Buku Anak, Literasi, Pendidikan, Reading Habit

Minat Baca Masyarakat Tidak Rendah

Dimulai dari Genre Favorit untuk Tingkatkan Kebiasaan Membaca

KEBAYORAN LAMA—Banyak penelitian beranggapan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Bahkan cenderung tidak memiliki minat baca. Namun, apakah benar demikian?

Menurut dosen ilmu perpustakaan dan informasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Susanti Agustina perlu dibedakan antara minat baca dan kebiasaan membaca. Minat baca terkait dengan kesukaan individu pada genre bacaan tertentu. Tentu keinginan ada dalam setiap individu, hanya saja adakah genre yang diminati?

Menurutnya, minat baca masyarakat Indonesia tidak rendah. Hal itu bisa dilihat pada acara seperti pameran buku. Di sana terlihat animo masyarakat sangat besar. Saat ini, yang menjadi indikator minat baca masih terbatas pada perpustakaan. ”Padahal membaca tidak harus di perpustakaan, bisa juga di taman baca misalnya,” ujar Susanti saat dihubungi Jawa Pos.

Susanti menambahkan, ada beberapa hal yang membuat perpustakaan cenderung sepi. Pertama, kondisi geografis atau terkait akses yang kurang memungkinkan. Walaupun fasilitas di perpustakaan sudah cukup lengkap, namun masyarakat malas karena jauh.

Kedua, keadaan demografis. Tingkat pendidikan dan aktivitas masyarakat memengaruhi hal ini. Saat ini sudah banyak masyarakat yang bekerja memiliki karir masing-masing. Sehingga sedikit waktu untuk ke perpustakaan. Terakhir, adalah faktor kurangnya promosi perpustakaan. Padahal, perpustakaan bukan sekadar koleksi. Perlu dikembangkan model-model seperti mobile library yang langsung datang ke masyarakat.

”Sekarang juga banyak orang membaca di Android. Mereka bisa mengunduh buku dengan harga lebih murah,” tuturnya.

Lebih lanjut, kata dia, saat ini banyak berkembang library lifestyle. Yakni, konsep menggabungkan perpustakaan dengan tempat-tempat yang banyak dikunjungi masyarakat, seperti kafe, restoran, mal, dan factory outlet. Tempat-tempat tersebut banyak menjangkau kalangan menengah atas atau sosialita.

Sementara, di kalangan menengah bawah banyak yang mengakses taman-taman baca. Taman baca lahir karena ketidakpuasan dengan perpustakaan daerah. Misalnya, terkait akses yang jauh. Sehingga orang per orang atau komunitas menyelenggarakan taman baca yang juga memiliki nilai sosial kemasyarakatan. ”Apalagi tren saat ini banyak taman baca yang memberikan fasilitas wifi,” tukasnya.

Karena itu minat baca individu sebenarnya tidak rendah, hanya saja kebiasaan membaca masyarakat memang perlu ditingkatkan. Hal itu perlu stimulan. Salah satunya genre yang bervariasi. Minat baca berbeda pada setiap jenjang usia. Untuk menumbuhkannya, perlu disesuaikan dengan usia pula. Misalnya, untuk anak balita berikan buku-buku pop-up, untuk usia sekolah dasar (SD) perbanyak koleksi petualangan. Pada lansia, carikan buku tentang persiapan masa tua. ”Ada buku carikan pembacanya, ada pembaca carikan bukunya,” tandasnya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 23 Agustus 2015

Standard
Buku Anak, Literasi, Parenting, Pendidikan, Reading Habit

Biblioterapi, Sembuhkan Trauma Lewat Buku

KEBAYORAN LAMA—Arya adalah seorang murid taman kanak-kanak (TK) yang ceria. Namun, saat mendengar suara hujan dan petir, keceriaannya sontak hilang. Bahkan dia bisa teriak histeris saat melihat hujan. Sikapnya yang tidak biasa itu muncul setelah Arya banyak melihat tayangan di televisi. Yakni, tentang bencana waduk Situgintung yang bobol. Arya mengalami suatu trauma.

