Buku Anak, Literasi, Pendidikan, Reading Habit

Minat Baca Masyarakat Tidak Rendah

Dimulai dari Genre Favorit untuk Tingkatkan Kebiasaan Membaca

KEBAYORAN LAMA—Banyak penelitian beranggapan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Bahkan cenderung tidak memiliki minat baca. Namun, apakah benar demikian?

Menurut dosen ilmu perpustakaan dan informasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Susanti Agustina perlu dibedakan antara minat baca dan kebiasaan membaca. Minat baca terkait dengan kesukaan individu pada genre bacaan tertentu. Tentu keinginan ada dalam setiap individu, hanya saja adakah genre yang diminati?

Menurutnya, minat baca masyarakat Indonesia tidak rendah. Hal itu bisa dilihat pada acara seperti pameran buku. Di sana terlihat animo masyarakat sangat besar. Saat ini, yang menjadi indikator minat baca masih terbatas pada perpustakaan. ”Padahal membaca tidak harus di perpustakaan, bisa juga di taman baca misalnya,” ujar Susanti saat dihubungi Jawa Pos.

Susanti menambahkan, ada beberapa hal yang membuat perpustakaan cenderung sepi. Pertama, kondisi geografis atau terkait akses yang kurang memungkinkan. Walaupun fasilitas di perpustakaan sudah cukup lengkap, namun masyarakat malas karena jauh.

Kedua, keadaan demografis. Tingkat pendidikan dan aktivitas masyarakat memengaruhi hal ini. Saat ini sudah banyak masyarakat yang bekerja memiliki karir masing-masing. Sehingga sedikit waktu untuk ke perpustakaan. Terakhir, adalah faktor kurangnya promosi perpustakaan. Padahal, perpustakaan bukan sekadar koleksi. Perlu dikembangkan model-model seperti mobile library yang langsung datang ke masyarakat.

”Sekarang juga banyak orang membaca di Android. Mereka bisa mengunduh buku dengan harga lebih murah,” tuturnya.

Lebih lanjut, kata dia, saat ini banyak berkembang library lifestyle. Yakni, konsep menggabungkan perpustakaan dengan tempat-tempat yang banyak dikunjungi masyarakat, seperti kafe, restoran, mal, dan factory outlet. Tempat-tempat tersebut banyak menjangkau kalangan menengah atas atau sosialita.

Sementara, di kalangan menengah bawah banyak yang mengakses taman-taman baca. Taman baca lahir karena ketidakpuasan dengan perpustakaan daerah. Misalnya, terkait akses yang jauh. Sehingga orang per orang atau komunitas menyelenggarakan taman baca yang juga memiliki nilai sosial kemasyarakatan. ”Apalagi tren saat ini banyak taman baca yang memberikan fasilitas wifi,” tukasnya.

Karena itu minat baca individu sebenarnya tidak rendah, hanya saja kebiasaan membaca masyarakat memang perlu ditingkatkan. Hal itu perlu stimulan. Salah satunya genre yang bervariasi. Minat baca berbeda pada setiap jenjang usia. Untuk menumbuhkannya, perlu disesuaikan dengan usia pula. Misalnya, untuk anak balita berikan buku-buku pop-up, untuk usia sekolah dasar (SD) perbanyak koleksi petualangan. Pada lansia, carikan buku tentang persiapan masa tua. ”Ada buku carikan pembacanya, ada pembaca carikan bukunya,” tandasnya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 23 Agustus 2015

Standard
Parenting, Pendidikan

Menumbuhkan Jiwa Volunteer pada Anak

MENTENG—Benih kebaikan pada dasarnya dimiliki setiap manusia sejak dia diciptakan di dalam kandungan. Benih itulah yang nantinya membentuk kepekaan sosial yang dibutuhkan untuk menolong sesama manusia. Namun benih ini perlu disemai dan ditumbuhkan. Yakni dengan penanaman nilai-nilai sejak dini pada anak.

Menurut psikolog Ratih Ibrahim benih kebaikan merupakan nilai-nilai luhur yang ditanamkan pada diri seseorang sejak dia kecil. Yakni dengan tujuan membantu orang lain dengan dasar ketulusan dan empati. Salah satu bentuknya adalah altruisme, yang dimiliki setiap orang. Yakni, tindakan suka rela untuk menolong orang lain tanpa ingin mendapat imbalan apa pun.

Seorang anak yang sejak kecilnya dilatih memiliki karakter ini akan tumbuh sebagai orang yang senang menebar manfaat. Tanpa dipaksa dia justru senang melakukan kegiatan-kegiatan amal. Contohnya, menolong teman, merawat hewan yang terluka di jalan, atau menjadi relawan di tempat-tempat bencana.

“Pada anak benih kebaikan perlu dimulai dari dalam rumah,” ujar Ratih saat ditemui di Double Tree Hotel pada (5/8) lalu.

Lebih lanjut, kata dia, kita bisa menolong orang lain apabila kita sendiri punya. Maka, pada tahap awal, anak perlu ditanamkan sense of belonging di rumah. Contohnya, menata meja, merapikan tempat tidur sendiri, atau menyiapkan makan malam.

