Melihat anak jalanan melewati hidup yang keras dan penuh risiko membuat banyak hati prihatin. Namun, hanya segelintir yang mau berbuat nyata bagi mereka. Seperti, Nezatullah Ramadhan yang sejak kuliah sudah mulai menjadi “pengasuh” bagi 15 anak jalanan. Di Nara Kreatif, mereka tidak lagi turun ke jalan namun diajarkan menjalani hidup yang lebih berharga.
MARUTI ASMAUL HUSNA SUBAGIO
SAAT itu usianya baru 21 tahun. Neza, sapaan Nezatullah Ramadhan, masih berstatus sebagai mahasiswa semester 5 jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Jakarta. Setiap habis subuh dia sudah keluar rumah untuk menjajakan beberapa barang dagangan. Akibatnya, masuk kuliah pun sering telat. Terlebih teman-teman kampus sudah banyak yang menjauhinya karena jarang ikut kerja kelompok. Hingga kampus sempat memberi ancaman drop out.
Dia memang harus mencari pendapatan ekstra. Namun, itu bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan untuk menghidupi 15 anak jalanan yang dia tanggung kehidupannya.
Semuanya berawal dari rasa keprihatinan dalam diri Neza setiap kali berpapasan dengan anak jalanan. Perasaan tersebut berkembang menjadi keingintahuan mengapa mereka bisa hidup seperti itu. Dia pun tidak membiarkan perasaan itu berlarut-larut.
Neza memilih terjun, dia melakukan pendekatan selama sebulan pada 15 anak jalanan. Di sebuah tempat jasa pencucian motor, anak jalanan tersebut sering berkumpul. Di sana mereka melakukan pekerjaan sampingan. Di situ jugalah Neza sering berbincang selama sebulan dengan mereka.
”Anak jalanan itu banyak macamnya. Ada yang punya kasih sayang pada keluarga, mereka bekerja untuk membantu kekurangan finansial. Ada juga yang nggak ngerti tentang kesulitan orang tua dan minta yang macam-macam. Lainnya ada yang menjadikan jalanan sebagai tempat pelarian dari kondisi yang tidak mereka harapkan,” papar Neza.
Dari banyaknya masalah anak jalanan yang dia dalami, problem paling utama adalah kesejahteraan dan pendidikan. Neza pun bertekad harus berbuat sesuatu. Dia ingin mengalokasikan anak jalanan ke hidup yang lebih layak. Pun mengajarkan mereka untuk melihat hidup secara jangka panjang. Tidak sekadar hidup untuk tidur dan makan.
Berbekal ilmu di jurusan Teknik Mesin, Neza tercetus ide untuk membuat mesin pendaur ulang. Dari program mahasiswa wirausaha tahun 2012, dia bersama dua teman lainnya mengusulkan ide wirausaha sosial. Konsepnya mendaur ulang limbah kertas perkantoran untuk diubah menjadi produk bernilai jual. Mereka melibatkan anak jalanan sebagai sumber daya manusia (SDM). ”Jadi konsep yang kami usung adalah lingkungan dan sosial,” tutur pemuda kelahiran Padang, 8 April 1991 tersebut.
Dari program tersebut Neza dan dua rekannya menjalankan usaha untuk membantu kehidupan anak jalanan. Namun sayang, dana yang dihasilkan dari program hanya bertahan untuk menghidupi anak-anak selama satu bulan. Selama satu bulan itu pula program wirausaha mahasiswa berakhir. Dua rekan Neza yang lain tidak lagi mendampinginya merawat anak-anak. ”Saya harus jadi orang yang punya prinsip. Apa yang sudah saya jalankan harus sampai pada kata finish,” tukas Neza.
Neza tidak pantang menyerah. Niat awalnya untuk membantu para anak jalanan tetap dia teruskan. Berbagai pengorbanan pun dia lakukan selama setahun merawat 15 anak jalanan tersebut. Semua biaya makan anak-anak 3 kali sehari dia tanggung, sembari mengajari mereka memproduksi prakarya dari limbah daur ulang. Seperti, kalender, map, amplop, paper bag, dekorasi ruangan, dan kebutuhan kantor lainnya.
Mulai mendistribusikan dagangan teman, menggadaikan cincin sang ibunda, hingga meminjam uang tetangga Neza lakukan. Saat itu untuk mendapat limbah bahan produksi pun dirinya harus membeli dari kantor-kantor. Sementara, produk yang mereka hasilkan belum ada yang terjual. ”Saat itu rasanya antara iya dan tidak (untuk melanjutkan ini, Red),” tandas Neza.
Yang mendukung dan terus memotivasi Neza saat itu tidak lain adalah kedua orang tuanya. Sang ibu kerap membantu membuat masakan untuk anak-anak jalanan. Sementara sang ayah yang sudah pensiun menggantikannya mendampingi anak-anak saat Neza kuliah.