Kabar tentang Arya sampai kepada seorang pendongeng yang juga sering menangani trauma healing. Dia adalah Ariyo Zidni. Ariyo pun menggagas treatment untuk membacakan dongeng setiap hari kepada Arya. Dongeng-dongeng itu sebagian besar berhubungan dengan air dan hujan. Dikisahkan bahwa air dan hujan tidak selamanya jahat. Dalam dua minggu, setelah rutin dibacakan dongeng, Arya tidak lagi histeris ketika hujan datang. Bahkan dia telah bisa asyik bermain hujan.

“Yang saya terapkan pada Arya adalah biblioterapi,” ujar Ariyo saat dihubungi Jawa Pos.

Apa itu biblioterapi? Istilah ini mungkin masih asing di telinga kita. Padahal, sebenarnya jenis terapi ini sudah diterapkan sejak lama. Banyak pula orang yang sudah menerapkannya namun tidak disadari.

Menurut Ariyo, biblioterapi adalah menggunakan bacaan yang baik untuk membantu seseorang memahami sesuatu. Salah satu contohnya seperti mengobati trauma yang dialami Arya di atas. Terapi ini juga dapat berguna untuk membantu orang lepas dari beberapa masalah. Seperti, tekanan stres, kurangnya performa kerja, sering gelisah, atau kepercayaan diri yang rendah di depan publik.

Ariyo menjelaskan, terapi ini dapat dilakukan siapa saja. Baik secara mandiri atau pun didampingi terapis. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan buku untuk biblioterapi. Pertama, tentukan tujuan terapi untuk apa. Masalah apa yang dialami dan perubahan apa yang diinginkan?

Kedua, pilih buku sesuai usia. Hal ini menentukan beberapa faktor seperti jenis cerita, tokoh, dan lama baca. Contohnya bagi anak-anak cerita fabel atau dongeng lebih membuat mereka tertarik. Selain itu, lama pembacaan cerita pada anak biasanya tidak lebih dari satu jam.

Secara terpisah, terapis bibliografi dari Universitas Pendidikan Indonesia Susanti Agustina mengatakan biblioterapi bisa dilakukan kepada kanak-kanak usia 0 tahun sampai lansia. Artinya, seorang ibu bisa melakukan biblioterapi untuk mengatasi permasalahan kehamilannya, contohnya  mengantisipasi baby blues. Bagi anak usia dini, biblioterapi berguna untuk mendongkrak minat dan memupuk budaya baca. Selain untuk mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosi.

Sementara, bagi perkembangan anak dan remaja, biblioterapi dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar, masalah salah asuh, pertemanan, percintaan, kehilangan percaya diri, korban bullying, dan lain sebagainya. Bagi dewasa, biblioterapi dapat mengatasi masalah seperti pernikahan, karir dan pekerjaan, bisnis, pengasuhan anak. Bagi lansia, biblioterapi akan membantunya lebih tenang, tidak merasa sendirian, merasa berdaya, seringkali menjadi wahana menyalurkan pegalaman hidupnya yang membuat bahagia ketika diapresiasi.

”Biblioterapi dapat dilakukan secara klasikal, berkelompok, maupun privat,” ujar Susanti.

Secara klasikal artinya, gabungan beberapa individu dapat ikut serta menyelami sebuah kisah dalam buku atau mendiskusikan buku dalam rentang waktu tertentu. Secara grup dapat dilakukan berdasarkan tingkat permasalahan mental dan kognitif yang sama antar individu.

