Feature

Vania Desiyanti, Pelari Urban dan Founder Komunitas Girlstogojkt

Oleh: Maruti Asmaul Husna Subagio

Vania Desiyanti mulai rutin melakukan olahraga lari sejak 2012 saat dirinya tinggal di Melbourne, Australia. Di negeri kangguru itu olahraga lari memang lebih membudaya dibanding Indonesia. Lama-kelamaan Vania semakin jatuh cinta pada jenis olahraga yang simple ini. Sepulangnya ke tanah air, Vania bersama seorang rekannya mendirikan komunitas girlstogojkt. Komunitas ini bertujuan memberi wadah bagi perempuan muda untuk lebih percaya diri menjadi pelari urban.

”Selama ini olahraga sangat relate ke laki-laki, padahal laki-laki atau pun perempuan is equal. Aku ingin menghilangkan stigma kalau perempuan nggak terlalu bisa olahraga,” ujar Vania.

Ada tiga karakteristik komunitas girlstogojkt yang membedakan dengan komunitas lari lainnya. Yaitu, perempuan, muda, dan newbie. Vania dan Amelia Kalista (co-founder) memang mencoba merangkul perempuan muda yang masih tergolong pemula dalam olahraga lari. Mereka berdua mendirikan komunitas ini pada 8 Maret lalu, bertepatan dengan peringatan International Women’s Day.

”Karena masih baru, kita belum berani bikin membership. Jadi memang sifatnya tidak mengikat, kami sangat terbuka untuk siapa saja yang mau ikut,” tutur Vania.

Dia menjelaskan, selama ini menggunakan media instagram untuk menghimpun peserta lari. Setiap acara tidak kurang dari 30 hingga 50 peserta yang datang. Mereka terbiasa melakukan lari di daerah SCBD, Senayan, dan Gandaria. Peserta yang sudah pernah ikut akan mendapat kabar acara melalui mailing list (milis). Kata Vania, ke depan mereka mungkin akan membuat membership.

Para pelari pemula tersebut memulai latihan lari dengan jarak 7 km. Setiap agenda lari bersama dilengkapi dengan dynamic work out dan brunch. ”Ketika brunch itu kita jadi banyak ngobrol, kenal satu sama lain, dan lebih PD karena ada teman,” tukas Vania.

Ketika ditanya tentang motivasi, Vania bercerita olahraga lari memberi dampak kesehatan yang besar pada dirinya. Selain itu, berhubungan juga dengan latar belakang ilmu Vania yang merupakan lulusan sosiologi. Dia menempuh pendidikan S1 di University of Melbourne pada 2009—2013 dan S2 di University of Manchester pada 2014—2015.

”Di sosiologi aku belajar tentang gender. Jadi lewat komunitas ini juga ingin mempraktikan ilmu ke bentuk yang lebih real, bahwa olahraga bisa untuk siapa saja,” tandasnya.

Menurutnya, setiap perempuan, walaupun punya keluhan overweight atau kurang tinggi, jadi lebih percaya diri dengan bergabung di komunitas. Sebagai founder tentunya Vania sekaligus berperan sebagai teladan bagi para rekannya. Perempuan yang bekerja sebagai analis di perserikatan bangsa-bangsa (PBB) ini mengaku rutin lari 3x seminggu. Yaitu, setiap selasa, kamis, dan minggu. Masing-masing minimal 5—10 km.

Pengalaman lari terjauhnya pernah ditorehkan ketika mengikuti half marathon di Amsterdam. Yakni, sejauh 21 km. Di sana dia berkenalan dengan banyak anggota run community. ”Seru, tiap km ada yang cheering,” ujarnya.

Cedera karena over train pun pernah Vania alami. Menurutnya itu terjadi karena dia terlalu banyak berlatih dan kurang memerhatikan asupan nutrisi. Dari lari Vania mengambil pelajaran, ada kalanya kita harus push our self dan ada kalanya lebih respect our body. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 30 Agustus 2015

Standard
Feature

Sigit Kusumawijaya, Arsitek Hijau dan Inisiator Indonesia Berkebun

Rumah dengan pekarangan hijau membentang adalah suatu kelangkaan di perumahan kota. Namun, di tangan arsitek muda Sigit Kusumawijaya bukan mustahil mewujudkan hal itu. Baginya, lahan terbatas bukan masalah untuk memiliki rumah asri lengkap dengan kebun keluarga yang menyejukkan dan sekaligus mampu mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Dia banyak terinspirasi dari komunitas Indonesia Berkebun yang didirikan bersama rekan arsitek dan berbagai kalangan profesi lainnya.

MARUTI ASMAUL HUSNA SUBAGIO

Mewujudkan lingkungan hidup yang lebih berkualitas adalah salah satu tugas arsitek. Bicara tentang wilayah perkotaan yang terbayang mungkin hanya bangunan rapat yang seakan berebut ruang untuk bernapas. Pemandangan hijau dari kebun-kebun yang menghasilkan sumber makanan seakan berhenti sebatas impian warga kota. Namun, komunitas Indonesia Berkebun membuktikan hal lain. Dengan mengusung konsep urban farming komunitas yang berdiri sejak Oktober 2010 ini berhasil mendekatkan kebun di tengah-tengah perumahan kota yang padat.

Lahir dari ide 20 inisiator lintas profesi, Indonesia Berkebun semakin eksis hingga saat ini. Di antara inisiator tersebut sebagian besar berprofesi sebagai arsitek. Sigit Kusumawijaya adalah salah satunya. Saat itu dia baru pulang dari Belanda setelah menempuh pendidikan S-2 di Delft University of Technology (TU Delft), Belanda. Ridwan Kamil, sang inisiator yang juga sama-sama mempunyai latar belakang di bidang arsitektur, mengajak Sigit dan teman-teman lainnya untuk sama-sama merintis dan menginisiasi gerakan komunitas dengan nama Indonesia Berkebun (akun twitter: @IDberkebun).

Saat ini dari 20 inisiator tersebut hanya sekitar tiga orang yang masih aktif hingga sekarang, termasuk salah satunya Sigit. Namun, generasi penerus Indonesia Berkebun terus berkembang. Salah satunya karena komunitas ini menggunakan basis utama melalui media sosial.

Sejak satu bulan pertama diluncurkan, akun twitter @JktBerkebun, sebagai jejaring pioneer dari Indonesia Berkebun, sudah diikuti sekitar 1000 followers. Jumlah tersebut menjadi berlipat ganda sejak Jakarta Berkebun melakukan launching Tanam Perdana pada 20 Februari 2011. ”Lupa saat itu melonjak jadi berapa, tetapi sekarang jumlah follower-nya sudah 13 ribu, sedangkan follower Indonesia Berkebun sendiri sudah mencapai 108 ribu,” tutur Sigit.

Menurutnya, sejak diluncurkan Indonesia Berkebun memang mendapat euforia yang besar. Belum lagi dilihat dari follower akun twitter Indonesia Berkebun cabang berbagai kota, yang jumlahnya pun masing-masing ribuan. Selain twitter, komunitas ini juga banyak menyebarkan edukasi lingkungan hijau melalui media sosial lainnya seperti facebook, instagram, youtube dan lain-lain.

Tentunya tidak hanya media sosial, gerakan utama Indonesia Berkebun adalah mengajak warga kota untuk turun ke lapangan berkebun bersama di lahan perkotaan. Sejalan dengan tujuan mereka menyebarkan semangat positif untuk lebih peduli kepada lingkungan dan perkotaan dengan program urban farming. Yaitu, memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan yang diubah menjadi lahan pertanian/perkebunan produktif yang dilakukan oleh peran masyarakat sekitar. Saat ini Indonesia Berkebun sudah berkembang dan menularkan semangat ini di 43 jejaring yang terdiri dari 34 kota dan 9 kampus di Indonesia.     

”Banyak lahan di perkotaan yang tidak terpakai malah jadi tempat kumuh dan pembuangan sampah,” tukas Sigit.

Lewat program yang dijalankan Indonesia Berkebun mereka menjalankan tiga kata kunci, yaitu ekologi, edukasi, dan ekonomi. Dengan menghidupkan kembali lahan-lahan tak terpakai di perkotaan mereka berupaya meningkatkan kualitas ekologi lewat pelestarian lingkungan dan air. Kemudian, mengajak masyarakat setempat berperan serta merawat kebun sambil melakukan edukasi lingkungan. Hasil kebun yang dipetik bisa membantu masyarakat meningkatkan ketahanan pangan. Sehingga, tidak perlu membeli ke luar beberapa jenis tanaman yang sudah tersedia di kebun.

Sigit bercerita pengalaman pertama mereka meminjam lahan di kawasan Springhill Residence Kemayoran. Developer yang meminjamkan lahan ternyata sangat welcome dan koopoeratif. Mereka dipinjami lahan seluas 1 hektar. Karena sangat luas, yang dipakai untuk berkebun hanya setengahnya. ”Bahkan developernya menyediakan tukang kebun,” tandas Sigit.

Berbekal pengetahun tentang pertanian yang seadanya, Sigit bercerita dia dan sesama pegiat komunitas mengawali berkebun dengan tanaman yang tangguh dan bandel alias mudah dirawat dan ditanam. Saat itu mereka memilih menanam kangkung. ”Dari sekian banyak yang ditanam ternyata tidak semuanya tumbuh,” kenang Sigit sambil setengah tertawa.