”Satu hal yang membuat saya bertahan hingga kini, bahwa saya pernah mendengar janji Allah. Jika kita memikirkan orang lain maka pertolongan Allah itu nyata, sedangkan jika kita memikirkan diri sendiri maka pertolongan Allah pun sedikit menghampiri kita,” kata anak tunggal dari pasangan Astarizal Munaf dan Erma Dewita M ini.
Kini, Neza telah membuktikan keyakinannya itu. Mulai awal 2013, perlahan-lahan bantuan berdatangan. Sebuah perusahaan BUMN yang mengajaknya bekerja sama menyarankan agar Nara Kreatif memiliki badan hukum. Pada April 2013 akhirnya yayasan tersebut memiliki badan hukum resmi. Tidak hanya itu, para anak jalanan pun dipinjami bangunan sebagai tempat tinggal. ”Saat April 2013 jumlah anak-anak sudah berkurang, hanya tinggal 7 sampai 9 anak,” tambah Neza.
Kebutuhan hidup anak-anak tetap hanya bergantung pada produktivitas mereka sendiri. Seiring nama yang mulai dikenal banyak perusahaan yang ingin membeli produk mereka. Bahkan kini banyak kantor yang berlomba-lomba memberikan limbah secara gratis. ”Memang tidak bisa dinalar, waktu kondisi susah limbah saja kami harus beli, saat sudah mulai mapan justru limbah berdatangan dengan cuma-cuma,” ungkapnya.
Saat ini sudah ada 15 perusahaan yang menjadi klien Nara Kreatif. Karya anak-anak pun ditampilkan dalam berbagai pameran. Salah satu yang menjadi kehormatan adalah pada Konferensi Asia Afrika (KAA) lalu Nara Kreatif diundang sebagai penerima tamu sekaligus memamerkan karya mereka. Anak-anak bisa bertemu dan berbincang dengan perdana menteri berbagai negara.
Selama dua tahun berjalan, total anak yang diasuh di bawah yayasan Nara Kreatif telah lebih dari 100 orang. Mereka terdiri dari 10 anak laki-laki dan 5 anak perempuan yang diasramakan serta 100 anak lebih yang mendapat sekolah gratis kejar paket A, B, C. Para pengajar datang dari kalangan mahasiswa di Jakarta. Mulai dari kampus UNJ, UMJ, UI, dan UIN. Para pengajar bekerja profesional dengan mendapat hak dan kewajiban.
Anak-anak yang tergabung kini tak hanya berasal dari kalangan anak jalanan. Tetapi juga anak yatim, prasejahtera, bahkan pecandu narkoba. Tidak hanya diajarkan keterampilan dan usaha, mereka juga mendapat pendidikan agama Islam dan kejar paket. Di angkatan pertama (2013-2014), Nara Kreatif telah meluluskan 25 anak berijazah SD hingga SMA. Serta 15 anak pada angkatan kedua (2014-2015). Selain itu, tiga anak mendapat beasiswa melanjutkan pendidikan perguruan tinggi.
Beberapa penghargaan pun telah diraih Neza dan Nara Kreatif. Beberapa di antaranya, juara umum program mahasiswa wirausaha politeknik tingkat nasional 2013, duta sosial nasional mutiara bangsa berkhasanah dari program BNI Syariah 2014, dan juara pertama wirausaha bank Mandiri kategori wirausaha kreatif dan pariwisata 2015. Neza juga berkesempatan meraih apresiasi Rp 100 juta dari Presiden Jokowi melalui menteri sekretaris negara.
Melewati suka duka tersebut, Neza mengaku ada kalanya emosi bercampur aduk. Terkadang sikap anak-anak melonjak hingga di luar batas. Seperti pura-pura sakit, minta banyak perhatian, dan muncul sifat malasnya. Neza memilih berdiam diri sejenak dan mengajak sang anak berbicara personal selama 1 hingga 2 jam.
Pernah sekitar empat bulan lalu, beberapa anak pecandu narkoba mendatangi Nara Kreatif. Saat mereka sakau, otomatis Neza yang tidak memiliki pengalaman kebingungan. Akhirnya dia memberi anak tersebut susu dan air kelapa muda. Selama seminggu tinggal di sana, anak tersebut masih mengonsumsi narkoba. Beberapa kali bahkan barang milik anak lain menjadi korban karena dicuri.
”Saya terapkan metode hati ke hati. Alhamdulillah anak itu masih bisa kepegang hatinya. Step by step dia menurunkan konsumsi obat dan sampai sekarang sudah tidak kecanduan lagi,” tutur Neza.
Ke depan Neza bermimpi Nara Kreatif memiliki income yang stabil. Tidak lain untuk menunjang kesejahteraan hidup anak-anak. Selain itu, dia berharap Nara Kreatif memiliki tempat sendiri. Karena kegiatan mereka saat ini masih menggunakan rumah sewa dari sebuah CSR. Terakhir, dia berharap anak-anak yang sudah lulus memiliki kesempatan bekerja. (*/dos)
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, diterbitkan di koran Jawa Pos-Metropolitan 16 Agustus 2015