Sementara biblioterapi juga bisa dilakukan secara privat. Bagi individu yang mengalami depresi, psikosomatis, sakit yang tidak memungkinkan untuk berinteraksi intensif dengan orang lain. Privat juga biasanya bagi mereka yang sangat menjaga privasinya, tidak ingin diketahui orang lain tentang permasalahannya, juga mereka yang memiliki tingkat keterbacaan yang lambat. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 22 Agustus 2015

Standard
Buku Anak, Literasi, Reading Habit

Tumbuhkan Minat Baca dari Mendongeng

KUNINGAN—Mimik wajah dan gestur tubuh seorang pendongeng menyita perhatian sekitar 30 anak di SDN Karet Kuningan 01 kemarin (13/6). Pendongeng tersebut membawakan dua cerita rakyat yang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Jawa Tengah. Kisah dari NTB berjudul Puteri Mandalika. Sedangkan kisah dari Jawa Tengah berjudul Gerhana.

Dikisahkan dalam cerita Puteri Mandalika dahulu ada seorang puteri yang dipinang oleh beberapa pangeran. Karena tidak sanggup memilih salah satu di antaranya untuk menjadi suami, puteri tersebut memilih menceburkan diri ke laut. Sang puteri menginginkan dirinya dapat dinikmati oleh banyak penduduk. Karena itu dia menjelma menjadi nyale, sejenis cacing laut yang sering muncul dalam jumlah besar di pantai Lombok.

Anak-anak tersebut diajak untuk menceritakan ulang dongeng tersebut kepada teman-teman lainnya di luar. Sehabis mendengarkan dongeng mereka bersama-sama menghias boneka kayu. Sebuah kayu polos berbentuk boneka bebas dihias menjadi salah satu tokoh yang mereka dengar dari dongeng. Dua siswi kelas 5 SDN Karet 05, Novita Fitri dan Aisyah Putri Ramadhina memilih membuat boneka Puteri Mandalika.  ”Dongengnya seru,” ujar Novita.

Tidak hanya anak-anak, dalam program KidsRead yang diselenggarakan oleh British Council pagi itu para guru dan orang tua pun dilatih agar bisa mendongeng. Metodologi bercerita dalam proses belajar sehari-hari diyakini dapat membuat anak lebih cepat memahami suatu informasi baru. Selain itu juga melatih mengingat segala sesuatu lebih lama.

”Dengan memberikan pengalaman yang menyenangkan dari proses mendengar cerita diharapkan akan meningkatkan minat baca anak-anak,” tutur english development manager british council Myrtha Keshvari saat ditemui dalam kesempatan tersebut.

Menurut Myrtha angka kebiasaan membaca masyarakat Indonesia tergolong rendah. Berdasarkan data UNESCO pada 2012 indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001. Yang berarti hanya satu dari setiap 1.000 orang di Indonesia yang memiliki minat membaca. Dalam menghadapi perkembangan teknologi, orang tua dan guru dituntut semakin kreatif meningkatkan minat baca anak-anak.

”Anak yang terbiasa mendongeng akan lebih komunikatif dan memiliki interpersonal skill yang baik,” tukas pendongeng Ariyo Zidni yang bercerita di depan anak-anak pagi itu.

Lebih lanjut menurut Ariyo kemampuan berpikir logic serta analytical thinking anak akan terasah lewat mendongeng. Lelaki yang sudah mulai mendongeng sejak 1990 ini menyarankan agar mendongeng dilakukan lewat cerita dalam buku. ”Selesai mendengar dongeng anak yang tertarik dengan cerita tersebut akan membuka buku. Sehingga menumbuhkan minat baca,” tandasnya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 28 Mei 2015

Standard
Buku Anak, Literasi, Pendidikan

Buku Cerita Rakyat Bergambar Sorong Selatan

SETIABUDI—Sastra merupakan bagian penting dalam proses pendidikan anak, terutama untuk mengenalkan jati diri mereka. Salah satu bagian dari karya sastra adalah cerita rakyat. Lewat cerita rakyat anak-anak lebih mengenal budaya dan kearifan lokal daerahnya sendiri. Untuk itu, program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Pendidikan dan Bahasa (FPB),Universitas Katholik (Unika) Atmajaya meluncurkan buku kumpulan cerita rakyat untuk kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat.