Target dari komunitas Indonesia Berkebun adalah masyarakat urban yang tinggal di perkotaan. Sehingga, Sigit dan para punggawa Indonesia Berkebun perlu memikirkan konsep yang tepat bagi mereka. Agar anggota lama bertahan, konsep berkebun harus fun. Terkadang mereka mengadakan cooking on the spot dari hasil kebun yang dipetik. Kadang juga berkebun sembari diiringi alunan musik, atau mengundang komunitas lain untuk saling berbagi.

”Anggota yang anak muda juga sering selfie di kebun, kemudian diunggah di media sosial. Mungkin lebih banyak selfie-nya daripada berkebun. Tapi nggak apa-apa, yang penting fun dan mereka bisa jadi corong di media sosial, karena anak-anak muda itulah yang sangat aktif di media-media sosial,” jelas Sigit. 

Sudah lima tahun berdiri Sigit mengaku komunitas Indonesia Berkebun sudah menjadi suatu keluarga baru. Banyak kisah yang terjalin antara sesama anggota. Termasuk contohnya ada 5 pasangan anggota yang sudah menikah. ”Awalnya mereka bertemu di kebun dan lama-kelamaan menjalin interaksi,” cerita Sigit.

Bagi dirinya pribadi pun aktivitas Indonesia Berkebun banyak memengaruhi karya-karya arsitektural yang dia ciptakan. Lulusan sarjana teknik dari Universitas Indonesia ini bercita-cita memperkaya konsep green architecture. Salah satunya mengintegrasikannya dengan konsep urban farming. Dari situ bisa mendekatkan masyarakat dengan sumber makanan. Dia berharap hal ini ikut mengantisipasi isu krisis pangan yang sering berkembang.

Sigit bisa dibilang arsitek yang sensitif dengan isu kemanusiaan. Dalam karya thesis-nya Sigit mengangkat persoalan restrukturisasi kampung kumuh di Cape Town, Afrika Selatan. Selama dua minggu dia berkunjung ke negara kulit hitam tersebut.

Saat ini Sigit juga menjadi principal architect di perusahaan konsultan yang ia dirikan dengan nama sigit.kusumawijaya | architect & urbandesigner (www.sigitkusumawijaya.com). Isu ketahanan pangan menjadi sorotan dalam konsep green architecture dalam karya-karya Sigit. Dia menganggap green architecture tidak sebatas penghematan energi dan penambah nilai estetika saja, namun juga yang bisa memenuhi kebutuhan pangan penghuni bangunan tersebut secara sustain, khususnya sayuran. Dia memperkuat karya-karya desain tersebut dengan riset yang sekarang dia lakukan. Yang bertujuan menghitung kebutuhan pangan seisi penghuni rumah dapat tercukupi melalui desain urban farming.

”Kebun di rumah tidak harus di pekarangan, bisa juga diintegrasikan dengan atap (rooftop garden) bahkan fasad rumah (vertical garden),” tukas Sigit.

Sebagai arsitek muda dengan setumpuk prestasi, Sigit menyimpan harapan untuk dunia arsitektur Indonesia. Salah satunya, saat ini dia menjadi anggota Executive Steering Committee (SC) untuk Atap Jakarta-House Vision Indonesia, sebuah organisasi yang fokus melakukan riset “hunian masa depan” di Jakarta.

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 15 Juli 2015

Standard
Feature

Arief Rahman, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia di Karimunjawa

Sedikit masyarakat yang peduli dengan lingkungan tempat tinggalnya. Lebih sedikit lagi yang tergerak menjadi penggagas kelestarian lingkungan tersebut. Kontribusi ARIEF RAHMAN sebagai penggagas Himpunan Pramuwisata Indonesia di tempat tinggalnya, Karimunjawa perlu diacungi jempol. Sejak didirikan pada 2005 hingga kini dia masih menjabat sebagai ketua perhimpunan tersebut.

MARUTI ASMAUL HUSNA SUBAGIO

Tiba di Karimunjawa Anda akan disuguhi lautan jernih yang tampak sampai ke dasarnya. Pantai berpasir putih jadi tempat yang menenangkan sembari memandang ke lautan biru di depan. Tak heran Karimunjawa selalu ramai didatangi wisatawan dari dalam negeri maupun mancanegara. Objek wisata paling terkenal di pulau ini adalah snorkeling. Laut Karimunjawa menyimpan harta karun berupa kekayaan biota laut.

Setiap pekannya terdapat 1500—2000 wisatawan yang berkunjung ke pulau yang termasuk dalam Kabupaten Jepara, Jawa Tengah ini. Mereka datang silih berganti. Seolah wisatawan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pulau berpenduduk sekitar 10.000 orang itu. Tamu adalah raja, kata mereka. Bahkan, listrik bertenaga diesel di Karimunjawa yang hanya dinyalakan setengah hari mereka prioritaskan untuk mencukupi kebutuhan para tamu hotel atau homestay.

Di tempat penginapan tersebut setiap kamar rata-rata memiliki fasilitas TV dan AC. Sementara, rumah warga ala kadarnya. Hotel dan homestay memang menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat di Karimunjawa. Menurut Arief Rahman selaku Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia di Karimunjawa setiap tahun sekitar 10 tempat penginapan baru dibangun di pulau ini.

Banyaknya potensi wisata di Karimunjawa ini membuat laki-laki paruh baya tersebut bersama beberapa rekannya menggagas Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) di Karimunjawa. Pertama kali didirikan pada 9 April 2005, menurut Arief perhimpunan ini berawal dari arahan dinas pariwisata Provinsi Jawa Tengah. Namun, seiring berjalannya waktu campur tangan dinas tersebut mulai luntur. Bahkan Arief menyayangkan tidak adanya pembinaan yang dilakukan dinas pariwisata setempat pada anggota HPI Karimunjawa beberapa tahun terakhir.

Meski sudah 10 tahun berjalan sendiri Arief bertahan ditunjuk sebagai ketua himpunan tersebut. Kini dia membawahi 160 anggota HPI yang semuanya merupakan penduduk asli Karimunjawa. Mereka direkrut setelah berusia 17 tahun. ”Antusiasme pemuda Karimunjawa untuk masuk HPI saat ini semakin besar,” ujar Arief.

Sebagai kawasan destinasi dunia yang mulai dikenal sekitar dua dekade terakhir Karimunjawa banyak dilibatkan dalam event nasional maupun internasional. Peran HPI cukup besar dalam hal ini sebagai tuan rumah yang menyiapkan kebutuhan wisatawan. Beberapa event tersebut contohnya Sail Indonesia yang diadakan tiap tahun, yang terbaru akan dilaksanakan pada 29 Oktober mendatang. Dalam event tersebut sebanyak 22 kapal dari berbagai negara akan melintasi Darwin, Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan Karimunjawa. Salah satu tujuannya adalah mempromosikan Indonesia termasuk Karimunjawa kepada dunia internasional. Kemudian lomba mancing se-Indonesia yang akan digelar pertengahan Oktober pula. 

Program rutin HPI lainnya adalah bersih-bersih pantai setiap hari Jumat dan menjadi guide bagi wisatawan. Awalnya setiap 15 wisatawan diberikan 1 orang guide, namun seiring bertambahnya anggota HPI 1 orang guide hanya boleh bertanggungjawab atas 10 wisatawan. ”Supaya lebih aman untuk wisatawan sendiri sekaligus pemberdayaan anggota HPI,” tukas Arief yang mengusulkan perubahan ini.

Arief termasuk tegas dalam menegakkan prosedur keamanan bagi siapa pun wisatawan di Karimunjawa. Pernah sebuah rombongan yang merupakan anggota DPR komisi tertentu datang ke Karimunjawa sekitar 17 orang. Saat berlayar mereka tidak menggunakan life jacket. Arief bercerita salah satu di antara mereka berujar, ”Saya kan DPR,”. Namun dia tidak takluk dan menimpali, ”Justru DPR harus mencontohkan masyarakat.”

Dia sering memeringati wisatawan untuk menaati prosedur keamanan di laut, termasuk life jacket. Belajar dari pengalaman pahit seorang mahasiswa yang harus melepas nyawa pada 2001 karena tidak menggunakan benda pengaman tersebut.

Tidak cukup sampai di situ, Arief juga sering mendampingi nelayan yang mengalami cedera untuk berobat ke rumah sakit. Biasanya mereka mengalami keluhan setelah menyelam tanpa menggunakan alat selam yang sesuai standar.

”Banyak nelayan yang menyelam pakai compressor, padahal ini sangat berisiko bagi kesehatan,” tukasnya.

Para nelayan tersebut seringkali menyelam 2—3 jam di dalam laut menggunakan compressor. Padahal menurut standar menyelam hanya diperbolehkan 1 jam. Akibatnya banyak di antara nelayan tersebut yang mengalami dekompresi (berjalan seperti robot), lumpuh, bahkan bisa menyebabkan kematian. Rumah sakit yang mampu menangani keluhan tersebut hanyalah rumah sakit TNI Angkatan Laut. Menurut Arief yang terdekat di Lakesla TNI AL, Surabaya.