Jika rasa kepemilikan anak di rumah tersebut sudah terbentuk, selanjutnya tingkatkan untuk memiliki rasa kepedulian di lingkungan yang lebih besar. Misalnya, menjadi panitia acara 17 Agustus di sekitar rumah.

”Ketika melihat suatu kondisi sulit, challenge anak untuk melakukan tindakan,” tutur Ratih.

Dia mencontohkan, saat anak melihat binatang yang terlantar di jalan misalnya, tanyakan pada anak siapa yang akan merawat binatang itu? Dengan begitu muncul sifat empati sekaligus kemandirian anak untuk menanggung sendiri apa yang dia ingin bantu.

Ratih menambahkan manifestasi karakter volunteer di masa dewasa sangat banyak. Contohnya, menjadi orang tua asuh, mengadopsi binatang, merawat gedung tua, dan ikut kegiatan kesukarelawanan. Manfaat dari kegiatan relawan juga tidak hanya dirasakan pada pihak yang ditolong, namun juga kita yang menolong.

”Kita melayani diri sendiri dan orang lain pada saat yang bersamaan. Karena menolong menimbulkan perasaan menyenangkan dan memberi kepuasan,” tandas Ratih. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 9 Agustus 2015

Standard
Uncategorized

Nezatullah Ramadhan, Pendiri Nara Kreatif, Rumah Bagi Anak Jalanan

Melihat anak jalanan melewati hidup yang keras dan penuh risiko membuat banyak hati prihatin. Namun, hanya segelintir yang mau berbuat nyata bagi mereka. Seperti, Nezatullah Ramadhan yang sejak kuliah sudah mulai menjadi “pengasuh” bagi 15 anak jalanan. Di Nara Kreatif, mereka tidak lagi turun ke jalan namun diajarkan menjalani hidup yang lebih berharga.

MARUTI ASMAUL HUSNA SUBAGIO

SAAT itu usianya baru 21 tahun. Neza, sapaan Nezatullah Ramadhan, masih berstatus sebagai mahasiswa semester 5 jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Jakarta. Setiap habis subuh dia sudah keluar rumah untuk menjajakan beberapa barang dagangan. Akibatnya, masuk kuliah pun sering telat. Terlebih teman-teman kampus sudah banyak yang menjauhinya karena jarang ikut kerja kelompok. Hingga kampus sempat memberi ancaman drop out.

Dia memang harus mencari pendapatan ekstra. Namun, itu bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan untuk menghidupi 15 anak jalanan yang dia tanggung kehidupannya.

Semuanya berawal dari rasa keprihatinan dalam diri Neza setiap kali berpapasan dengan anak jalanan. Perasaan tersebut berkembang menjadi keingintahuan mengapa mereka bisa hidup seperti itu. Dia pun tidak membiarkan perasaan itu berlarut-larut.

Neza memilih terjun, dia melakukan pendekatan selama sebulan pada 15 anak jalanan. Di sebuah tempat jasa pencucian motor, anak jalanan tersebut sering berkumpul. Di sana mereka melakukan pekerjaan sampingan. Di situ jugalah Neza sering berbincang selama sebulan dengan mereka.

”Anak jalanan itu banyak macamnya. Ada yang punya kasih sayang pada keluarga, mereka bekerja untuk membantu kekurangan finansial. Ada juga yang nggak ngerti tentang kesulitan orang tua dan minta yang macam-macam. Lainnya ada yang menjadikan jalanan sebagai tempat pelarian dari kondisi yang tidak mereka harapkan,” papar Neza.

Dari banyaknya masalah anak jalanan yang dia dalami, problem paling utama adalah kesejahteraan dan pendidikan. Neza pun bertekad harus berbuat sesuatu. Dia ingin mengalokasikan anak jalanan ke hidup yang lebih layak. Pun mengajarkan mereka untuk melihat hidup secara jangka panjang. Tidak sekadar hidup untuk tidur dan makan.

Berbekal ilmu di jurusan Teknik Mesin, Neza tercetus ide untuk membuat mesin pendaur ulang. Dari program mahasiswa wirausaha tahun 2012, dia bersama dua teman lainnya mengusulkan ide wirausaha sosial. Konsepnya mendaur ulang limbah kertas perkantoran untuk diubah menjadi produk bernilai jual. Mereka melibatkan anak jalanan sebagai sumber daya manusia (SDM). ”Jadi konsep yang kami usung adalah lingkungan dan sosial,” tutur pemuda kelahiran Padang, 8 April 1991 tersebut.

Dari program tersebut Neza dan dua rekannya menjalankan usaha untuk membantu kehidupan anak jalanan. Namun sayang, dana yang dihasilkan dari program hanya bertahan untuk menghidupi anak-anak selama satu bulan. Selama satu bulan itu pula program wirausaha mahasiswa berakhir. Dua rekan Neza yang lain tidak lagi mendampinginya merawat anak-anak. ”Saya harus jadi orang yang punya prinsip. Apa yang sudah saya jalankan harus sampai pada kata finish,” tukas Neza.

