Feature

Sigit Kusumawijaya, Arsitek Hijau dan Inisiator Indonesia Berkebun

Rumah dengan pekarangan hijau membentang adalah suatu kelangkaan di perumahan kota. Namun, di tangan arsitek muda Sigit Kusumawijaya bukan mustahil mewujudkan hal itu. Baginya, lahan terbatas bukan masalah untuk memiliki rumah asri lengkap dengan kebun keluarga yang menyejukkan dan sekaligus mampu mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Dia banyak terinspirasi dari komunitas Indonesia Berkebun yang didirikan bersama rekan arsitek dan berbagai kalangan profesi lainnya.

MARUTI ASMAUL HUSNA SUBAGIO

Mewujudkan lingkungan hidup yang lebih berkualitas adalah salah satu tugas arsitek. Bicara tentang wilayah perkotaan yang terbayang mungkin hanya bangunan rapat yang seakan berebut ruang untuk bernapas. Pemandangan hijau dari kebun-kebun yang menghasilkan sumber makanan seakan berhenti sebatas impian warga kota. Namun, komunitas Indonesia Berkebun membuktikan hal lain. Dengan mengusung konsep urban farming komunitas yang berdiri sejak Oktober 2010 ini berhasil mendekatkan kebun di tengah-tengah perumahan kota yang padat.

Lahir dari ide 20 inisiator lintas profesi, Indonesia Berkebun semakin eksis hingga saat ini. Di antara inisiator tersebut sebagian besar berprofesi sebagai arsitek. Sigit Kusumawijaya adalah salah satunya. Saat itu dia baru pulang dari Belanda setelah menempuh pendidikan S-2 di Delft University of Technology (TU Delft), Belanda. Ridwan Kamil, sang inisiator yang juga sama-sama mempunyai latar belakang di bidang arsitektur, mengajak Sigit dan teman-teman lainnya untuk sama-sama merintis dan menginisiasi gerakan komunitas dengan nama Indonesia Berkebun (akun twitter: @IDberkebun).

Saat ini dari 20 inisiator tersebut hanya sekitar tiga orang yang masih aktif hingga sekarang, termasuk salah satunya Sigit. Namun, generasi penerus Indonesia Berkebun terus berkembang. Salah satunya karena komunitas ini menggunakan basis utama melalui media sosial.

Sejak satu bulan pertama diluncurkan, akun twitter @JktBerkebun, sebagai jejaring pioneer dari Indonesia Berkebun, sudah diikuti sekitar 1000 followers. Jumlah tersebut menjadi berlipat ganda sejak Jakarta Berkebun melakukan launching Tanam Perdana pada 20 Februari 2011. ”Lupa saat itu melonjak jadi berapa, tetapi sekarang jumlah follower-nya sudah 13 ribu, sedangkan follower Indonesia Berkebun sendiri sudah mencapai 108 ribu,” tutur Sigit.

Menurutnya, sejak diluncurkan Indonesia Berkebun memang mendapat euforia yang besar. Belum lagi dilihat dari follower akun twitter Indonesia Berkebun cabang berbagai kota, yang jumlahnya pun masing-masing ribuan. Selain twitter, komunitas ini juga banyak menyebarkan edukasi lingkungan hijau melalui media sosial lainnya seperti facebook, instagram, youtube dan lain-lain.

Tentunya tidak hanya media sosial, gerakan utama Indonesia Berkebun adalah mengajak warga kota untuk turun ke lapangan berkebun bersama di lahan perkotaan. Sejalan dengan tujuan mereka menyebarkan semangat positif untuk lebih peduli kepada lingkungan dan perkotaan dengan program urban farming. Yaitu, memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan yang diubah menjadi lahan pertanian/perkebunan produktif yang dilakukan oleh peran masyarakat sekitar. Saat ini Indonesia Berkebun sudah berkembang dan menularkan semangat ini di 43 jejaring yang terdiri dari 34 kota dan 9 kampus di Indonesia.     

”Banyak lahan di perkotaan yang tidak terpakai malah jadi tempat kumuh dan pembuangan sampah,” tukas Sigit.

Lewat program yang dijalankan Indonesia Berkebun mereka menjalankan tiga kata kunci, yaitu ekologi, edukasi, dan ekonomi. Dengan menghidupkan kembali lahan-lahan tak terpakai di perkotaan mereka berupaya meningkatkan kualitas ekologi lewat pelestarian lingkungan dan air. Kemudian, mengajak masyarakat setempat berperan serta merawat kebun sambil melakukan edukasi lingkungan. Hasil kebun yang dipetik bisa membantu masyarakat meningkatkan ketahanan pangan. Sehingga, tidak perlu membeli ke luar beberapa jenis tanaman yang sudah tersedia di kebun.