Arief juga telah mengantongi enam jenjang sertifikat menyelam dari tujuh sertifikat selam yang ada. Perolehannya merupakan yang tertinggi di antara para anggota HPI yang lain, yakni A1 hingga A3 dan B1 hingga B3 untuk jenjang instruktur. Kualifikasinya bermacam-macam seperti sertifikasi menyelam secara independen, menyelam di laut gelap, dan juga instruktur selam.

”Kalau di darat istilahnya seperti SIM (surat izin mengemudi, Red),” papar Arief.

Harapan Arief untuk Karimunjawa, terutama perbaikan pada sektor transportasi. Sebagai ketua HPI dia sering menerima keluhan wisatawan yang tidak bisa pulang tepat waktu ke tempat asalnya. Hal itu dikarenakan kondisi ombak di laut Karimunjawa yang berubah-ubah. Pada kondisi ombak yang besar kapal tidak bisa dipaksakan berlayar.

”Banyak wisatawan yang sudah merencanakan jadwal kepulangan terpaksa diundur. Saya harus buatkan surat izin ke kantor tempat mereka bekerja karena tertahan di Karimun,” tandas Arief.

Karena itu dia berharap pada sektor transportasi udara. Saat ini baru ada Susi Air tetapi hanya terbang pada Kamis dan Jumat, sementara wisatawan banyak yang pulang di hari Minggu. ”Semoga jadwal terbang bisa ditambah,” tutur Arief.

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 7 Juli 2015

Standard
Feature, Parenting

Maria Ernie, Lihai Menyulam dengan Satu Tangan (Kisah Lansia di Panti Jompo)

Langit cerah dan matahari sedang banyak melimpahkan sinarnya. Suasana siang biasanya dimanfaatkan oleh orang lanjut usia (lansia) untuk beristirahat. Apalagi yang sudah mencapai usia kepala delapan. Namun, di dalam Panti Sasana Tresna Werdha Karya Kasih Maria Ernie (82 tahun) masih giat melanjutkan sulaman taplak meja terbarunya.

Saat Jawa Pos mendatangi panti tersebut, tampak satu dua lansia yang berada di luar kamar. Seorang oma sedang menonton drama di televisi. Sementara, oma yang lain baru saja menerima kiriman makanan dari sang anak. Selesai memberikan makanan dan menyapa sang ibu, anak tersebut meninggalkan panti menggunakan sepeda motornya. Sejauh mata memandang di koridor panti hanya ada para lansia yang beraktivitas sendiri-sendiri.

Di sebuah kamar yang berseberangan dengan kantor sekretariat panti, seorang oma tampak duduk memangku selembar kain. Di sampingnya terletak benang warna kuning dan gunting. Pandangannya tidak bergerak dari kain tersebut. Dialah Oma Maria Ernie atau yang biasa dipanggil Oma Ernie.

Oma Ernie tampak lihai menusukkan benang dan jarum mengikuti pola bentuk bunga berwarna kuning. ”Lagi buat taplak meja,” ujarnya.

Sekilas tidak ada yang terlihat berbeda. Meski semua orang yang melihat mungkin akan terkagum di usia yang sedemikian lanjut dia masih bisa menghasilkan karya. Namun, saat Oma Ernie berdiri mengambil jatah snack yang disediakan pengurus, saya terkejut dalam hati. Tampak tangan kiri Oma Ernie sudah tidak lengkap lagi. Tangan itu telah kehilangan jari-jemari hingga lengan sebatas siku. Ternyata sedari tadi Oma Ernie menyulam hanya dengan satu tangan yang masih lengkap.

”Dulu pernah kanker tulang jadi diamputasi,” tutur perempuan kelahiran 26 Maret 1933 ini.

Oma Ernie bercerita dia mengalami kanker tersebut sekitar dua puluh tahun lalu. Namun, kondisi itu tidak menyurutkannya untuk produktif berkarya. Selama di panti dia telah menghasilkan puluhan prakarya. Dia diajari oleh seorang pelatih yang didatangkan oleh pengurus panti. ”Kalau sudah selesai ini dijual,” tukas Oma Ernie.

Mungkin yang dibayangkan orang-orang lansia yang tinggal di panti werdha tidak bahagia. Tetapi hal itu tidak tampak pada Oma Ernie saat itu. ”Anak masih ada di Jakarta, sering juga jenguk ke sini,” tandasnya.

Menurut catatan pengurus panti Oma Ernie adalah penghuni yang paling lama tinggal di sana. Sudah 16 tahun dia habiskan sebagian besar kehidupan di panti itu. Beberapa bulan sekali dia menginap di rumah sang anak. Dari pihak pengurus pun memiliki program membawa para lansia menginap di luar kota setiap dua tahun sekali. Itu sebagai program rekreasi mereka. Oma Ernie menyebutkan sudah pernah diajak ke beberapa tempat wisata seperti Puncak, Anyer, Cibubur, dan Ancol.

Ditanya mengenai rahasia tetap sehat di masa tua Oma Ernie menjawab intinya jangan bengong. Isi waktu dengan aktivitas menyenangkan. Sehari-hari Oma Ernie terbiasa tidur di bawah pukul sembilan malam dan bangun pada pukul empat pagi.

(Tambahan dari sisi pengurus):

Sehari-hari para lansia pun diberi makanan yang mendapat rekomendasi ahli gizi. Sekretaris Panti Sasana Tresna Werdha Karya Kasih Widyanti Rafael Djari menyebutkan setiap pagi para lansia mengikuti agenda kebaktian. Dilanjutkan dengan sarapan dan aktivitas bebas. Sebagian ada yang suka berkebun, ada juga yang memilih berbelanja ke luar. ”Untuk lansia yang perlu pendampingan, saat berbelanja keluar didampingi pengurus,” tutur Widyanti.

Dalam sepekan, Panti Sasana Tresna Werdha Karya Kasih memiliki dua agenda khusus. Yakni membuat prakarya pada hari selasa dan bermain angklung pada hari rabu. Sudah beragam jenis prakarya yang dihasilkan dari panti werdha berisi 30 lansia perempuan ini. Mulai dari tas daur ulang, sulam-menyulam, dan kerajinan osibana (hiasan bunga kering).

Widyanti menuturkan lansia yang dititipkan di panti masih memiliki keluarga. Alasan dititipkannya bermacam-macam. Pada kondisi seorang lansia, dia memiliki lima anak yang empat di antaranya tinggal di luar negeri. Oma tersebut menolak ketika diajak tinggal di luar negeri karena tidak tahan dengan iklimnya yang dingin.

”Di sini saya merasa ada panggilan hati,” tukas Widyanti. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 13 Juni 2015

Standard
Feature

Satu Senyum, Komunitas Pasien dan Keluarga Penyandang Celah Bibir dan Langit-Langit

Satu Senyum merupakan sebuah komunitas yang mempersatukan para penyandang celah bibir dan langit-langit (CBL). Dulu, CBL dikenal dengan nama bibir sumbing. Komunitas ini baru diresmikan 3 November 2013. Namun, hingga kini sudah terhimpun ratusan anggota. Mereka saling berbagi.

Maruti Asmaul Husna Subagio

JARI lentik Fina tampak lihai memetik senar gitar yang dimainkan di atas panggung. Matanya berbinar, meski bibirnya hanya bisa tertutup. Keterbatasan sebagai penyandang celah bibir dan langit-langit (CBL) membuatnya sulit bernyanyi.

Pagi itu, dia membawakan lagu Jangan Menyerah. Dia dibantu seorang penyanyi untuk mendendangkan judul lagi tersebut. Alunan musik yang terdengar dari petikan gitarnya mengalir merdu. Lewat sinar matanya, tampak ada pancaran semangat yang ingin ditularkan kepada para penonton.

Di bawah panggung, Yenny sibuk dengan kameranya. Dia membantu Fina mendokumentasikan pertunjukan pertama sahabatnya itu. Dari komunitas Satu Senyum lah, dara manis berkulit putih ini saling kenal. Fina dan Yenny berkumpul dalam gathering komunitas Satu Senyum.

Tidak hanya Fina dan Yenny, Minggu pagi itu banyak juga anggota penyandang CBL yang datang ikut gathering. Mereka dari beragam keluarga dan usia. Anak-anak penyandang CBL juga terlihat asyik bermain dan berlari-lari. Tidak ada gurat minder yang tampak. Membaur dalam rajutan kebersamaan.  ”Saya jadi merasa tidak sendirian lagi,” ujar Fina yang lahir di Jakarta pada 10 Maret 1987 itu.

Fina pun bercerita. Termasuk tentang pengalaman operasi pertamanya. Namun, operasi tidak berlanjut. Perubahan wajahnya ke kondisi normal pun belum selesai. Nah, pada 2014, Fina mencoba mencari informasi operasi CBL melalui internet. Dia menemukan website komunitas Satu Senyum.

Selanjutnya, dia langsung diajak bergabung ke komunitas tersebut melalui grup Whatsapp dan Faceboook. Setelah mendapat rekomendasi dari teman-temannya di komunitas itu, akhirnya Fina menjalani operasi kedua pada tahun yang sama. Dari Satu Senyum pula Fina memiliki sahabat dekat yang juga senasib. Dia adalah Yenny.