Neza tidak pantang menyerah. Niat awalnya untuk membantu para anak jalanan tetap dia teruskan. Berbagai pengorbanan pun dia lakukan selama setahun merawat 15 anak jalanan tersebut. Semua biaya makan anak-anak 3 kali sehari dia tanggung, sembari mengajari mereka memproduksi prakarya dari limbah daur ulang. Seperti, kalender, map, amplop, paper bag, dekorasi ruangan, dan kebutuhan kantor lainnya.

Mulai mendistribusikan dagangan teman, menggadaikan cincin sang ibunda, hingga meminjam uang tetangga Neza lakukan. Saat itu untuk mendapat limbah bahan produksi pun dirinya harus membeli dari kantor-kantor. Sementara, produk yang mereka hasilkan belum ada yang terjual. ”Saat itu rasanya antara iya dan tidak (untuk melanjutkan ini, Red),” tandas Neza.

Yang mendukung dan terus memotivasi Neza saat itu tidak lain adalah kedua orang tuanya. Sang ibu kerap membantu membuat masakan untuk anak-anak jalanan. Sementara sang ayah yang sudah pensiun menggantikannya mendampingi anak-anak saat Neza kuliah.

”Satu hal yang membuat saya bertahan hingga kini, bahwa saya pernah mendengar janji Allah. Jika kita memikirkan orang lain maka pertolongan Allah itu nyata, sedangkan jika kita memikirkan diri sendiri maka pertolongan Allah pun sedikit menghampiri kita,” kata anak tunggal dari pasangan Astarizal Munaf dan Erma Dewita M ini.

Kini, Neza telah membuktikan keyakinannya itu. Mulai awal 2013, perlahan-lahan bantuan berdatangan. Sebuah perusahaan BUMN yang mengajaknya bekerja sama menyarankan agar Nara Kreatif memiliki badan hukum. Pada April 2013 akhirnya yayasan tersebut memiliki badan hukum resmi. Tidak hanya itu, para anak jalanan pun dipinjami bangunan sebagai tempat tinggal. ”Saat April 2013 jumlah anak-anak sudah berkurang, hanya tinggal 7 sampai 9 anak,” tambah Neza.

Kebutuhan hidup anak-anak tetap hanya bergantung pada produktivitas mereka sendiri. Seiring nama yang mulai dikenal banyak perusahaan yang ingin membeli produk mereka. Bahkan kini banyak kantor yang berlomba-lomba memberikan limbah secara gratis. ”Memang tidak bisa dinalar, waktu kondisi susah limbah saja kami harus beli, saat sudah mulai mapan justru limbah berdatangan dengan cuma-cuma,” ungkapnya.

Saat ini sudah ada 15 perusahaan yang menjadi klien Nara Kreatif. Karya anak-anak pun ditampilkan dalam berbagai pameran. Salah satu yang menjadi kehormatan adalah pada Konferensi Asia Afrika (KAA) lalu Nara Kreatif diundang sebagai penerima tamu sekaligus memamerkan karya mereka. Anak-anak bisa bertemu dan berbincang dengan perdana menteri berbagai negara.

Selama dua tahun berjalan, total anak yang diasuh di bawah yayasan Nara Kreatif telah lebih dari 100 orang. Mereka terdiri dari 10 anak laki-laki dan 5 anak perempuan yang diasramakan serta 100 anak lebih yang mendapat sekolah gratis kejar paket A, B, C. Para pengajar datang dari kalangan mahasiswa di Jakarta. Mulai dari kampus UNJ, UMJ, UI, dan UIN. Para pengajar bekerja profesional dengan mendapat hak dan kewajiban.

Anak-anak yang tergabung kini tak hanya berasal dari kalangan anak jalanan. Tetapi juga anak yatim, prasejahtera, bahkan pecandu narkoba. Tidak hanya diajarkan keterampilan dan usaha, mereka juga mendapat pendidikan agama Islam dan kejar paket. Di angkatan pertama (2013-2014), Nara Kreatif telah meluluskan 25 anak berijazah SD hingga SMA. Serta 15 anak pada angkatan kedua (2014-2015). Selain itu, tiga anak mendapat beasiswa melanjutkan pendidikan perguruan tinggi.

Beberapa penghargaan pun telah diraih Neza dan Nara Kreatif. Beberapa di antaranya, juara umum program mahasiswa wirausaha politeknik tingkat nasional 2013, duta sosial nasional mutiara bangsa berkhasanah dari program BNI Syariah 2014, dan juara pertama wirausaha bank Mandiri kategori wirausaha kreatif dan pariwisata 2015. Neza juga berkesempatan meraih apresiasi Rp 100 juta dari Presiden Jokowi melalui menteri sekretaris negara.

Melewati suka duka tersebut, Neza mengaku ada kalanya emosi bercampur aduk. Terkadang sikap anak-anak melonjak hingga di luar batas. Seperti pura-pura sakit, minta banyak perhatian, dan muncul sifat malasnya. Neza memilih berdiam diri sejenak dan mengajak sang anak berbicara personal selama 1 hingga 2 jam.

