoralnya di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) kemarin (23/6).

Luh mengatakan, kasus stunting pada perempuan akan mempengaruhi ukuran panggul dan rahim, sehingga membatasi janin ketika dalam kandungan. Idealnya ibu hamil memiliki tinggi minimal 150 cm. ”Ibu yang stunting lebih berisiko melahirkan anak yang stunting pula,” tambahnya.

Luh menjelaskan bahwa pemerintah telah memiliki empat program untuk mengatasi masalah kekurangan gizi dan stunting pada anak. Program tersebut di antaranya konsumsi tablet tambah darah (TTD) pada ibu hamil, pemberian ASI pada bayi usia 0–6 bulan, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI), dan pemberian vitamin A kapsul pada balita.

Dalam penelitian yang dilakukan Luh ditemukan bahwa yang paling berpengaruh pada kasus stunting hanya dua dari empat program tersebut. Keduanya adalah konsumsi TTD pada ibu hamil dan pemberian MPASI pada anak usia 6–24 bulan.

Menurut Luh TTD seharusnya dikonsumsi sejak pemeriksaan pertama kehamilan (bulan pertama kehamilan). Untuk seterusnya dikonsumsi setiap hari hingga bayi lahir. Kategori kepatuhan konsumsi TTD ibu hamil adalah apabila melewati batas minimal 90 tablet selama kehamilan. Target tersebut masih rendah penerapannya di masyarakat. ”Dibutuhkan dukungan dari suami untuk sering mengingatkan ibu hamil mengonsumsi TTD,” tukas Luh.

Selain itu, pemberian MPASI juga masih sering diabaikan. Luh mengatakan, sebagian ibu mengira anak sudah kenyang dengan ASI. Namun, kandungan ASI tidak mencukupi kebutuhan gizi anak usia 6–24 bulan. Di dalam ASI ada beberapa mikronutrien yang tidak ada, seperti zat besi. Zat tersebut hanya bisa didapat dari makanan pendamping ASI, seperti sayuran. ”ASI tetap diberikan, tapi setelah 6 bulan harus ditambah MPASI,” tutur Luh.

Dia menambahkan, MPASI yang direkomendasikan WHO minimal mengandung empat kelompok makanan dari tujuh kelompok makanan yang dibutuhkan bayi. Tujuh kelompok makanan tersebut adalah sereal dan nasi, kacang-kacangan, susu, telur, daging atau ikan, sayur yang mengandung vitamin A, dan sayuran lainnya. ”Dalam sehari minimal anak mengonsumsi empat jenis kelompok makanan tersebut,” tandasnya. (uti/ind)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, diterbitkan di koran Jawa Pos-Metropolitan 24 Juni 2015

Standard
Diet dan Olahraga, Kesehatan

Olahraga saat Puasa Dianjurkan Pagi–Sore

JAKARTA – Meski sedang berpuasa, tapi tubuh tetap dianjurkan untuk bergerak aktif. Makanya, Olahraga saat puasa tidak dilarang, justru dianjurkan. Namun, harus tepat dalam pemilihan waktu berolahraga, durasi, serta jenis olahraga yang dilakukan.

Menurut ahli fisiologi olahraga dr Ermita I. Ilyas, olahraga saat puasa ada dua pilihan waktu yang baik. Yakni, saat pagi dan sore. Olahraga pagi di bulan puasa dianjurkan dilakukan tiga jam setelah sahur. Pada waktu tersebut energi dan glukosa yang tersimpan dalam tubuh masih banyak.

Namun, olahraga yang dianjurkan hanyalah olahraga ringan yang tidak mengeluarkan banyak keringat. Durasi ideal dilakukan selama 20 menit. ”Bisa dengan jalan kaki atau bersepeda,” ujar Ermita.

Sedangkan, pilihan waktu kedua, yakni setengah jam sebelum berbuka. Alasannya, saat kadar gula darah menurun bisa langsung dipenuhi kembali saat berbuka. Jenis olahraga yang dipilih juga olahraga ringan seperti berjalan dan bersepeda. Namun, bagi penderita diabetes tidak dianjurkan berolahraga saat sore hari. Sebab, saat tersebut kadar gula darah sedang rendah. Bagi penderita diabetes disarankan memilih waktu pagi sekitar 15–20 menit. ”Baik kalau bisa olahraga 3 kali seminggu saat puasa,” tutur Ermita.