 Fina dan Yenny kali pertama bertemu setelah diperkenalkan oleh terapis wicara mereka. Yakni, Rita Rahmawati. Perkenalan keduanya saat berada di rumah sakit. ”Minimal tidak merasa sendiri, senang bisa ketemu teman yang sama,” ungkap Fina.

Tidak sebatas rekan di komunitas. Keduanya juga saling berbagi untuk bisa mewujudkan mimpi menjadi pengusaha. Saat ini, Yenny masih kuliah di jurusan manajemen Universitas Trisakti. Sementara Fina sudah bekerja sebagai tenaga administrasi di perusahaan keluarga. Nah, karena pertemanan, sering Fina menitipkan barang jualannya kepada Yenny untuk ikut memasarkannya. ”Yenny pintar dalam marketing,” tandas Fina.

Dua karib itu memiliki sedikit perbedaan dalam kasus CBL yang dialami. Yenny mengalami palatositis atau celah langit-langit. Dia sudah menjalani operasi pertama pada usia 5 tahun di Singapura. Namun, dari operasi pertama dokter yang menangani tidak tahu bahwa penyandang palatositis harus menjalani terapi wicara. Barulah pada usia 15 tahun, Yenny menjalani terapi wicara. Operasi kedua dilakukan lagi satu tahun yang lalu.

”Setelah operasi terapi wicara lebih intens, dan sampai sekarang masih dijalani,” tukas Yenny.

Beda lagi dengan yang dialami Fina. Dia mengalami kasus CBL tidak hanya pada langit-langit, tetapi juga bibir. Kasus ini lazim disebut labiopalatositis. Sama seperti yang dirasakan Yenny, Fina juga menjalani terapi wicara sampai saat ini.

Terapi tersebut mereka lakukan untuk menghilangkan suara sengau pada penyandang CBL. Suara sengau pada CBL tidak bisa dihilangkan hanya dengan operasi. Namun, harus melalui terapi wicara. Tujuannya melatih fungsi organ langit-langit mulut mereka.

Atas rekomendasi dari rekan-rekan di komunitas Satu Senyum, Fina melakukan terapi wicara pascaoperasi kedua. Operasi tersebut dilakukan pada 27 Oktober tahun lalu.

Menurut Fina, saat terapi dilatih untuk menyebutkan huruf-huruf yang sulit dilafalkan oleh penderita CBL. Misalnya, p, b, g, dan d. ”Sejak awal terapi hingga sekarang sudah ada kemajuan,” tutur Fina.

***

Sejak diresmikan pada 3 November 2013 lalu, komunitas Satu Senyum berhasil menghimpun banyak anggota. Setidaknya sudah lebih dari 400 orang. Mereka berasal dari berbagai kota di Indonesia. Mulai Jakarta, Palembang, Medan, Jambi, Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Tingginya peningkatan jumlah anggota Satu Senyum menjadi satu bukti keterbatasan informasi tentang CBL. ”Nah, komunitas Satu Senyum ini berupaya ikut mengampanyekan perawatan dan penanganan yang tepat pada kasus CBL,” ujar Dwi Chahyaningsih, ketua komunitas Satu Senyum.

Dwi mengatakan, pihaknya bersama rekan-rekan Satu Senyum siap bertindak sebagai pusat dukungan dan informasi tentang perawatan CBL. Yang disasar adalah para orang tua dan penyandang CBL di seluruh Indonesia. Kasus CBL tidak boleh dianggap remeh. Menurut dia, kasus CBL seringkali berpengaruh pada beberapa gangguan bagi para penyandangnya. Misalnya, sulit mengunyah dan menelan, gangguan pertumbuhan dan perkembangan rahang, pendengaran, efek psikologis, dan fungsi bicara.

”Bahkan masih banyak dokter yang tidak tahu jika penyandang CBL seharusnya menjalani terapi wicara pasca operasi,” tukas Dwi.

Lewat Satu Senyum, pihaknya memberikan rekomendasi dokter dan rumah sakit yang berpengalaman menangani pasien CBL. Selain itu, juga memberikan dukungan moral kepada para anggotanya. Hampir setiap hari grup Whatsapp komunitas ini ramai dengan cerita-cerita para anggota. Mereka berbagi keluh kesah dan saling memberi dukungan. ’’Seru jadinya,’’ kata Dwi.

Dwi lantas bercerita kelahiran komunitas Satu Senyum itu. Enam tahun lalu, dia melahirkan Bintang Aditya Rahman juga dalam kondisi CBL. Buah hatinya yang berjenis kelamin laki-laki itu mengalami kelainan median cleft with hipertolerism. Kasus tersebut tergolong langka. Hanya dialami oleh satu dari 10.000 anak yang lahir.

Pasca kelahiran Bintang, saat itu Dwi ingin segera member penanganan terbaik bagi anaknya. Namun, sudah berpuluh-puluh dokter yang didatangi tidak bisa menangani kasus tersebut. Dalam keadaan sulit tersebut, dalam benak Dwi pun menebar janji tersendiri. Dia ingin membantu orang tua lain yang memiliki anak dengan kasus CBL.

Setelah bertemu Diah Asri, yang juga memiliki anak dengan kasus CBL, keduanya berinisiatif untuk mengadakan kopi darat. Tentu saja  bersama orang tua yang mengalami pengalaman serupa. Kopi darat pertama berlangsung sukses dengan mengundang dokter ahli CBL, dokter telinga hidung tenggorokan (THT), dokter gigi, dan terapis wicara.

Dari pertemuan itulah para dokter memberikan saran untuk membentuk sebuah kepengurusan resmi. Dalam beberapa pertemuan berikutnya terpilihlah Dwi sebagai ketua komunitas, Diah sebagai wakil ketuanya. Komunitas tersebut juga bekerja sama dengan para dokter dan terapis wicara yang siap mendampingi.

Menurut Dwi, penanganan CBL yang terbaik adalah dilakukan sedini mungkin. Dengan begitu, peluang penyembuhan secara fisik dan fungsi bicara lebih besar. Kondisi CBL sudah dapat dideteksi sejak bayi dalam kandungan.

Pada usia 3 bulan pasca kelahiran, seorang bayi CBL sebaiknya mendapat penanganan operasi bibir. Selanjutnya, setelah menginjak usia 1,5 tahun, penyandang CBL direkomendasikan menjalani operasi langit-langit. Kedua operasi itu hanya mengubah penampilan fisik. Berikutnya, perlu penanganan terapi wicara untuk mendapatkan fungsi bicara yang optimal.

Bahkan, beberapa anggota Satu Senyum adalah para ibu hamil yang didiagnosis janinnya mengalami CBL. Karena itu, penanganannya dapat dilakukan sedini mungkin dengan hasil optimal. ’’Masih banyak orang tua atau penyandang CBL yang belum tahu penanganan kasus CBL. Perawatan idealnya dilakukan sejak bayi hingga usia 18 tahun,” tandas Dwi.

Saat ini, komunitas Satu Senyum sedang menggarap project baru. Yakni, mengumpulkan serba-serbi kisah hidup para penyandang CBL dewasa dalam sebuah buku. Rencananya, buku itu akan launching pada November tahun ini. Isinya, memuat kisah inspiratif para anggota dari berbagai wilayah di Indonesia. ‘’Semoga bisa memberikan manfaat bagi yang lain,’’ katanya. (*/hud) 

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, diterbitkan di koran Jawa Pos-Metropolitan pada 12 Juni 2015

Standard
Feature

Ariyo Zidni, Pendongeng Spesialis Daerah Bencana

Dongeng bisa menjadi media belajar yang sangat kuat bagi anak-anak. Begitulah menurut Ariyo Zidni. Dari sebuah dongeng anak-anak dapat mengambil pesan moral, melatih skill komunikasi dan interpersonal, dan menjadi gemar membaca buku. Bahkan dongeng dapat menjadi obat bagi sebagian anak. Di daerah bencana, dongeng mampu mengubah wajah murung anak-anak menjadi ceria. Duka menjadi bahagia, dan trauma berangsur lenyap.

MARUTI ASMAUL HUSNA SUBAGIO

Setiap kali cuaca mendung dan langit turun hujan, Arya teriak histeris. Anak itu baru duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Perubahan sikap Arya mulai tampak sejak terjadi musibah jebolnya tanggul Situ Gintung. Dia bukan anak korban bencana. Arya tinggal di daerah Cipinang yang sama sekali tidak terkena dampak tragedi tersebut. Namun, Arya sering melihat gambar di koran dan televisi yang menyiarkan berita tersebut.

Seorang guru TK Arya yang merupakan lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menceritakan kisah unik anak tersebut kepada Ariyo. Dia ingin meminta bantuan Ariyo untuk menyelesaikan trauma yang dialami Arya. Sang guru yang juga merupakan teman dekat Ariyo tahu bahwa Ariyo sering melakukan terapi kepada anak-anak di daerah bencana.

Ariyo pun bersedia membantu. Dia akan menerapkan trauma healing kepada Arya lewat dongeng. Namun, dia tidak mungkin turun langsung menemui Arya karena terapi mendongeng akan dilakukan secara intens. Ariyo membantu dengan mengajarkan cara mendongeng kepada orang tua dan guru Arya, juga memilihkan cerita yang tepat. Setiap hari Arya diperdengarkan cerita dongeng di rumah dan di sekolah lewat orang tua dan gurunya. Alhasil, satu minggu kemudian Arya telah berani bermain hujan-hujanan di luar.   