Pernah sekitar empat bulan lalu, beberapa anak pecandu narkoba mendatangi Nara Kreatif. Saat mereka sakau, otomatis Neza yang tidak memiliki pengalaman kebingungan. Akhirnya dia memberi anak tersebut susu dan air kelapa muda. Selama seminggu tinggal di sana, anak tersebut masih mengonsumsi narkoba. Beberapa kali bahkan barang milik anak lain menjadi korban karena dicuri.

”Saya terapkan metode hati ke hati. Alhamdulillah anak itu masih bisa kepegang hatinya. Step by step dia menurunkan konsumsi obat dan sampai sekarang sudah tidak kecanduan lagi,” tutur Neza.

Ke depan Neza bermimpi Nara Kreatif memiliki income yang stabil. Tidak lain untuk menunjang kesejahteraan hidup anak-anak. Selain itu, dia berharap Nara Kreatif memiliki tempat sendiri. Karena kegiatan mereka saat ini masih menggunakan rumah sewa dari sebuah CSR. Terakhir, dia berharap anak-anak yang sudah lulus memiliki kesempatan bekerja. (*/dos)    

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, diterbitkan di koran Jawa Pos-Metropolitan 16 Agustus 2015

Standard
Feature

Vania Desiyanti, Pelari Urban dan Founder Komunitas Girlstogojkt

Oleh: Maruti Asmaul Husna Subagio

Vania Desiyanti mulai rutin melakukan olahraga lari sejak 2012 saat dirinya tinggal di Melbourne, Australia. Di negeri kangguru itu olahraga lari memang lebih membudaya dibanding Indonesia. Lama-kelamaan Vania semakin jatuh cinta pada jenis olahraga yang simple ini. Sepulangnya ke tanah air, Vania bersama seorang rekannya mendirikan komunitas girlstogojkt. Komunitas ini bertujuan memberi wadah bagi perempuan muda untuk lebih percaya diri menjadi pelari urban.

”Selama ini olahraga sangat relate ke laki-laki, padahal laki-laki atau pun perempuan is equal. Aku ingin menghilangkan stigma kalau perempuan nggak terlalu bisa olahraga,” ujar Vania.

Ada tiga karakteristik komunitas girlstogojkt yang membedakan dengan komunitas lari lainnya. Yaitu, perempuan, muda, dan newbie. Vania dan Amelia Kalista (co-founder) memang mencoba merangkul perempuan muda yang masih tergolong pemula dalam olahraga lari. Mereka berdua mendirikan komunitas ini pada 8 Maret lalu, bertepatan dengan peringatan International Women’s Day.

”Karena masih baru, kita belum berani bikin membership. Jadi memang sifatnya tidak mengikat, kami sangat terbuka untuk siapa saja yang mau ikut,” tutur Vania.

Dia menjelaskan, selama ini menggunakan media instagram untuk menghimpun peserta lari. Setiap acara tidak kurang dari 30 hingga 50 peserta yang datang. Mereka terbiasa melakukan lari di daerah SCBD, Senayan, dan Gandaria. Peserta yang sudah pernah ikut akan mendapat kabar acara melalui mailing list (milis). Kata Vania, ke depan mereka mungkin akan membuat membership.

Para pelari pemula tersebut memulai latihan lari dengan jarak 7 km. Setiap agenda lari bersama dilengkapi dengan dynamic work out dan brunch. ”Ketika brunch itu kita jadi banyak ngobrol, kenal satu sama lain, dan lebih PD karena ada teman,” tukas Vania.

Ketika ditanya tentang motivasi, Vania bercerita olahraga lari memberi dampak kesehatan yang besar pada dirinya. Selain itu, berhubungan juga dengan latar belakang ilmu Vania yang merupakan lulusan sosiologi. Dia menempuh pendidikan S1 di University of Melbourne pada 2009—2013 dan S2 di University of Manchester pada 2014—2015.

”Di sosiologi aku belajar tentang gender. Jadi lewat komunitas ini juga ingin mempraktikan ilmu ke bentuk yang lebih real, bahwa olahraga bisa untuk siapa saja,” tandasnya.

Menurutnya, setiap perempuan, walaupun punya keluhan overweight atau kurang tinggi, jadi lebih percaya diri dengan bergabung di komunitas. Sebagai founder tentunya Vania sekaligus berperan sebagai teladan bagi para rekannya. Perempuan yang bekerja sebagai analis di perserikatan bangsa-bangsa (PBB) ini mengaku rutin lari 3x seminggu. Yaitu, setiap selasa, kamis, dan minggu. Masing-masing minimal 5—10 km.

Pengalaman lari terjauhnya pernah ditorehkan ketika mengikuti half marathon di Amsterdam. Yakni, sejauh 21 km. Di sana dia berkenalan dengan banyak anggota run community. ”Seru, tiap km ada yang cheering,” ujarnya.