Ermita menjelaskan, bahwa saat puasa penting bagi tubuh untuk bergerak aktif. Manfaat yang dirasakan adalah tubuh lebih segar, tidak lemas, dan tidak mudah mengantuk. Selain itu, kadar gula darah lebih stabil. Berbeda jika saat puasa dihabiskan dengan banyak tidur. Menurut Ermita, dengan tidur hormon adrenalin tidak keluar. ”Tubuh jadi tambah lemas dan gampang lapar karena kadar glukosa rendah,” ujarnya.

Hormon adrenalin dibutuhkan untuk memecah sumber energi dalam tubuh menjadi energi. Karena itu, saat beraktivitas dan bekerja aktif lapar saat puasa justru tidak terasa. Ermita menambahkan tidur sehabis sahur juga perlu diatur. Yakni, sekitar satu jam setelah sahur agar makanan dalam lambung sudah turun. Tidur saat puasa diperbolehkan jika waktunya tidak terlalu lama. ”Cukup 1–2 jam saat pagi atau siang agar menjadi cadangan energi di waktu malam,” tambahnya. (uti/ind)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 22 Juni 2015

Standard
Kesehatan, Saraf

Aktivitas Berulang Bisa Sebabkan Gangguan Saraf Neuropati

SAWAH BESAR—Gaya hidup sehari-hari yang sering berulang dapat menjadi penyebab risiko penyakit neuropati. Aktivitas yang dimaksud seperti bermain gadget, mengendarai motor, dan mengetik di komputer. Neuropati adalah kondisi gangguan dan kerusakan saraf yang ditandai dengan gejala seperti kesemutan, kebas, dan kram.

Berdasarkan hasil pemeriksaan 5.478 orang di Neuropathy Check Points Neurobion di 8 kota besar di Indonesia 1 dari 2 orang berisiko terkena neuropati. Bahkan 38 persen dari kelompok usia 20-29 tahun telah berisiko neuropati. Walaupun prevalensinya tinggi, awareness masyarakat terhadap neuropati masih sangat minim.

Menurut Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) Pusat dr Manfaluthy Hakim gerakan berulang–ulang pergelangan tangan ke atas dan ke bawah dapat menyebabkan tendon di pergelangan tangan mengalami peradangan. Kondisi itu akhirnya menekan saraf di daerah pergelangan tangan, yang jika berlangsung lama dapat menyebabkan neuropati.

Neuropati dapat dicegah dengan rajin melakukan olahraga teratur. Untuk itu diciptakan olahraga khusus sebagai upaya preventif neuropati sejak dini yang dinamakan neuromove. Neuromove diciptakan oleh para ahli yang terdiri dari spesialis kedokteran olahraga dan spesialis saraf.

Gerakan neuromove terdiri dari gerakan aerobik dan stretching untuk melatih saraf, melemaskan ketegangan otot, serta mengurangi back pain akibat duduk terlalu lama. Salah satu gerakan inti neuromove adalah gerakan menyilang antara gerak tangan dan bola mata. Manfaat merutinkan gerakan tersebut mampu meningkatkan kecepatan reaksi seseorang dan meningkatkan daya ingat.

“Neuromove adalah gerakan olahraga yang didesain khusus untuk mengaktifkan sel-sel saraf, baik saraf tepi maupun saraf pusat,” ujar dokter spesialis kedokteran olahraga dr Ade Tobing di Hotel Borobudur pada Kamis (28/5) lalu.

Lebih lanjut, Ade menjelaskan gerakan seperti menyilang batang tubuh, koordinasi bola mata, tangan, balance, dan fokus pada gerakan stretching dapat menghindari cedera. Gerakan neuromove dapat dilakukan di mana saja, khususnya pada saat beraktivitas seharian di kantor. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan gerakan ini sekitar 15-20 menit, atau hanya 5-10 menit untuk gerakan inti.

”Gerakan neuromove dapat membantu melemaskan otot dan saraf akibat tekanan tersebut, serta membantu mengaktifkan sel-sel saraf,” tambah Manfaluthy.