Satu kisah kenangan lagi muncul dari tanah terujung Indonesia sebelah Barat, provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Bencana tsunami yang melanda Aceh pada Desember 2004 lalu sungguh memberikan dampak yang besar. Ariyo pun saat itu turun menjadi relawan. Dia tiba di Aceh setelah tahun baru 2005. Namun dia tidak membawa barang bantuan berupa sandang pangan. Yang dia bawa adalah bekal cerita-cerita yang akan disampaikan pada anak-anak korban bencana.

Di sebuah camp pengungsian di daerah bukit Soeharto Aceh Barat, Heri, seorang anak usia TK menampakkan perilaku yang berbeda dari kebanyakan anak-anak korban bencana yang lain. Jika teman-temannya lebih banyak berubah pendiam atau murung setelah kejadian tsunami tempo lalu, Heri justru menjadi hiperaktif. Dia sering mengganggu anak-anak lain dan terkadang menjadi pengacau di camp pengungsi.

”Seperti orang dewasa yang berbeda-beda caranya dalam meluapkan emosi, anak-anak pun demikian,” ujar Ariyo menjelaskan.

Melihat kondisi Heri tersebut, Ariyo mengambil inisiatif. Dia ingin mengubah keaktifan anak tersebut menjadi suatu hal yang positif. Ariyo menunjuk Heri menjadi kepala sekolah (semacam ketua kelas, Red). Heri pun menyanggupi. Dia tidak hanya mengatur anak-anak yang sama-sama berusia TK, namun juga anak usia SD hingga SMP. Tanggung jawab yang diberikan Ariyo tersebut diiringi dengan terapi bercerita. Dia melakukan pendekatan-pendekatan kepada Heri lewat beberapa kisah yang dia bawakan. Akhirnya, sekitar tiga minggu Ariyo berada di sana, Heri menampakkan perubahan positif. Sikapnya lebih terkontrol dan tidak lagi menjadi pengacau.

Beberapa bulan kemudian saat Ariyo telah lama meninggalkan lokasi bencana, dia mendapati sebuah surat. Butuh waktu beberapa menit untuk mencerna tulisan surat tersebut. Ternyata surat itu ditulis sendiri oleh Heri. Dia menulis, “Bang Ariyo, jangan lupa kasih makan kelincinya wortel, ya.” Surat tersebut mengejutkan Ariyo dan tidak dapat dia lupakan walau sudah bertahun-tahun. Membuktikan besarnya kesan yang dia torehkan pada anak-anak korban bencana.

Bagaimana sebuah dongeng seolah dapat begitu ajaib? Bahkan dapat menolong anak-anak yang mengalami trauma di daerah bencana. Ketika ditemui Jawa Pos Ariyo menjelaskan bahwa dongeng sebagai trauma healing dapat membuat anak menjadi tenang dan nyaman. Berikutnya, lewat suara, ekspresi, dan gerak tubuh yang memikat dongeng mampu menstimulasi anak untuk berani aktif. ”Pendekatan lewat dongeng mampu menjadi pintu pertama mereka lebih terbuka, dan berani berkomunikasi,” tutur Ariyo yang merupakan alumni Ilmu Kepustakaan dan Informasi Universitas Indonesia (UI).

Ariyo menjelaskan bahwa trauma healing pada anak korban bencana relatif membutuhkan banyak waktu. Target yang ingin dicapai lewat dongeng adalah membuka pintu komunikasi. Dengan begitu anak lebih berani menyampaikan sakit atau apa pun yang dia rasakan.

Dia memelajari pengetahuan tersebut dengan berkonsultasi kepada psikolog. Juga banyak menggali ilmu tentang bibliotherapy. Yakni, terapi yang mampu membuat orang menjadi lebih baik lewat membaca buku.

”Pada anak korban bencana nggak boleh terlalu dekat, atau akan menjadi kehilangan kedua,” tukas laki-laki kelahiran Jakarta, 18 Juni 1980 ini.

Menurut Ariyo, dirinya sebagai relawan trauma healing hanya diperbolehkan berada di lokasi pengungsian maksimal tiga minggu. Jika masih dibutuhkan di tempat tersebut para relawan diminta pulang sejenak, baru kemudian kembali. Alasannya agar para relawan tidak tertular stres. Karena itu juga dia harus pandai menjaga jarak dengan anak-anak. ”Kalau terlalu dekat dengan anak-anak, setelah itu pergi, bisa menjadi kehilangan kedua buat mereka,” tandasnya.

Karena waktu yang singkat itu, saat berada di pengungsian Ariyo tidak hanya mendongeng kepada anak-anak. Dia juga melakukan story coaching, yakni melatih para relawan setempat agar bisa mendongeng.

Ariyo mulai menjadi relawan trauma healing sejak awal 2000-an. Menurutnya saat itu belum banyak pendongeng yang turun ke pengungsian. Sehingga dia sempat dijuluki pendongeng spesialis bencana. ”Kalau sekarang sudah banyak,” ungkapnya.

Beberapa tempat bencana yang pernah dia kunjungi seperti tsunami Aceh, tanggul jebol Situ Gintung, gempa Bantul, letusan gunung Merapi, gempa Bengkulu, dan yang terbaru di Sinabung. Dia juga kerap diminta datang di pengungsian banjir Jakarta. ”Kalau banjir Jakarta karena sering, sifatnya bukan trauma healing tapi playing therapy saja,” ujarnya.

Tidak hanya melakukan trauma healing anak-anak korban bencana, Ariyo juga sering diminta mendongeng di depan anak-anak yang lama menginap di rumah sakit. Contohnya, anak-anak penderita kanker.

Dia teringat kali pertama dia mendongeng di depan khalayak saat masih kuliah. Saat itu Ariyo diajak dosennya untuk mendongeng di depan pasien anak pengidap kanker di rumah sakit cipto mangunkusumo (RSCM). Ariyo menjelaskan kondisi mereka saat pertama melihat tampak lemah, kepala mereka tidak memiliki rambut karena kemoterapi, dan sebagian memakai masker. ”Tapi sewaktu aku mendongeng, kelihatan di mata mereka itu mata tertawa,” kenang Ariyo.

Dari pengalaman itulah hati Ariyo tersentuh. Dia bertekad untuk menyebarkan dongeng dan kisah kepada anak-anak lainnya. Terutama yang mengalami kondisi sakit.

Ariyo tidak berhenti pada dirinya sendiri. Pemuda kelahiran 35 tahun lalu ini juga mendirikan komunitas Ayo Dongeng Indonesia. Anggotanya berisi 30-an orang yang rela menjadi volunteer trauma healing korban bencana. Namun, mereka tidak mau disebut pendongeng karena berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang berprofesi sebagai wartawan, sekretaris, mahasiswa, sampai ibu rumah tangga.

Ditanya tentang tokoh inspirasi dalam mendongeng, Ariyo menjawab yang paling berpengaruh adalah keluarganya serta Pak Raden. Dia mengaku memiliki keluarga yang sangat senang bercerita. Terutama sangat terlihat sewaktu kumpul lebaran. Sementara dari pak Raden, Ariyo sempat bertemu langsung dan berguru padanya saat masih kuliah.  

Standard
Feature

Aqillurachman A. H. Prabowo, Anak Penyandang Disleksia dengan Bakat Melukis Di Atas Rata-Rata

Dalam dunia Aqil, saat melihat ikan muncul bayangan ikan itu berada di atas awan. Saat sedang berjalan-jalan ke gunung, dia melihat sulur tanaman yang memiliki mata, mulut, hidung, seperti makhluk yang dapat bicara. Imajinasinya seringkali melambung di atas anak rata-rata. Meski menyandang disleksia (tidak bisa membaca), Aqil telah menciptakan puluhan lukisan yang menjadi inspirasi film layar lebar.

MARUTI ASMAUL HUSNA SUBAGIO

Tak banyak pelukis anak yang pernah membuat pameran tunggal karyanya sendiri. Terlebih pameran lukisan tersebut dilakukan di tengah hutan. Mungkin Aqil menjadi pelukis pertama yang melakukan hal itu. Pada 19 Oktober tahun lalu, anak berusia 10 tahun ini telah menggelar exhibition art dari 40 lukisan buah karyanya sendiri. Acara itu dihadiri oleh 70 anak-anak sebaya Aqil bersama para orang tua mereka, serta CEO dari CNN Indonesia.

Aqil dan ibundanya, Amalia, memilih lokasi di tengah hutan supaya bisa mengenalkan kegiatan hiking (jalan-jalan ke gunung) yang setiap minggu dilakukan Aqil. Bukan karena hobi, namun awalnya Aqil melakukan hiking sebagai sebuah terapi yang dianjurkan psikolog. Karena sejak usia 7 tahun Aqil didiagnosa mengalami disleksia. Penyakit ini membuat Aqil mengalami beberapa kendala seperti kesulitan membaca, tidak bisa membedakan kanan dan kiri, serta memiliki daya ingat yang pendek (short memory disorder).