Cedera karena over train pun pernah Vania alami. Menurutnya itu terjadi karena dia terlalu banyak berlatih dan kurang memerhatikan asupan nutrisi. Dari lari Vania mengambil pelajaran, ada kalanya kita harus push our self dan ada kalanya lebih respect our body. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 30 Agustus 2015

Standard
Buku Anak, Literasi, Parenting, Pendidikan, Reading Habit

Biblioterapi, Sembuhkan Trauma Lewat Buku

KEBAYORAN LAMA—Arya adalah seorang murid taman kanak-kanak (TK) yang ceria. Namun, saat mendengar suara hujan dan petir, keceriaannya sontak hilang. Bahkan dia bisa teriak histeris saat melihat hujan. Sikapnya yang tidak biasa itu muncul setelah Arya banyak melihat tayangan di televisi. Yakni, tentang bencana waduk Situgintung yang bobol. Arya mengalami suatu trauma.

Kabar tentang Arya sampai kepada seorang pendongeng yang juga sering menangani trauma healing. Dia adalah Ariyo Zidni. Ariyo pun menggagas treatment untuk membacakan dongeng setiap hari kepada Arya. Dongeng-dongeng itu sebagian besar berhubungan dengan air dan hujan. Dikisahkan bahwa air dan hujan tidak selamanya jahat. Dalam dua minggu, setelah rutin dibacakan dongeng, Arya tidak lagi histeris ketika hujan datang. Bahkan dia telah bisa asyik bermain hujan.

“Yang saya terapkan pada Arya adalah biblioterapi,” ujar Ariyo saat dihubungi Jawa Pos.

Apa itu biblioterapi? Istilah ini mungkin masih asing di telinga kita. Padahal, sebenarnya jenis terapi ini sudah diterapkan sejak lama. Banyak pula orang yang sudah menerapkannya namun tidak disadari.

Menurut Ariyo, biblioterapi adalah menggunakan bacaan yang baik untuk membantu seseorang memahami sesuatu. Salah satu contohnya seperti mengobati trauma yang dialami Arya di atas. Terapi ini juga dapat berguna untuk membantu orang lepas dari beberapa masalah. Seperti, tekanan stres, kurangnya performa kerja, sering gelisah, atau kepercayaan diri yang rendah di depan publik.

Ariyo menjelaskan, terapi ini dapat dilakukan siapa saja. Baik secara mandiri atau pun didampingi terapis. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan buku untuk biblioterapi. Pertama, tentukan tujuan terapi untuk apa. Masalah apa yang dialami dan perubahan apa yang diinginkan?

Kedua, pilih buku sesuai usia. Hal ini menentukan beberapa faktor seperti jenis cerita, tokoh, dan lama baca. Contohnya bagi anak-anak cerita fabel atau dongeng lebih membuat mereka tertarik. Selain itu, lama pembacaan cerita pada anak biasanya tidak lebih dari satu jam.

Secara terpisah, terapis bibliografi dari Universitas Pendidikan Indonesia Susanti Agustina mengatakan biblioterapi bisa dilakukan kepada kanak-kanak usia 0 tahun sampai lansia. Artinya, seorang ibu bisa melakukan biblioterapi untuk mengatasi permasalahan kehamilannya, contohnya  mengantisipasi baby blues. Bagi anak usia dini, biblioterapi berguna untuk mendongkrak minat dan memupuk budaya baca. Selain untuk mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosi.

Sementara, bagi perkembangan anak dan remaja, biblioterapi dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar, masalah salah asuh, pertemanan, percintaan, kehilangan percaya diri, korban bullying, dan lain sebagainya. Bagi dewasa, biblioterapi dapat mengatasi masalah seperti pernikahan, karir dan pekerjaan, bisnis, pengasuhan anak. Bagi lansia, biblioterapi akan membantunya lebih tenang, tidak merasa sendirian, merasa berdaya, seringkali menjadi wahana menyalurkan pegalaman hidupnya yang membuat bahagia ketika diapresiasi.

”Biblioterapi dapat dilakukan secara klasikal, berkelompok, maupun privat,” ujar Susanti.

Secara klasikal artinya, gabungan beberapa individu dapat ikut serta menyelami sebuah kisah dalam buku atau mendiskusikan buku dalam rentang waktu tertentu. Secara grup dapat dilakukan berdasarkan tingkat permasalahan mental dan kognitif yang sama antar individu.

Sementara biblioterapi juga bisa dilakukan secara privat. Bagi individu yang mengalami depresi, psikosomatis, sakit yang tidak memungkinkan untuk berinteraksi intensif dengan orang lain. Privat juga biasanya bagi mereka yang sangat menjaga privasinya, tidak ingin diketahui orang lain tentang permasalahannya, juga mereka yang memiliki tingkat keterbacaan yang lambat. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 22 Agustus 2015

Standard
Parenting, Pendidikan

Mendampingi Anak dari Bullying dan Pem-bully

KEBAYORAN BARU–Masa remaja mungkin menjadi masa yang paling berwarna. Di saat itu manusia mengalami beragam gejolak emosi dan pengalaman berinteraksi. Mulai dari interaksi positif hingga negatif. Salah satu yang menjadi fenomena di kalangan remaja saat ini adalah bullying.

Bullying terjadi saat ada dua pihak yang berada di posisi ‘si kuat’ dan si ‘lemah’. Saat ada dua pihak yang sama kuat beradu, bukanlah sebuah tindak bullying. Namun, dapat disebut berkelahi.