Di wilayah Timur Indonesia memang masih sangat jarang ditemukan buku kumpulan cerita rakyat setempat. Buku-buku pelajaran SD juga masih didominasi dengan budaya dan cerita rakyat dari wilayah Barat Indonesia. Buku garapan alumni PJJ S1 PGSD FPB Unika Atmajaya ini diklaim sebagai buku cerita rakyat bergambar pertama yang berisi tentang kehidupan masyarakat Timur Indonesia, khususnya kabupaten Sorong Selatan.

“Kami sengaja membuatnya seperti komik agar buku ini mampu dibaca anak-anak mulai kelas 1 hingga kelas 6 SD,” ujar Wakil Dekan Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atmajaya Luciana.

Luciana yang juga menjabat sebagai kepala project buku kumpulan cerita rakyat ini menjelaskan bahwa proses pembuatan buku membutuhkan waktu satu tahun. Awalnya mahasiswa PJJ S1 PGSD FPB Unika Atmajaya diberi tugas untuk menuliskan cerita rakyat kabupaten Sorong Selatan. Mereka melakukan wawancara kepada para ketua adat dan kepala kampung. Setelah itu cerita yang dikumpulkan mereka tuliskan untuk memenuhi kewajiban tugas pembelajaran sastra SD.

Setelah cerita terkumpul, para dosen yang memeriksa tugas tersebut memiliki inisiatif untuk membuatnya dalam bentuk buku. Karena selama ini cerita tersebut hanya diwariskan turun-temurun secara lisan.

Ada 16 cerita rakyat yang terkumpul dalam buku tersebut. Beberapa judul yang diangkat misalnya, Cendrawasih, Asal Mula Api, dan Asal Mula Gunung Meybran. Semuanya merupakan cerita rakyat asli dari kabupaten Sorong Selatan. Buku yang memiliki tebal 147 halaman ini dilengkapi dengan ilustrasi yang dibuat oleh Sutrisno, seorang ilustrator yang sudah memiliki jam terbang cukup tinggi.

Menurut Bupati Kabupaten Sorong Selatan Otto Ihalauw nantinya buku ini akan dimasukkan ke dalam kurikulum mata pelajaran muatan lokal. “Ini adalah suatu pembelajaran penting bagi SDM Sorong Selatan yang berbasis pada potensi dan kebudayaan lokal,” tutur Otto.

Lebih lanjut, Otto menjelaskan masih banyak anak-anak di Sorong Selatan yang tidak mengenal hal-hal terkait kearifan lokal daerahnya sendiri. “Di buku-buku pelajaran banyak disebutkan ‘Ini Budi’, padahal di Sorong Selatan tidak ada yang namanya Budi,” tambah Otto.

Dia juga menyebutkan kabupaten Sorong Selatan saat ini masih krisis jumlah guru yang berkualitas. Di sana baru tersedia 700an tenaga pengajar dari SD hingga SMA. Dari jumlah tersebut hanya 239 guru yang merupakan lulusan S1. Yakni, lulusan dari PJJ S1 PGSD Unika Atmajaya tersebut. “Selain itu belum lulus S1. Padahal UU tentang dosen dan guru mengharuskan para guru minimal berijazah S1,” tambah Otto.

Dia berharap program PJJ untuk para calon guru ini bisa terus dilanjutkan. Demi mencapai ketersediaan guru yang berkompeten di kabupaten Sorong Selatan.

Pendidikan di wilayah Timur Indonesia memang tidak bisa disamakan dengan pendidikan di wilayah lain Indonesia. Kondisinya kini masih banyak ketimpangan. Misalnya, kondisi geografis di Pa.pua menyebabkan anak-anak harus menempuh waktu 5-8 jam untuk mencapai sekolah pulang-pergi. Selain itu, kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak juga masih rendah. Mereka banyak yang disuruh bekerja daripada belajar di sekolah. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 28 April 2015

Standard