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 4 Oktober 2004 Aqil lahir sebagai bayi prematur. Amalia memiliki fobia terhadap tempat kotor, sehingga melewatkan satu fase tumbuh kembang Aqil yakni merangkak. ”Sebelum bisa merangkak Aqil sudah sering ditempatkan dalam stroller (kereta dorong bayi), habis itu langsung belajar jalan,” ujar Amalia.

Terlewatkannya satu fase tersebut membuat motorik kasar dan motorik halus Aqil sangat lemah. Namun, saat itu belum ada yang menyadari. Hingga usia Aqil menginjak 6 tahun guru di sekolahnya berkata bahwa Aqil mengalami kesulitan membaca dan menulis. Dia juga sulit mengenali huruf. ”Saat mau masuk SD umur 7 tahun, teman-temannya sudah bisa baca semua tapi Aqil belum,” tutur Amalia.

Amalia pun mengonsultasikan kendala itu pada seorang dokter, yang akhirnya menyarankan Aqil perlu dites. Melanjutkan hal itu Amalia juga berkonsultasi kepada tiga psikolog serta satu psikiater. Hasilnya, Aqil positif didiagnosis mengalami disleksia. Awalnya Amalia tidak mau percaya. Doktrin dari keluarganya selama ini, tidak ada orang yang bodoh, yang ada hanya orang malas. Dia pun beranggapan bahwa sang anak hanya malas belajar. Namun, sekuat apa pun berusaha Aqil tetap kesulitan membaca.

Beberapa kali Amalia memarahi Aqil karena ketidakmampuannya. Hingga kondisi tersebut memicu konflik antara ibu dan anak ini selama satu tahun. Sempat terjadi gap antara Aqil dan Amalia. Aqil seringkali lebih nyaman tinggal di rumah kakak atau ibu Amalia.

Sampai suatu saat Amalia tersadarkan oleh nasihat dari seorang rekannya. ”Anak itu dilahirkan untuk kita. Dia alat Tuhan untuk menaikkan kita,” kenang Amalia mengucapkan nasihat itu.

Dari situlah dia bertekad melakukan sebuah significant move. Amalia mengubah mind set nya terhadap Aqil dan memperbaiki hubungan. Dia memutuskan untuk kembali meminta saran dari psikolog. Dari psikolog, Aqil diminta melakukan beberapa terapi, seperti hiking setiap minggu, menyiram bunga dan menggambar pattern.

Sang psikolog juga menyarankan untuk menemukan bakat spesifik Aqil. Butuh waktu satu tahun untuk Aqil dan Amalia melakukan pencarian tersebut. Mulai dari berlatih bulutangkis, paduan suara, dan beladiri wushu. Semuanya tidak ada yang bertahan lama dan menarik hati Aqil. Hingga Aqil memutuskan untuk kembali melukis dan menggambar pattern.

”Kalau melukis Aqil tidak cukup pakai kertas. Jadi saya membebaskan dia melukis seisi rumah hingga ke dinding dan sofa,” tukas Amalia.

Lambat laun tampaklah minat terbesar Aqil dalam dunia seni lukis. Dia mampu bertahan dengan lukisan dalam waktu yang lama serta menghasilkan karya-karya yang melampaui imajinasi anak rata-rata. Saat itu Aqil sudah diberi pengertian oleh Amalia bahwa dia mengalami kelainan disleksia. Hal ini membuat Aqil seringkali minder. Ketika ada acara keluarga dia memilih sembunyi di balik badan sang ibu.

Amalia akhirnya mengambil inisiatif untuk memamerkan karya Aqil saat ada acara keluarga. Ternyata semua merespon baik dan terkagum pada lukisan Aqil. Lambat laun Aqil mulai berani menunjukkan diri.

”Paling suka menggambar alien,” kata Aqil.

Anak dengan disleksia memang memiliki horizon yang lebih besar dibanding anak rata-rata. Aqil banyak mendapat inspirasi lukisannya saat hiking ke hutan. Bila melihat cabang pohon yang patah misalnya, dia bisa membayangkan bentuknya seperti naga. Inspirasi itu dia tuangkan dalam gambar dan lukisan yang kini jumlahnya sudah mencapai 70-an.

”Aku melukis seminggu sekali. Sekali melukis kadang sampai tiga jam,” tukas Aqil.

Suatu hari ada salah satu anggota keluarga yang mengirimkan gambar Aqil kepada Handoko Hendroyono, seorang pegiat seni dan film. Handoko yang juga produser film Filosofi Kopi ini terkagum pada karya Aqil. Mendengar cerita tentang kisah hidup Aqil dan ibunya serta bakat Aqil yang memukau dia pun berniat mengangkat kisah tersebut dalam versi layar lebar. Artis Atiqah Hasiholan didaulat untuk memerankan Amalia dalam film itu. Atiqah yang sempat membaca kisah mereka dalam buku yang ditulis Amalia dibuat tersedu-sedu saat membaca. Dia pun merasa excited untuk bergabung dalam project film tersebut.

Film yang direncanakan berjudul Indigo itu akan shooting pada bulan September dan rilis pada Januari tahun depan. Ceritanya diangkat dari buku yang ditulis Amalia berjudul Wonderful World. Berisi kisah tentang perjuangannya membesarkan anak-anak. Amalia merupakan single parent dengan dua anak. Yang pertama Aqil, dan kedua adiknya, Satria kini berusia 7 tahun.

Tidak hanya memikat Handoko sebagai produser film. Kisah Aqil juga memunculkan inspirasi bagi Rama Suprapto, seorang pegiat drama musikal. Sedikit berbeda dengan film Handoko yang mengangkat kisah hubungan ibu dan anak, drama musikal garapan Rama akan berfokus pada karya-karya Aqil. Direncanakan drama tersebut akan tayang pada Desember mendatang. ”Saat ini keduanya masih gathering sponsor,” tukas Amalia.

Di sela-sela membantu kesibukan sebagai CEO sebuah perusahaan, Amalia sejak April lalu giat melakukan roadshow kampanye disleksia. Roadshow tersebut bertujuan mengenalkan disleksia kepada ibu-ibu kelas menengah ke bawah yang memiliki anak balita. Amalia memiliki dua tujuan, yang pertama membimbing ibu-ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus agar menerima kondisi anak mereka. Yang kedua, sang ibu harus selalu merasa hidup bahagia. Karena kebahagiaan itu perlu ditularkan kepada anak mereka.

Selain itu dia juga memiliki mimpi mendirikan sekolah disleksia. Yang menjadi tempat pengembangan bakat anak-anak disleksia sesuai bakat unik mereka. Dia juga ingin masyarakat paham bahwa kemampuan akademik bukanlah segala-galanya.

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 28 Mei 2015

Standard
Feature

Humar Hadi, Sutradara Film Indie Lulusan Kimia

Oleh: Maruti Asmaul Husna Subagio

Masih terkenang jelas dalam memori Humar Hadi, saat dia bertemu seorang wartawan di sebuah masjid. Wartawan tersebut bekerja di sebuah stasiun televisi swasta dan baru pertama kali dijumpainya. Perjumpaan yang tidak direncanakan itu menjadi awal karir Humar Hadi di bidang perfilman indie.

Saat itu tahun 2005, pemuda yang biasa dipanggil Umank itu memiliki niat memproduksi sebuah film. Yang dia miliki hanya modal ide cerita dan motivasi menyampaikan pesan lewat film. Dia tak punya biaya maupun alat untuk memproduksi film pertamanya itu. Namun, sang wartawan bersedia meminjamkannya kamera setelah melalui beberapa obrolan. Umank yang merupakan lulusan Kimia Analisis masih buta cara mengoperasikan kamera.

”Waktu itu nggak tahu apa-apa, cuma tahu cara play, record, dan hapus video,” kenang Umank.

Saat itu Umank baru usai dari sidang jenjang D3 jurusan Kimia Analisis. Meski tidak memiliki latar belakang ilmu perfilman, dia memiliki semangat dan passion yang kuat di bidang tersebut. Hingga saat ini sudah enam film yang dia produksi secara indie. Mayoritas film tersebut dihasilkan dari rumah produksi bernama bedasinema yang dia dirikan bersama beberapa teman dekat. Meski terkesan kecil-kecilan salah satu film karyanya dengan judul #HKS (Hanya Kerudung Sampah, Red) telah diputar di 25 kota se-Indonesia.

”Dulu kami punya genk sesama teman kuliah, semacam genk Westlife. Semua punya ketertarikan di dunia film,” tutur Umank.

Genk yang akhirnya berubah menjadi film agency itu memilih menamakan diri mereka menjadi bedasinema. Nama itu dipilih karena mereka bertekad mengambil genre Islami dalam film yang diproduksi. Tidak hanya itu, definisi “beda” juga mereka cerminkan dari proses pembuatan film. Dalam setiap proses pembuatan film mereka ada rules yang diterapkan. Contohnya, sebelum waktu sholat semua pemain dan kru harus break. ”Pernah suatu kali semua sudah siap dan rapi dengan make up untuk take, namun tiba-tiba adzan. Akhirnya semua break dan bongkar make up. Nggak apa-apa, karena habis sholat lebih fresh,” ujarnya.