Menurut psikolog Vera Itabiliana remaja di zaman modern lebih rentan terhadap bullying. Hal itu disebabkan item bullying yang lebih banyak, dan cakupannya lebih luas. “Zaman dulu anak bisa kena bully hanya dari interaksi dengan teman, saat ini dari gagdet pun bisa jadi sumber bullying. Selain itu, dulu bully mungkin hanya seputar sekolah, sekarang masalah K-Pop juga bisa jadi bahan bully,” ujar Vera saat ditemui di Hotel Mulia Senayan (12/8) kemarin.

Vera menjelaskan di masa pra remaja anak-anak mengalami masa-masa perlunya pengembangan kompetensi. Jika kompetensi tersebut tidak tercapai dapat menimbulkan perasaan inferior pada anak. Selain itu masa pubertas juga sering mengalami mood swing. Yakni, emosi mudah berubah, seperti BT, murung, dan tiba-tiba tersenyum kembali.

“Masa remaja juga terjadi peer pressure, contohnya anak merasa memiliki tuntutan untuk ikut trend yang terjadi di kalangan temannya,” tukas Vera.

Karena itu, kata dia, peran orang tua sangat penting dalam pendampingan anak pra remaja. Terutama anak yang menjadi korban bullying atau justru pelaku bullying. Vera menyarankan saat mengalami kondisi ini orang tua perlu meningkatkan self esteem sang anak. “Saat dia diganggu teman tanamkan untuk tetap percaya diri, contohnya dengan tersenyum,” tukasnya.

Senyum juga merupakan suatu solusi simpel yang mujarab. Karena senyum terbukti secara ilmiah dapat membangkitkan hormon bahagia (endorfin). Sehingga stres menuru dan mood membaik.

Selain itu, orang tua juga perlu mencarikan kompetensi terbesar anak. Bawa dia ke banyak kegiatan dan amati dimana minat anak. Dari situ lama-kelamaan dia merasa handal di satu bidang dan kepercayaan diri meningkat.

Vera menambahkan, pada anak pelaku bullying cara menghadapinya relatif sama. Namun, perlu ditekankan pada anak pelaku bullying bahwa perbuatan itu salah, tidak keren, dan pengecut. “Anak pelaku bullying biasanya juga pernah menjadi korban atau memang murni ingin membully” tandas Vera.

Orang tua dituntut memiliki kepekaan dalam fenomena ini. Misalnya, amati baju sekolah anak apakah ada yang robek, amati perubahan perilaku anak yang menjadi murung, atau misalnya tidak berani lewat depan gerbang sekolah. “Jaga selalu komunikasi dengan anak,” ungkap Vera.

Salah satu orang tua yang memiliki pengalaman tersebut adalah Alya Rohali. Sang anak, Anjani pernah mendapat perlakuan digital bullying. Saat itu di salah satu foto instagram Anjani ada yang berkomentar, “kok nggak secantik mamanya?”

Alya pun berkata pada Anjani untuk tidak memedulikan hal itu. Dia menjelaskan pada sang anak bahwa orang tersebut tidak tahu tentang kelebihan Anjani. “Yang penting selalu jaga komunikasi dengan anak,” tandas Alya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 12 Agustus 2015

Standard
Disclaimer (Read First)

Pembaca tidak diperkenankan mengutip sebagian atau pun keseluruhan dari tulisan di dalam blog ini. Blog ini dibuat hanya untuk keperluan dokumentasi dan pengetahuan bahan bacaan. Tidak diperkenankan untuk memenuhi tujuan komersil bagi pihak mana pun.

Standard
Kehamilan, Kesehatan, Kewanitaan, Perkembangan Anak

Peran Sugesti untuk Keberhasilan ASI

MENTENG—Setiap bayi di bawah usia dua tahun membutuhkan air susu ibu (ASI) sebagai makanan terbaik bagi tubuhnya. Di dalam ASI mengandung banyak kebaikan. Tidak hanya sebagai asupan makanan tetapi juga melindungi bayi dari berbagai risiko penyakit. Sayangnya, tidak semua ibu menyadari hal ini. Sebagian ibu masih memberikan susu formula kepada buah hati kecilnya. Dikarenakan kurang kepahaman tentang pentingnya ASI atau memang ASI sang ibu tidak keluar.

Sebenarnya hal apa saja yang memengaruhi produksi ASI seorang ibu? Dokter spesialis anak sekaligus ketua pembina sentra laktasi dr Utami Roesli menerangkan bahwa yang paling berpengaruh adalah sugesti sang ibu.

”Produksi ASI dipengaruhi hormon oksitosin yang sangat tergantung pada pikiran negatif atau positif,” jelas Utami.

Dia menambahkan hormon oksitosin akan meningkat jika ibu mendapatkan rasa nyaman. Sebaliknya, apabila ibu mengalami stres atau tekanan, contohnya ibu melahirkan yang dirawat di ruang emergency, ASI biasanya tidak keluar. ”Jika berpikir ASI keluar maka dia keluar, kalau tidak ya tidak. Tergantung what you believe,” tutur Utami.