Selain mempraktikkan neuromove secara teratur, pencegahan neuropati harus dilakukan bersamaan dengan konsumsi vitamin neurotropik. Konsumsi vitamin neurotropik yang terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 akan membantu saraf bekerja dengan baik. “Selain itu, istirahat yang cukup juga penting untuk regenerasi sel saraf,” tukas Manfaluthy. (uti)

Standard
Kesehatan, Parenting

Tidak Sekadar Mandi, Tapi Stimulasi

SETIA BUDI—Setiap anak dalam masa tumbuh kembang patut mendapat perhatian terbaik dari orang tuanya. Termasuk bayi dalam usia 1—3 tahun. Kegiatan memandikan bayi dalam usia tersebut ternyata bukan suatu hal yang remeh. Namun, dapat memberi banyak manfaat kepada bayi jika dilakukan dengan benar.

Pada periode emas, yakni tiga tahun pertama sejak kelahiran,  otak anak berkembang sangat cepat. Otak terdiri dari jutaan neuron yang saling berhubungan satu sama lain. Semakin banyak hubungan neuron yang terbentuk, anak akan semakin pintar. Pembentukan koneksi antar neuron dapat dipicu dengan memberi banyak stimulasi, seperti suara, warna, rasa, dan bau.

Menurut psikolog Ayoe Sutomo, setidaknya ada dua manfaat dari kegiatan memandikan bayi, yang pertama terbentuk bounding emosi antara anak dan orang tua. Sedangkan yang kedua terjadi proses belajar pada anak, seperti mengenal beragam tekstur serta mengenali suara orang tua.

”Stimulasi pada anak dapat terjadi secara tidak sadar, contohnya ketika menidurkan bayi dengan nyanyian. Bayi belajar mengenal suara dan kemampuan musikal,” ujar Ayoe saat ditemui di Lotte Shopping Avenue dalam acara peluncuran produk shampoo bayi terbaru pada (27/5) kemarin.

Anak pada usia 1—3 tahun mengalami perkembangan motorik kasar yang pesat. Sehingga, selalu aktif bergerak ke sana kemari dan seakan tidak bisa diam. Untuk itu, kegiatan mandi setelah bermain perlu dilakukan dengan optimal karena dapat berpengaruh pada psikologis anak. Di antaranya, anak merasa segar dan bersih.

Menurut ahli tumbuh kembang anak dr Soedjatmiko, mandi yang benar dilakukan dengan tidak terburu-buru. Seringkali orang tua memandikan anak ala kadarnya karena alasan kesibukan. Hal itu dapat berakibat anak trauma untuk mandi. Salah satu akibatnya anak sulit diajak keramas misalnya. Ini senada dengan penjelasan Ayoe bahwa stimulasi yang baik adalah bila anak merasa senang.

”Stimulasi multi sensori sama pentingnya dengan kebutuhan ASI, gizi lengkap seimbang, dan imunisasi, ” tutur Soedjatmiko saat ditemui di acara yang sama.

Selain itu, Ayoe merekomendasikan saat anak mulai bisa berkomunikasi, yakni di atas usia tiga tahun, diterapkan aturan mandi. Anak perempuan dimandikan oleh ibu, sedangkan anak laki-laki dimandikan oleh ayah. Dari situ anak dapat dikenalkan pengetahuan seksual sejak dini. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 27 Mei 2015

Standard
Kehamilan, Kesehatan, Parenting

1000 HPK Pengaruhi 80 Persen Perkembangan Otak Anak

GONDANGDIA—Seribu hari pertama kehidupan (HPK) ternyata menjadi masa yang paling penting dalam proses tumbuh kembang seorang anak. Seribu HPK merupakan masa awal kehidupan seorang manusia yang dibagi menjadi tiga tahap. Yaitu, 9 bulan dalam kandungan (270 hari), 6 bulan masa pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif (180 hari), dan 18 bulan masa pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MPASI).

”Selama usia dua hingga tiga tahun pertama pertumbuhan otak berkembang 80 persen,” ujar dokter spesialis gizi Fiastuti Witjaksono ketika ditemui di kampanye Sarihusada bertajuk ‘Berdua Jadi Hebat’ di lapangan parkir Sarinah pada Minggu (24/5) kemarin.

Menurut Fiastuti seribu hari pertama merupakan masa krusial bagi pemenuhan gizi seorang anak. Selain sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak masa ini juga menentukan status kesehatan seseorang di masa muda. ”Jika gizi seribu hari pertama terpenuhi, dapat mengurangi risiko terkena penyakit di masa muda sebanyak 25 persen,” tambah Fiastuti.