Umank yang merupakan suami dari Yunita Santini dan ayah dari Kayyisa Zahira (5 tahun) ini sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan BUMN. Dia meraih gelar S-1 dari jurusan Teknik Lingkungan Universitas Sahid Jakarta. Cita-citanya saat SMA adalah bekerja di bidang kimia dan itu sudah tercapai. Sehingga dia rela bekerja sembari terus menghasilkan karya sinema yang sama-sama dia cintai.

Tentang cara membagi waktu, dia bercerita setiap senin—jumat tetap bekerja di kantor dari pagi hingga pukul lima sore. Selama jam kerja itu dia tidak mau membahas pekerjaan pembuatan film. Hanya pada waktu break dan malam hari sepulang kerja dia biasanya berkoordinasi dengan kru atau klien film yang sedang digarap. Sedangkan, pada Sabtu dan Minggu barulah dia gunakan untuk memproduksi film-film tersebut.

Di rumah, dia memiliki seorang anak gadis kecil yang mulai tumbuh jiwa kritisnya. Melihat kesibukan ayahnya kadang kala sang anak protes mengapa ayahnya pulang malam. ”Harus bikin perjanjian sama anak kalau hari ini pulang malam,” tukas Umank.

Kadangkala Umank pun merasa bingung dengan dirinya yang memiliki “dua kepribadian”. Hingga dia berkonsultasi dengan psikolog agar dapat menjalani keduanya dengan baik. Pernah ada seorang temannya yang berkata, ”Lo ngga boleh gitu, ngga boleh ambil semuanya.” Namun Umank memiliki alasan sendiri, ”Ngga gitu kalimatnya. Saya bukan mau ambil semuanya, tapi cuma berusaha melakukan yang terbaik.”

Laki-laki kelahiran Bekasi, 10 Maret 1983 ini mengaku memiliki motivasi kuat untuk menyampaikan pesan dakwah dalam setiap film yang dia garap. Idealisme tersebut mengantarkan dia menemui banyak perjuangan bertahan di ranah indie. Seringkali ada investor yang datang menawarkan bantuan dana, namun terpaksa ditolak demi mempertahankan orisinalitas ide cerita. Dalam film keempat yang berjudul Masbukers, Umank mengaku mengeluarkan biaya produksi dari kantongnya sendiri. ”Tapi akhirnya modalnya balik bahkan lebih,” tandasnya.

Film pendek yang berdurasi 18 menit tersebut diangkat dari curahan hati ibu-ibu yang sempat Umank temui di masjid. Sang ibu mengeluh karena seringkali telat melakukan jamaah sholat (masbuk). Ternyata film itu mendapat apresiasi yang tinggi dari sutradara film Ketika Cinta Bertasbih, almarhum Chairul Umam. Sutradara senior tersebut meminta Umank untuk membuat versi layar lebar. Namun, belum sempat tergarap film ini masuk ke dalam jajaran finalis festival film pendek Piala Maya. Saat itu semua karya finalis ditayangkan di Senayan. Sambutan dari penonton cukup baik dan banyak yang meminta Umank untuk memproduksi film berikutnya.

Hingga muncul karyanya yang kelima pada tahun 2013 berjudul #HKS, singkatan dari Hanya Kerudung Sampah. Film dengan durasi hampir satu jam ini bercerita tentang tiga sahabat laki-laki yang mengalami kelainan orientasi seksual. Mereka terdiri dari seorang waria, homoseksual, dan satu lagi seorang pecandu narkoba yang tinggal dalam satu rumah kontrakan. Dalam kehidupannya mereka sering dipandang seperti “sampah” oleh orang-orang sekitar. Bahkan seorang tokoh muslimah ditampilkan memiliki karakter yang memandang mereka sebelah mata. Namun, dalam perjalanannya keempat tokoh tersebut tersadarkan dan kembali ke jalan fitrahnya.

Berbagai sambutan pro dan kontra sempat muncul ketika film ini diputar. Umank sebagai sutradara khawatir dianggap sebagai aktivis gay, karena banyak adegan dalam film yang menunjukkan kehidupan kaum tersebut. Padahal bukan itu pesan sesungguhnya yang dia bawa. Film ini memiliki tagline “Tidak ada satu alasan pun yang menghalangi seseorang untuk berbuat kebaikan.”

Sambutan penonton untuk film #HKS pun di luar dugaan. Sejak premiere-nya ditayangkan di Museum Bank Mandiri pada 29 September 2013, berbagai panggilan dari luar kota datang kepada Umank, tim bedasinema, dan para pemain untuk menayangkan film tersebut. Total ada 25 kota se-Indonesia, yakni dari kota Padang sampai wilayah timur Pulau Jawa, kota Malang.

Kini, yang terbaru Umank dan rumah produksi bedasinema sedang melakukan penggarapan untuk film keenam, yang berjudul Tausiyah Cinta. Proses shooting seperti pada film-film sebelumnya dilakukan hanya pada hari sabtu dan minggu. Film berdurasi 1,5 jam tersebut memakan waktu shooting empat bulan, yakni Februari hingga Mei 2015. Rencananya Tausiyah Cinta akan ditayangkan pada September 2015.

Film tersebut dibintangi oleh aktor dan aktris muda pendatang baru yang bertalenta. Beberapa pemain pendukung melibatkan aktor dan aktris kenamaan seperti Irwansyah dan Peggy Melati Sukma. Film yang masih bernafas Islam tersebut akan bercerita tentang kesholehan yang dipertanyakan dan bagaimana seseorang bangkit dari ujian.

Umank mengaku menemui banyak pelajaran dan pengorbanan dari setiap film yang dia garap. Mulai dari film pertama saat dia masih berbekal penguasaan yang minim terhadap kamera. Dia mengaku belajar membuat film secara otodidak. Selain itu juga mengikuti berbagai workshop film, salah satunya yang menghadirkan sutradara kenamaan Riri Riza.

Pada masa-masa awal, modal alat produksi film juga dia tak punya. Hingga dia rela meminjam dan mengembalikan kamera kepada seorang teman setiap pekan. Sebenarnya sang teman bersedia kameranya dipinjam lebih lama. Namun Umank menganggap itu barang berharga dan demi menjaga amanah, dia rela mengembalikan kamera itu pada dini hari. ”Dulu sampai numpang mobil sayur karena sudah nggak ada angkot dan terlalu capek untuk naik motor,” kenang Umank.

”Kalau nonton lagi film pertama suka begini,” cerita Umank sambil memeragakan menutup wajah.

Seiring waktu berjalan rumah produksi bedasinema di mana Umank menjabat sebagai CEO semakin profesional mengelola karya-karyanya. Rumah produksi tersebut hanya memiliki lima anggota inti namun didukung oleh tenaga produksi yang berkompeten dengan sistem kontrak per film. Contohnya, kameraman dan coaching talent mereka merekrut orang luar.

Dalam mengelola tim yang akhirnya besar tersebut dia mengaku mendapat ruang belajar yang besar. Posisi sebagai leader sangat diasah. Umank mengaku banyak belajar mengelola kesabaran. Bahkan laki-laki yang dikenal tenang dan jarang marah ini pernah memuncak emosinya pada saat shooting dini hari. Dia mendapati seorang pemain yang dilihat tidak fokus hingga mengulang 7 kali take. ”Jangan mentang-mentang film dakwah kamu anggap ini film nggak penting,” ujarnya ketika itu dengan suara keras.

Sepulangnya dari lokasi shooting Umank mengirim pesan personal kepada para kru dan pemain. Dia takut ada sikap yang berlebihan dan meminta maaf. 

Umank mengaku tidak terobsesi filmnya harus diputar di bioskop atau layar lebar. Baginya tidak semua karya bagus diputar di bioskop. Namun, tidak menepis kemungkinan pula bila kesempatan itu ada. Yang dia ingin pastikan adalah orisinalitas cerita serta pesan di balik setiap film karyanya. ”Saya nggak mau bikin film yang nggak membuat hati saya tergetar,” tuturnya. Mimpinya ke depan, bedasinema menjadi publishing house yang terus menggarap project-project kebaikan.

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 14 Mei 2015

Standard
Feature

Pengalaman Seru Menikah dengan Penyandang Hemofilia

Sempat Diragukan Bisa Ereksi, Malah Punya Dua Anak

Membina hidup bersama penyandang hemofilia tak pernah terbayangkan oleh Novi Riandini. Namun, biduk nasib membawanya menikahi Gunarso, seorang hemofili tipe B. Bagaimana kisah pernikahan mereka?

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan pada April 2018

“Mungkin, Mas Gun adalah penyandang hemofilia pertama di Indonesia yang memutuskan untuk menikah.

”Novi dan Gunarso bertemu mata saat orientasi mahasiswa baru Jurusan Teknologi Informasi Universitas Gunadarma angkatan 1992. Seperti semua mahasiswa di masa Orde Baru, mereka wajib mengikuti program Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Saat pengenalan model pendidikan di kampus, seorang senior memasangkan Novi dan Gunarso. Rupanya, senior melihat Novi yang hiperaktif harus dipadukan dengan Gunarso sangat pendiam dan tenang.