Sigit bercerita pengalaman pertama mereka meminjam lahan di kawasan Springhill Residence Kemayoran. Developer yang meminjamkan lahan ternyata sangat welcome dan koopoeratif. Mereka dipinjami lahan seluas 1 hektar. Karena sangat luas, yang dipakai untuk berkebun hanya setengahnya. ”Bahkan developernya menyediakan tukang kebun,” tandas Sigit.

Berbekal pengetahun tentang pertanian yang seadanya, Sigit bercerita dia dan sesama pegiat komunitas mengawali berkebun dengan tanaman yang tangguh dan bandel alias mudah dirawat dan ditanam. Saat itu mereka memilih menanam kangkung. ”Dari sekian banyak yang ditanam ternyata tidak semuanya tumbuh,” kenang Sigit sambil setengah tertawa.

Target dari komunitas Indonesia Berkebun adalah masyarakat urban yang tinggal di perkotaan. Sehingga, Sigit dan para punggawa Indonesia Berkebun perlu memikirkan konsep yang tepat bagi mereka. Agar anggota lama bertahan, konsep berkebun harus fun. Terkadang mereka mengadakan cooking on the spot dari hasil kebun yang dipetik. Kadang juga berkebun sembari diiringi alunan musik, atau mengundang komunitas lain untuk saling berbagi.

”Anggota yang anak muda juga sering selfie di kebun, kemudian diunggah di media sosial. Mungkin lebih banyak selfie-nya daripada berkebun. Tapi nggak apa-apa, yang penting fun dan mereka bisa jadi corong di media sosial, karena anak-anak muda itulah yang sangat aktif di media-media sosial,” jelas Sigit. 

Sudah lima tahun berdiri Sigit mengaku komunitas Indonesia Berkebun sudah menjadi suatu keluarga baru. Banyak kisah yang terjalin antara sesama anggota. Termasuk contohnya ada 5 pasangan anggota yang sudah menikah. ”Awalnya mereka bertemu di kebun dan lama-kelamaan menjalin interaksi,” cerita Sigit.

Bagi dirinya pribadi pun aktivitas Indonesia Berkebun banyak memengaruhi karya-karya arsitektural yang dia ciptakan. Lulusan sarjana teknik dari Universitas Indonesia ini bercita-cita memperkaya konsep green architecture. Salah satunya mengintegrasikannya dengan konsep urban farming. Dari situ bisa mendekatkan masyarakat dengan sumber makanan. Dia berharap hal ini ikut mengantisipasi isu krisis pangan yang sering berkembang.

Sigit bisa dibilang arsitek yang sensitif dengan isu kemanusiaan. Dalam karya thesis-nya Sigit mengangkat persoalan restrukturisasi kampung kumuh di Cape Town, Afrika Selatan. Selama dua minggu dia berkunjung ke negara kulit hitam tersebut.

Saat ini Sigit juga menjadi principal architect di perusahaan konsultan yang ia dirikan dengan nama sigit.kusumawijaya | architect & urbandesigner (www.sigitkusumawijaya.com). Isu ketahanan pangan menjadi sorotan dalam konsep green architecture dalam karya-karya Sigit. Dia menganggap green architecture tidak sebatas penghematan energi dan penambah nilai estetika saja, namun juga yang bisa memenuhi kebutuhan pangan penghuni bangunan tersebut secara sustain, khususnya sayuran. Dia memperkuat karya-karya desain tersebut dengan riset yang sekarang dia lakukan. Yang bertujuan menghitung kebutuhan pangan seisi penghuni rumah dapat tercukupi melalui desain urban farming.

”Kebun di rumah tidak harus di pekarangan, bisa juga diintegrasikan dengan atap (rooftop garden) bahkan fasad rumah (vertical garden),” tukas Sigit.

Sebagai arsitek muda dengan setumpuk prestasi, Sigit menyimpan harapan untuk dunia arsitektur Indonesia. Salah satunya, saat ini dia menjadi anggota Executive Steering Committee (SC) untuk Atap Jakarta-House Vision Indonesia, sebuah organisasi yang fokus melakukan riset “hunian masa depan” di Jakarta.