Lebih lanjut, Fiastuti menjelaskan bahwa riset membuktikan salah satu penyakit yang mampu dihindari adalah penyakit jantung. Saat seribu hari pertama seorang anak membutuhkan nutrisi lengkap yang dibutuhkan untuk membentuk zat-zat tertentu, seperti hormon dan enzim. Jika salah satu zat ini tidak terbentuk dapat mengakibatkan pembuluh darah menjadi tidak lentur, kaku, dan berdinding tidak mulus. Pembuluh darah bekerja tidak optimal, sehingga nutrisi dalam darah tidak bisa teraliri dengan baik.

Selain itu, jika aliran darah ke otak tidak berjalan optimal, maka dapat memengaruhi perkembangan otak dan fungsi kognitif anak. Sedangkan, otak terdiri dari jaringan-jaringan saraf yang sangat banyak.

”Tidak cukup kuantitas bahwa anak merasa kenyang, tetapi harus diperhatikan kualitas dari sumber gizi yang diberikan,” tutur Fiastuti.

Menurut Fiastuti, sumber gizi yang harus tercukupi pada anak adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Karbohidrat berguna sebagai zat tenaga, protein berguna sebagai zat pembangun, serta lemak berguna sebagai sumber tenaga dan pertumbuhan otak.

Pada masa janin dalam kandungan sumber gizi tersebut disalurkan lewat makanan yang dikonsumsi sang ibu. Maka, ibu hamil harus memerhatikan kandungan gizi yang dia konsumsi tercukupi untuk kebutuhan ibu dan anak. Begitu pula saat 6 bulan masa pemberian ASI eksklusif. Pada masa selanjutnya, yakni pemberian ASI dan MPASI, sumber-sumber zat gizi tersebut diberikan secara bertahap kepada anak dalam bentuk makanan sesungguhnya. ”Usia 1 tahun anak sudah boleh makan makanan seperti orang dewasa,” tukas Fiastuti.

Sementara, sembari anak diberi makanan dengan nutrisi tercukupi, perlu pula dilakukan kontrol gizi untuk mengetahui status gizi anak. Anak harus ditimbang dan disesuaikan dengan usianya. Jika grafik kartu menuju sehat (KMS) menurun hingga mencapai tanda kuning, hal ini perlu diwaspadai. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 24 Mei 2015

Standard
Diet dan Olahraga, Kesehatan, Pola Makan

Olahraga Berat, Hati-Hati Overhidrasi

SENEN—Air adalah komponen terbanyak yang menyusun tubuh manusia. Sekitar 50—60 persen dari berat badan orang dewasa adalah air. Untuk itu setiap harinya manusia membutuhkan konsumsi air ideal sebanyak 2,5 liter (L) atau sama dengan 8 gelas. Namun, jika terlalu banyak meminum air dalam waktu singkat justru bias mengakibatkan overhidrasi. Overhidrasi bahkan bias berujung pada kematian.

Pengetahuan tentang overhidrasi masih minim di masyarakat. Berbeda dengan dehidrasi, yang merupakan kondisi kekurangan cairan tubuh. Overhidrasi terjadi saat seseorang minum berlebihan dalam waktu singkat. Sehingga, mengalami kelebihan cairan dan konsentrasi natrium dalam plasma darah menjadi sangat rendah.

Keadaan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal namun penyebab utama adalah minum berlebihan dalam jangka waktu cepat, misalnya 10—15 menit sebanyak satu liter. Kondisi itu sering ditemui saat olahraga atau kontes minum sebanyak-banyaknya. Selain itu, penyebab lainnya adalah penderita memiliki penyakit tertentu, gangguan hormon, dan obat-obatan.

”Kasus ini banyak terjadi pada orang yang melakukan olahraga berat, terutama atlet atau orang yang berolahraga dalam waktu lama,” ujar pakar fisiologi olahraga departemen fisiologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) Ermita I. Ilyas saat ditemui di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada Selasa (5/5) kemarin.

Ermita menuturkan pernah terjadi kasus overhidrasi di Amerika Serikat yang menyebabkan dua siswa SMA meninggal setelah latihan sepak bola. Kasus pertama penyakit ini terjadi pada pelari ultra marathon (90 km) wanita berusia 46 tahun pada 1981. Selanjutnya ditemukan lagi kasus yang sama pada tahun 1985 dan selama kurun tahun 1990an. Pada 2001—2014 setiap tahun kasus ini ditemukan.