Mereka kembali disatukan karena sama-sama mendapat bye saat mahasiswa lain wajib mengikuti kegiatan fisik. Novi yang dipisahkan karena menderita skoliosis (kelainan tulang belakang) bertanya pada Gunarso penyebab dia mendapat keringanan. “Namun, Mas Gun hanya tersenyum,” kata Novi.

Lulus orientasi, keduanya kembali teman sekelas di jurusan. Karena sudah mengenal sejak orientasi, Novi dan Gun menjadi teman dekat. Dua tahun kemudian, mereka mulai menjalin hubungan asmara. Ketika itu, Gunarso baru berani mengatakan bahwa dia adalah seorang penyandang hemofili tipe B, salah satu tipe ganas dari kelainan genetik yang menyebabkan penderitanya kesulitan mengalami pembekuan darah. “Dia datang dalam keadaan pincang dan bleeding. Aku adalah orang pertama di luar keluarganya yang diberi tahu,” katanya.

Gunarso divonis menyandang hemofilia sejak masih berusia 6 bulan. Ketika itu, sekujur tubuhnya lebam membiru tanpa pernah terjatuh. Setelah diperiksakan ke rumah sakit, baru diketahui Gunarso positif menyandang hemofilia tipe B. Lebam di sekujur tubuhnya ternyata disebabkan gerakan alami Gunarso saat belajar merangkak. Hingga dia dewasa, setiap kali melakukan gerakan fisik agak berat, tubuh Gunarso akan langsung membiru.

Karena Gunarso datang dalam keadaan mimisan yang sulit dihentikan, ibu Novi bertanya keadaan Gunarso. Mereka pun berterus terang bahwa Gunarso menyandang hemofilia, termasuk menjelaskan tanda-tanda hemofilia. Misalnya, darah sulit berhenti jika terluka, sering mimisan, dan timbul biru-biru lebam pada persendian jika terlalu lelah. Karena penyakit ini disebabkan faktor genetika, Gunarso mengakui penyakitnya tak bisa disembuhkan sehingga dia harus menjalani pengobatan seumur hidup.

Ternyata, respon yang ditunjukkan ibunda Novi di luar dugaan. Ia tetap mendukung hubungan dekat anaknya dengan Gunarso. ”Padahal, kakakku punya pacar yang menderita asma saja mama nggak setuju,” kata Novi.

Ibu Novi lantas memberi pesan yang akan diingat seumur hidupnya. ”Kamu boleh macarin dia. Namun, kalau sampai menikah, kamu nggak boleh nyesel untuk hal yang sudah kamu sadari dari awal,” kata Novi menirukan ucapan ibunya.

Ibundanya meninggal dunia setahun kemudian. Tiga tahun setelah ibunya meninggal, Novi dan Gunarso menikah. Tepatnya, 18 April 1998 atau sehari sebelum ulang tahun Gunarso ke-25. Novi mengakui, menikahi Gunarso adalah keputusan terbesar yang membutuhkan pemikiran bertahun-tahun. Namun, kini Novi mengaku tidak salah mengambil keputusan menikahi Gunarso. “Seru, banyak sekali pengalaman yang aku dapat sejak menikahi Mas Gun,” ungkap Novi.

Setelah menikah, Novi memutuskan berhenti bekerja. Salah satu penyebabnya adalah suaminya kerap membutuhkan bantuan, misalnya saat terjadi pendarahan tiba-tiba. Karena kerap bertemu dengan pegiat hemofilia, Novi memutuskan untuk bergabung dalam Perhimpunan Orang Tua Hemofilia (Perofi). Dia pula yang menjadi salah satu inisiator pembentukan Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI).

Karena menjadi orang pertama yang menikahi penyandang hemofilia, Novi harus rela menjadi kamus berjalan. Ketika bertemu dengan para orang tua penyandang hemofilia, Novi kerap mendapat pertanyaan yang awalnya membuatnya marah. “Dalam bahasa awam, mereka bertanya apakah penyandang hemofilia bisa ereksi,” katanya.

Menurut anggapan mereka, pasien hemofilia bakal sulit memiliki keturunan. Namun, Novi dan Gunarso membuktikan hal tersebut salah. Mereka kini sudah memiliki dua anak, yakni Muhammad Ijlal, 16, yang duduk di kelas 1 SMA serta Muhammad Altaf, 7, yang duduk di kelas 1 SD.

Pada awal mula berdiri di tahun 2005, HMHI hanya beranggotakan pasien dan keluarga pasien hemofilia yang berjumlah 120 orang. Novi menjabat sebagai ketua harian. Karena itu, dia aktif mengunjungi bangsal-bangsal rumah sakit untuk mendata pasien hemofilia yang belum bergabung dalam HMHI. Selang dua hingga tiga tahun kemudian jumlah anggota telah berkembang menjadi 180 orang.

HMHI bergerak demi kemudahan para pasien hemofilia mendapatkan pengobatan. Namun, di awal pendiriannya usul dan permohonan mereka jarang didengar pemerintah terkait. Karena itu selanjutnya HMHI menggandeng Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) yang berisi para dokter ahli.

Dengan penggabungan PHTDI ke HMHI, harapannya suara pasien hemofilia lebih didengar pemerintah. Hingga kini anggota HMHI terdiri dari pasien, keluarga, tim medis, dan orang-orang yang peduli hemofilia. Jumlah anggota yang merupakan penyandang hemofilianya saja kini berjumlah 1.025 orang di 15 provinsi.

Sebagai pengurusa aktif, Novi dengan gamblang menceritakan permasalahan yang dialami penyandang hemofilia. Diantaranya, seorang anak penyandang hemofilia di Sulawesi yang harus menempuh perjalanan 16 jam untuk mendapat pengobatan. Hal tersebut dapat terjadi karena obat hemofilia hanya tersedia di rumah sakit pemerintah yang besar. ”Kalau begitu kan bisa terlambat dapat penanganan. Sementara si anak sudah bleeding,” terang Novi.

Selain kelangkaan obat, masalah lain yang dihadapi penyandang hemofilia lainnya adalah harga obat yang sangat mahal. Gunarso yang termasuk penyandang hemofilia berat akan mengalami pendarahan setiap 7—10 hari. Pendarahan tersebut dapat berupa mimisan atau timbul lebam membiru pada anggota tubuh. Kondisi itu muncul meski Gunarso hanya berjalan kaki biasa.

Untuk gejala pendarahan ringan, Gunarso membutuhkan lima botol faktor IX concentrate (sebuah komponen protein yang dibutuhkan penyandang hemofilia) untuk disuntikkan ke dalam tubuhnya. Satu botol konsentrat tersebut berharga Rp 6 juta. Sehingga, satu suntikan membutuhkan Rp 30 juta.

Bila terjadi pendarahan lanjutan, suntikan harus dilanjutkan dengan 5 botol baru. Sehingga, dalam satu bulan penyandang hemofilia bisa menghabiskan biaya hingga Rp 100 juta lebih. Kini, biaya pengobatan telah terjamin BPJS. Namun, di awal pernikahan, dia dan Novi sempat mengalami masa ekonomi yang sangat sulit karena tidak mendapat asuransi kesehatan.

”Dilema bagi orang hemofilia adalah sulit mendapat jaminan kesehatan karena tidak tergolong warga kurang mampu, namun biaya pengobatan sangat mahal,” tambah Gunarso.

Ketika kecil, Gunarso tidak perlu pusing karena seluruh biaya pengobatannya ditanggung asuransi di perusahaan tempat ayahnya bekerja. Namun, asuransi tersebut harus berhenti saat usianya menginjak 25 tahun. Saat baru menikah, tepat saat dia kehilangan asuransinya, gaji Gunarso yang bekerja di perusahaan broker saham belum mencapai Rp 1 juta. Sementara, biaya pengobatan saat itu mencapai lebih dari Rp 2 juta.

Selama dua tahun mereka memeras otak untuk mendapat biaya pengobatan. Novi pun membantu mulai dari menggadaikan emas, menjual barang bekas, dan menjual jasa desain poster. ”Dulu setiap hari selalu bertanya besok bisa makan apa,” kenang Novi. Beruntung karir Gunarso terus meningkat, sehingga kebutuhan ekonomi keluarganya terpenuhi.

Kondisi tersebut berkebalikan Belgia. Di negara itu, pasien bisa memesan obat secara online. Stok obat selalu tersedia pengadaannya diatur dengan tender nasional. Sedangkan kuota obat di Indonesia masih terbatas. Bahkan sering kosong.”Sangat indah jika pemerintah melakukan tender nasional pengadaan obat untuk penyandang hemofilia,” kata Novi.

Sebagai pasangan yang sukses membina keluarga bahagia selama 17 tahun, Novi dan Gunarso memiliki pesan bagi calon pasangan suami istri yang mengidap hemofilia lainnya. Kuncinya adalah jujur pada pasangan dan calon mertua. Jika orang tua khawatir, yakinkan bahwa penyandang hemofilia juga SDM yang dapat berkarir dan berprestasi baik seperti orang lainnya.

Mereka juga berpesan agar orang tua penyandang hemofilia melatih anak-anaknya untuk mandiri. Jangan terlalu ketat melarang anak-anak hemofilia untuk beraktivitas. Jika over protective, anak-anak justru bisa minder dan gagal mengembangkan bakatnya. (noe)

Standard