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 15 Juli 2015

Standard
Feature

Arief Rahman, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia di Karimunjawa

Sedikit masyarakat yang peduli dengan lingkungan tempat tinggalnya. Lebih sedikit lagi yang tergerak menjadi penggagas kelestarian lingkungan tersebut. Kontribusi ARIEF RAHMAN sebagai penggagas Himpunan Pramuwisata Indonesia di tempat tinggalnya, Karimunjawa perlu diacungi jempol. Sejak didirikan pada 2005 hingga kini dia masih menjabat sebagai ketua perhimpunan tersebut.

MARUTI ASMAUL HUSNA SUBAGIO

Tiba di Karimunjawa Anda akan disuguhi lautan jernih yang tampak sampai ke dasarnya. Pantai berpasir putih jadi tempat yang menenangkan sembari memandang ke lautan biru di depan. Tak heran Karimunjawa selalu ramai didatangi wisatawan dari dalam negeri maupun mancanegara. Objek wisata paling terkenal di pulau ini adalah snorkeling. Laut Karimunjawa menyimpan harta karun berupa kekayaan biota laut.

Setiap pekannya terdapat 1500—2000 wisatawan yang berkunjung ke pulau yang termasuk dalam Kabupaten Jepara, Jawa Tengah ini. Mereka datang silih berganti. Seolah wisatawan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pulau berpenduduk sekitar 10.000 orang itu. Tamu adalah raja, kata mereka. Bahkan, listrik bertenaga diesel di Karimunjawa yang hanya dinyalakan setengah hari mereka prioritaskan untuk mencukupi kebutuhan para tamu hotel atau homestay.

Di tempat penginapan tersebut setiap kamar rata-rata memiliki fasilitas TV dan AC. Sementara, rumah warga ala kadarnya. Hotel dan homestay memang menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat di Karimunjawa. Menurut Arief Rahman selaku Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia di Karimunjawa setiap tahun sekitar 10 tempat penginapan baru dibangun di pulau ini.

Banyaknya potensi wisata di Karimunjawa ini membuat laki-laki paruh baya tersebut bersama beberapa rekannya menggagas Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) di Karimunjawa. Pertama kali didirikan pada 9 April 2005, menurut Arief perhimpunan ini berawal dari arahan dinas pariwisata Provinsi Jawa Tengah. Namun, seiring berjalannya waktu campur tangan dinas tersebut mulai luntur. Bahkan Arief menyayangkan tidak adanya pembinaan yang dilakukan dinas pariwisata setempat pada anggota HPI Karimunjawa beberapa tahun terakhir.

Meski sudah 10 tahun berjalan sendiri Arief bertahan ditunjuk sebagai ketua himpunan tersebut. Kini dia membawahi 160 anggota HPI yang semuanya merupakan penduduk asli Karimunjawa. Mereka direkrut setelah berusia 17 tahun. ”Antusiasme pemuda Karimunjawa untuk masuk HPI saat ini semakin besar,” ujar Arief.

Sebagai kawasan destinasi dunia yang mulai dikenal sekitar dua dekade terakhir Karimunjawa banyak dilibatkan dalam event nasional maupun internasional. Peran HPI cukup besar dalam hal ini sebagai tuan rumah yang menyiapkan kebutuhan wisatawan. Beberapa event tersebut contohnya Sail Indonesia yang diadakan tiap tahun, yang terbaru akan dilaksanakan pada 29 Oktober mendatang. Dalam event tersebut sebanyak 22 kapal dari berbagai negara akan melintasi Darwin, Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan Karimunjawa. Salah satu tujuannya adalah mempromosikan Indonesia termasuk Karimunjawa kepada dunia internasional. Kemudian lomba mancing se-Indonesia yang akan digelar pertengahan Oktober pula. 

Program rutin HPI lainnya adalah bersih-bersih pantai setiap hari Jumat dan menjadi guide bagi wisatawan. Awalnya setiap 15 wisatawan diberikan 1 orang guide, namun seiring bertambahnya anggota HPI 1 orang guide hanya boleh bertanggungjawab atas 10 wisatawan. ”Supaya lebih aman untuk wisatawan sendiri sekaligus pemberdayaan anggota HPI,” tukas Arief yang mengusulkan perubahan ini.

Arief termasuk tegas dalam menegakkan prosedur keamanan bagi siapa pun wisatawan di Karimunjawa. Pernah sebuah rombongan yang merupakan anggota DPR komisi tertentu datang ke Karimunjawa sekitar 17 orang. Saat berlayar mereka tidak menggunakan life jacket. Arief bercerita salah satu di antara mereka berujar, ”Saya kan DPR,”. Namun dia tidak takluk dan menimpali, ”Justru DPR harus mencontohkan masyarakat.”