Lebih lanjut, kata dia, hal itu berkaitan dengan psycho neuro immunology (PNI). Yakni, bagaimana hal psikis mampu merangsang neurologi dan daya tahan tubuh yang bagus. Utami menambahkan bahwa peran ayah sangat besar dalam keberhasilan ASI. Kaitannya dengan menciptakan perasaan nyaman pada ibu. Di antaranya dengan menunjukkan kasih sayang kepada sang istri dan membantu meringankan pekerjaan rumah tangga contohnya.

Dalam sebuah penelitian clinical pediatric 1994 Utami menerangkan ditemukan bukti nyata peran ayah dalam keberhasilan produksi ASI sang ibu. Penelitian dilakukan pada 115 ibu menyusui. Hasilnya menunjukkan 98,1 persen ibu yang mendapat pertolongan dengan benar dari sang suami berhasil menyusui. Sedangkan, hanya 26,9 persen ibu yang berhasil menyusui saat tidak mendapat pertolongan dengan benar dari sang suami.

Hormon lainnya yang berperan dalam produksi ASI adalah prolaktin. Pada wanita hormon ini berfungsi menstimulasi sel di dalam alveoli otak untuk memproduksi ASI. Jika hormon prolaktin memproduksi ASI, maka hormon oksitosin adalah hormon yang merangsang keluarnya ASI.

Terkait suplemen tambahan seperti susu ibu hamil, Utami berpendapat hal tersebut boleh-boleh saja namun sebetulnya tidak perlu. Dirinya menyarankan agar ibu memperbanyak asupan gizi dari bahan makanan alami seperti daging, ikan, telur, sayur, dan buah-buahan. ”Kalsium dari susu kan pabrikan, yang alami juga banyak terdapat di ikan teri atau kacang-kacangan misalnya,” tukas Utami.

Sementara, terkait anjuran yang banyak berkembang di masyarakat untuk menghasilkan produksi ASI, seperti daun katu pada masyarakat Jawa dan jantung pisang pada masyarakat Sulawesi, Utami menerangkan hal itu bergantung pada keyakinan sang ibu itu sendiri. ”Kalau berpikir dengan daun katu bisa banyak ya banyak, kalau yakinnya dengan jantung pisang ya bisa juga,” tandas Utami. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 10 Juli 2015

Standard
Kesehatan, Parenting, Pendidikan, Perkembangan Anak

Disleksia

KEBAYORAN LAMA—Bagi pecinta film India mungkin pernah menonton film Taare Zameen Par. Dikisahkan seorang anak berusia 8 tahun masih mengalami kesulitan membaca. Tidak seperti anak lainnya yang sudah bisa membaca pada usia lebih muda. Ternyata, anak tersebut mengalami disleksia. Namun, di balik kekurangannya, bocah tersebut memiliki kemampuan biasa dalam melukis dan berimajinasi.

Disleksia juga banyak terjadi di dunia nyata. Kendala yang dialami penyandangnya secara garis besar adalah kesulitan dalam membaca. Menurut psikolog tumbuh kembang Linda Gunawan dalam Diagnostic and Statistical manual of Mental Disorders (DSM) IV 1994 disleksia dimasukkan dalam kategori kesulitan belajar (learning disability). Yang terdiri dari kesulitan dalam membaca-disleksia, kesulitan dalam menulis-disgraphia, dan kesulitan dalam menghitung-discalculating).

”Tidak ada hubungan langsung antara intelektual dan disleksia,” ujar Linda saat dihubungi Jawa Pos.

Lebih lanjut, kata Linda, proses pembelajaran anak bukan hanya melalui membaca, tetapi juga melalui auditori dan pengamatan. Kendala yang dialami penyandang disleksia adalah kurangnya sumber informasi dari tulisan yang menghambat bertumbuhnya informasi itu sendiri. Sehingga turut menghambat bertumbuhnya potensi optimal intektualnya.

Kedua, lanjut Linda, masalah juga ditemukan dengan kemampuan menulis anak. Terutama ketika dia menulis kata. Ini yang menghambat kemampuan akademisnya di sekolah, jika masalah tidak ditangani.

Namun, seperti kisah Ishaan dalam film Taare Zameen Par dan ilmuwan Einstein yang juga merupakan penyandang disleksia, seringkali penyandangnya memiliki kelebihan di atas rata-rata. Menurut Linda, tidak ada studi yang menyatakan bahwa gangguan perkembangan seseorang berkorelasi dengan kelebihan spesifik dibandingkan orang pada umumnya.

”Satu hal yang perlu dihargai dari mereka, bahwa mereka bekerja lebih keras untuk mengembangkan diri,” tutur Linda.

Oleh karena itu, kata dia, setiap perkembangan kecil, setiap minat yang menonjol dalam diri anak penyandang disleksia, perlu mendapatkan perhatian untuk dikembangkan orang tua. Pencegahan dini disleksia dapat dilakukan ketika orang tua melihat adanya masalah tahap perkembangan awal.

Seperti kemampuan penglihatan awal, berguling dan duduk tepat waktu, perkembangan motorik mulut anak, dan perkembangan bahasanya.