Lebih lanjut, kata Ermita, banyak terjadi kesalahpahaman yang bisa menyebabkan overhidrasi. Banyak informasi yang beredar kurang detil tentang minuman olahraga (seperti minuman isotonik, Red). Minum sebanyak-banyaknya sebelum haus saat akan melakukan olahraga justru dapat menyebabkan overhidrasi. Selain itu Ermita juga berpesan agar tenaga medis di lapangan maupun di ruang gawat darurat perlu berhati-hati, mengingat maraknya lomba maraton. Pasien diberi cairan tambahan karena diduga mengalami dehidrasi.

”Overhidrasi menyebabkan sel-sel dalam tubuh mengembang. Yang paling fatal apabila sel yang mengembang adalah sel otak, akibatnya bisa berakhir higga kematian,” kata pakar gastroenterologi dr. Murdani Abdullah saat ditemui di tempat yang sama.

Menurut Murdani overhidrasi memiliki beberapa tingkatan, yaitu overhidrasi ringan, sedang, dan berat. Pada overhidrasi ringan gejalanya adalah mual dan kram. Overhidrasi ringan dapat ditangani secara mandiri dengan mengurangi konsumsi air dan memberi makanan yang asin pada pasien. Pada overhidrasi sedang gejalanya adalah sakit kepala, perut terasa penuh, kaki dan tangan serta jari-jari bengkak. Sedangkan overhidrasi berat memiliki gejala kejang-kejang, disorientasi, hilang kesadaran, koma dan dapat meninggal. Untuk overhidrasi sedang dan berat penanganan sebaiknya diserahkan pada pihak rumah sakit. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 5 Mei 2015

Standard
Kesehatan, Kewanitaan

Kurang Percaya Diri, Tulis Satu Kelebihan Setiap Hari

SETIA BUDI—Perempuan di usia remaja seringkali merasakan keresahan dan kurang percaya diri. Sebagian di antara mereka tidak tahu kelebihan dan potensi yang dimiliki. Hal itu dibenarkan oleh psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana.

”Mereka harus menghadapi tuntutan keluarga, pendidikan, lingkungan pergaulan, bahkan diri sendiri,” ujar Vera ketika ditemui di Hotel Gran Melia dalam acara “Berbagi Inspirasi Positif, Marina Gelar FUNtastic You” pada Selasa (5/5) kemarin.

Menurut Vera, remaja perempuan adalah masa yang dihadapkan dengan banyak perubahan dan pengambilan keputusan. Misalnya, menentukan jurusan mana yang akan dipilih di perguruan tinggi, konflik dengan teman, atau mulai minder dengan kondisi fisik sendiri.

Meningkatkan kepercayaan diri dapat dimulai dari memahami kelebihan dan potensi diri sendiri. Namun, kebanyakan remaja tidak mampu menyebutkan kelebihan dirinya. Karena itu, Vera berpesan agar remaja perempuan menuliskan satu kelebihan mereka setiap harinya dalam sebuah diary. ”Setelah beberapa lama, diary itu akan memunculkan semangat diri ketika dibuka lagi,” terang Vera.

Selain itu, di era digital ini semakin banyak faktor yang menyebabkan menurunnya kepercayaan diri pada remaja, misalnya lewat cyber bullying. Vera menjelaskan cyber bullying banyak terjadi pada sosok yang sangat menonjol, seperti public figure atau justru sesorang yang dianggap lemah. Jika kondisi ini sampai terjadi tindakan yang diambil sebaiknya membiarkan perbuatan bullying tersebut. ”Cuekin aja,” tukas Vera.

Tindakan bullying yang terjadi juga sebaiknya disimpan, misalnya melakukan screen capture pada komentar yang berbentuk bullying. Suatu saat hal itu bisa menjadi bukti jika telah sampai pada jalur hukum. Menurut Vera melakukan perlawanan terhadap bullying juga dapat dilakukan asal yakin bisa menjadi pihak yang lebih kuat.

Atas beberapa kondisi yang menimpa remaja perempuan tersebut, menurut Vera dibutuhkan empat hal. Pertama, penerimaan dari lingkungan tentang apa adanya diri mereka. Kedua, dukungan untuk mengembangkan diri sesuai minat dan bakat. Selanjutnya, kesempatan untuk mencoba hal baru dan mengembangkan potensi, serta apresiasi terhadap usaha terbaik mereka. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 5 Mei 2015

Standard