Dia sering memeringati wisatawan untuk menaati prosedur keamanan di laut, termasuk life jacket. Belajar dari pengalaman pahit seorang mahasiswa yang harus melepas nyawa pada 2001 karena tidak menggunakan benda pengaman tersebut.

Tidak cukup sampai di situ, Arief juga sering mendampingi nelayan yang mengalami cedera untuk berobat ke rumah sakit. Biasanya mereka mengalami keluhan setelah menyelam tanpa menggunakan alat selam yang sesuai standar.

”Banyak nelayan yang menyelam pakai compressor, padahal ini sangat berisiko bagi kesehatan,” tukasnya.

Para nelayan tersebut seringkali menyelam 2—3 jam di dalam laut menggunakan compressor. Padahal menurut standar menyelam hanya diperbolehkan 1 jam. Akibatnya banyak di antara nelayan tersebut yang mengalami dekompresi (berjalan seperti robot), lumpuh, bahkan bisa menyebabkan kematian. Rumah sakit yang mampu menangani keluhan tersebut hanyalah rumah sakit TNI Angkatan Laut. Menurut Arief yang terdekat di Lakesla TNI AL, Surabaya.

Arief juga telah mengantongi enam jenjang sertifikat menyelam dari tujuh sertifikat selam yang ada. Perolehannya merupakan yang tertinggi di antara para anggota HPI yang lain, yakni A1 hingga A3 dan B1 hingga B3 untuk jenjang instruktur. Kualifikasinya bermacam-macam seperti sertifikasi menyelam secara independen, menyelam di laut gelap, dan juga instruktur selam.

”Kalau di darat istilahnya seperti SIM (surat izin mengemudi, Red),” papar Arief.

Harapan Arief untuk Karimunjawa, terutama perbaikan pada sektor transportasi. Sebagai ketua HPI dia sering menerima keluhan wisatawan yang tidak bisa pulang tepat waktu ke tempat asalnya. Hal itu dikarenakan kondisi ombak di laut Karimunjawa yang berubah-ubah. Pada kondisi ombak yang besar kapal tidak bisa dipaksakan berlayar.

”Banyak wisatawan yang sudah merencanakan jadwal kepulangan terpaksa diundur. Saya harus buatkan surat izin ke kantor tempat mereka bekerja karena tertahan di Karimun,” tandas Arief.

Karena itu dia berharap pada sektor transportasi udara. Saat ini baru ada Susi Air tetapi hanya terbang pada Kamis dan Jumat, sementara wisatawan banyak yang pulang di hari Minggu. ”Semoga jadwal terbang bisa ditambah,” tutur Arief.

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 7 Juli 2015

Standard
Buku Anak, Literasi, Reading Habit

Tumbuhkan Minat Baca dari Mendongeng

KUNINGAN—Mimik wajah dan gestur tubuh seorang pendongeng menyita perhatian sekitar 30 anak di SDN Karet Kuningan 01 kemarin (13/6). Pendongeng tersebut membawakan dua cerita rakyat yang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Jawa Tengah. Kisah dari NTB berjudul Puteri Mandalika. Sedangkan kisah dari Jawa Tengah berjudul Gerhana.

Dikisahkan dalam cerita Puteri Mandalika dahulu ada seorang puteri yang dipinang oleh beberapa pangeran. Karena tidak sanggup memilih salah satu di antaranya untuk menjadi suami, puteri tersebut memilih menceburkan diri ke laut. Sang puteri menginginkan dirinya dapat dinikmati oleh banyak penduduk. Karena itu dia menjelma menjadi nyale, sejenis cacing laut yang sering muncul dalam jumlah besar di pantai Lombok.

Anak-anak tersebut diajak untuk menceritakan ulang dongeng tersebut kepada teman-teman lainnya di luar. Sehabis mendengarkan dongeng mereka bersama-sama menghias boneka kayu. Sebuah kayu polos berbentuk boneka bebas dihias menjadi salah satu tokoh yang mereka dengar dari dongeng. Dua siswi kelas 5 SDN Karet 05, Novita Fitri dan Aisyah Putri Ramadhina memilih membuat boneka Puteri Mandalika.  ”Dongengnya seru,” ujar Novita.

Tidak hanya anak-anak, dalam program KidsRead yang diselenggarakan oleh British Council pagi itu para guru dan orang tua pun dilatih agar bisa mendongeng. Metodologi bercerita dalam proses belajar sehari-hari diyakini dapat membuat anak lebih cepat memahami suatu informasi baru. Selain itu juga melatih mengingat segala sesuatu lebih lama.

