MENTENG—Benih kebaikan pada dasarnya dimiliki setiap manusia sejak dia diciptakan di dalam kandungan. Benih itulah yang nantinya membentuk kepekaan sosial yang dibutuhkan untuk menolong sesama manusia. Namun benih ini perlu disemai dan ditumbuhkan. Yakni dengan penanaman nilai-nilai sejak dini pada anak.
Menurut psikolog Ratih Ibrahim benih kebaikan merupakan nilai-nilai luhur yang ditanamkan pada diri seseorang sejak dia kecil. Yakni dengan tujuan membantu orang lain dengan dasar ketulusan dan empati. Salah satu bentuknya adalah altruisme, yang dimiliki setiap orang. Yakni, tindakan suka rela untuk menolong orang lain tanpa ingin mendapat imbalan apa pun.
Seorang anak yang sejak kecilnya dilatih memiliki karakter ini akan tumbuh sebagai orang yang senang menebar manfaat. Tanpa dipaksa dia justru senang melakukan kegiatan-kegiatan amal. Contohnya, menolong teman, merawat hewan yang terluka di jalan, atau menjadi relawan di tempat-tempat bencana.
“Pada anak benih kebaikan perlu dimulai dari dalam rumah,” ujar Ratih saat ditemui di Double Tree Hotel pada (5/8) lalu.
Lebih lanjut, kata dia, kita bisa menolong orang lain apabila kita sendiri punya. Maka, pada tahap awal, anak perlu ditanamkan sense of belonging di rumah. Contohnya, menata meja, merapikan tempat tidur sendiri, atau menyiapkan makan malam.
Jika rasa kepemilikan anak di rumah tersebut sudah terbentuk, selanjutnya tingkatkan untuk memiliki rasa kepedulian di lingkungan yang lebih besar. Misalnya, menjadi panitia acara 17 Agustus di sekitar rumah.
”Ketika melihat suatu kondisi sulit, challenge anak untuk melakukan tindakan,” tutur Ratih.
Dia mencontohkan, saat anak melihat binatang yang terlantar di jalan misalnya, tanyakan pada anak siapa yang akan merawat binatang itu? Dengan begitu muncul sifat empati sekaligus kemandirian anak untuk menanggung sendiri apa yang dia ingin bantu.
Ratih menambahkan manifestasi karakter volunteer di masa dewasa sangat banyak. Contohnya, menjadi orang tua asuh, mengadopsi binatang, merawat gedung tua, dan ikut kegiatan kesukarelawanan. Manfaat dari kegiatan relawan juga tidak hanya dirasakan pada pihak yang ditolong, namun juga kita yang menolong.
”Kita melayani diri sendiri dan orang lain pada saat yang bersamaan. Karena menolong menimbulkan perasaan menyenangkan dan memberi kepuasan,” tandas Ratih. (uti)
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 9 Agustus 2015