Salah satu orang tua yang memiliki anak penyandang disleksia adalah Amalia Prabowo. Anak sulungnya Aqillurahman A.H. Prabowo (10) masih mengalami kesulitan membaca hingga saat ini. Namun, Amalia tidak tinggal diam. Dengan saran Linda, Amalia berusaha menemukan minat dan potensi terbesar Aqil. ”Kami melakukan hiking setiap pekan sebagai terapi untuk Aqil,” tukas Amalia.

Sembari melakukan terapi Amalia melakukan penjajakan potensi Aqil. Akhirnya ditemukan bahwa Aqil memiliki imajinasi yang luas dan kemampuan melukis yang di atas anak rata-rata. Setiap pekan pula Aqil menghasilkan karya lukis baru yang kini telah dibukukan. Bahkan kisah hidup Aqil akan segera diluncurkan dalam sebuah film.

Bagi orang tua yang memiliki anak dengan disleksia, Linda berpesan agar segera ditangani kepada ahlinya, begitu anak tidak berkembang sebagaimana seharusnya pada anak seusianya. Selain itu, bersabar dalam proses. ”Jangan berpikir bahwa anakku bodoh atau mengeluarkan kata tersebut untuk menunjukkan frustrasi kita. Itu akan memberikan konsep diri yang buruk pada anak sehingga sulit berkembang kemudian,” tandasnya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 27 Juli 2015

Standard
Kesehatan, Parenting, Pola Tidur

Disiplinkan Waktu Tidur

KEBAYORAN LAMA—Mengantuk di siang hari rasanya sangat mengganggu pekerjaan. Sebagian orang bahkan bisa merasa ngantuk yang tidak tertahankan di siang hari sehingga langsung tertidur. Jika gangguan tersebut sering berulang, berhati-hatilah Anda mengalami penyakit gangguan tidur. Salah satunya Delayed Sleep Phase Syndrome (DSPS).

Kesehatan tidur seseorang sangat berpengaruh pada performa dan kesehatan tubuhnya. Menurut dokter spesialis tidur dr Andreas Prasadja kesehatan tidur orang Indonesia secara umum masih sangat buruk. Hal tersebut dilihat dari banyaknya orang Indonesia yang mengalami kantuk di siang hari. ”Kalau tidur cukup, nggak akan ngantuk,” ujar Andreas saat dihubungi Jawa Pos (26/7) kemarin.

Dia mengatakan, jangan langsung menganggap bahwa orang yang ngantuk itu pemalas. Mengantuk merupakan tanda adanya kebutuhan tidur yang belum terpenuhi. Tidak terpenuhinya waktu tidur tersebut salah satunya karena mengalami DSPS. DSPS merupakan gangguan tertundanya waktu tidur seseorang selama beberapa jam dari waktu tidur pada umumnya.

”Penderita DSPS misalnya berusaha tidur pada pukul 12 malam, namun sekuat apa pun dia berusaha baru bisa tidur satu sampai dua jam kemudian,” tutur Andreas.

Lebih lanjut, kata dia, gangguan tidur ini paling banyak dialami oleh remaja dan dewasa muda. Yakni di usia pubertas hingga pertengahan usia 20-an. Menurutnya ada dua faktor yang memengaruhi hal ini. Pertama, jam biologis tidur pada usia remaja dan dewasa muda adalah di atas jam 11. Bagi kalangan muda waktu malam adalah saat meningkatnya vitalitas untuk melaksanakan pekerjaan. Selain itu, faktor lainnya adalah perilaku tidur yang tidak disiplin.     

”Mereka tidak mengatur kesehatan tidurnya karena kehidupan sosial atau karena tugas. Sementara di waktu pagi mereka sudah dituntut ke sekolah atau berangkat kerja sehingga terjadi social jetlag,” tukas Andreas.

Dia menambahkan dalam jangka panjang durasi tidur yang kurang akan meningkatkan tekanan darah, risiko kanker, penyakit jantung, dan penyakit-penyakit metabolik. Selain itu juga bisa mengganggu aspek psikologis seperti depresi dan stres. Sementara, tidur yang cukup sangat penting untuk mengaktifkan konsentrasi, daya ingat, dan kreativitas. Andreas mengatakan kebutuhan tidur pada remaja dan dewasa muda adalah 8,5 sampai 9 seperempat jam per hari.

Untuk mengatasi gangguan DSPS Andreas menyarankan tidak perlu memaksakan tidur. Ada treatment yang dapat dilakukan sendiri. Yakni, pertama biasakan rutin tidur pada jam yang bisa dilakukan contohnya pukul 2 malam. Setelah rutin tidur pada jam tersebut, majukan waktu tidur 15 menit pada satu malam. Kemudian majukan 15 menit lagi pada malam berikutnya, begitu seterusnya hingga tercapai waktu tidur ideal yang mencukupi kebutuhan durasi tidur.

”Saat tidur buat kondisi tubuh merasa rileks dan nyaman. Bila sulit tidur jangan dipaksakan, bisa keluar sebentar barulah setelah merasa rileks mencoba tidur kembali,” tandas Andreas. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 26 Juli 2015

Standard