”Dengan memberikan pengalaman yang menyenangkan dari proses mendengar cerita diharapkan akan meningkatkan minat baca anak-anak,” tutur english development manager british council Myrtha Keshvari saat ditemui dalam kesempatan tersebut.

Menurut Myrtha angka kebiasaan membaca masyarakat Indonesia tergolong rendah. Berdasarkan data UNESCO pada 2012 indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001. Yang berarti hanya satu dari setiap 1.000 orang di Indonesia yang memiliki minat membaca. Dalam menghadapi perkembangan teknologi, orang tua dan guru dituntut semakin kreatif meningkatkan minat baca anak-anak.

”Anak yang terbiasa mendongeng akan lebih komunikatif dan memiliki interpersonal skill yang baik,” tukas pendongeng Ariyo Zidni yang bercerita di depan anak-anak pagi itu.

Lebih lanjut menurut Ariyo kemampuan berpikir logic serta analytical thinking anak akan terasah lewat mendongeng. Lelaki yang sudah mulai mendongeng sejak 1990 ini menyarankan agar mendongeng dilakukan lewat cerita dalam buku. ”Selesai mendengar dongeng anak yang tertarik dengan cerita tersebut akan membuka buku. Sehingga menumbuhkan minat baca,” tandasnya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 28 Mei 2015

Standard
Teknologi

Teknologi ECCT Indonesia Beri Harapan Terapi Kanker Dunia

Kanker masih masuk dalam daftar penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di dunia. Menurut world health organization (WHO) kanker adalah jumlah penyakit yang tumbuh paling cepat di muka bumi saat ini. Tahun 2030 diperkirakan akan muncul 22 juta kasus di seluruh dunia dari 14 juta kasus pada 2012. Di Amerika dicatat ada 1,7 juta kasus kanker setiap tahunnya. Di Cina terdapat 2.2 juta kasus setiap tahun. Sementara di Indonesia dilaporkan sekitar 250.000 kasus baru kanker setiap tahunnya.

”Belum ada metode yang mampu secara efektif menangkal perkembangan kanker hingga bisa sembuh,” ujar presiden American Society for Laser Accupunture Therapy Steven Lui dalam kuliah umumnya pada kongres ke-10 international society for medical laser applications (ISLA) di Beverungen, Jerman 12—13 Juni lalu.

ISLA merupakan komunitas yang beranggotakan para peneliti, dokter, dan praktisi kesehatan.

Mereka adalah ilmuwan dunia yang aktif mencari dan mengembangkan teknologi baru untuk menghadapi kanker. Teknologi yang digunakan berbasis sumber energi rendah seperti low level laser therapy (LLLT), stem cells, dan immunotherapy.

C-Tech Labs Edwar Technology Indonesia adalah satu dari sedikit pengembang teknologi yang berasal dari negara berkembang. Pengembangan teknologi tersebut masih didominasi oleh negara-negara maju seperti Jerman, Jepang dan Amerika. C-Tech Labs mengembangkan metode untuk menangani kanker pertama di dunia menggunakan sumber gelombang listrik berenergi rendah (kurang dari 30 Watt). Alat tersebut dinamai Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT).

Dalam Kongres ISLA ke-10 tersebut direktur C-Tech Labs sekaligus penemu ECCT Warsito P. Taruno mempresentasikan makalahnya yang berjudul “Terapi Kanker Payudara Stadium 4 yang Sudah Menyebar ke Paru-Paru, Liver, Tulang, dan Otak dengan ECCT.” Hasil yang dipresentasikan oleh Warsito mengundang rasa ketidakpercayaan di antara 150 peserta kongres.

Ketidakpercayaan itu masuk akal karena sejauh ini tingkat kesembuhan kanker dengan metode kemo di seluruh dunia hanya mencapai 3 persen, menurut klaim para onkolog. ”Itu pun terbatas untuk kasus kanker paru-paru, prostat, dan payudara yang terdeteksi pada stadium awal,” jelas Steven Lui.

Ditambah biaya pengobatan yang sangat mahal mencapai Rp 70—140 juta per tahun sebelum 2000. Serta lebih dari Rp 1,4 miliar per tahun untuk obat-obat yang ditemukan setelah 2012. Untuk kasus kanker yang sudah mengalami metastasis ke organ penting seperti paru-paru, liver, tulang, dan otak, rumah sakit rujukan di Amerika, Mayo Clinic, menyebutkan hanya 4 persen yang mampu bertahan hingga 5 tahun.

Sementara, menurut presentasi Warsito teknologi ECCT mampu memberikan banyak hasil. Puluhan kasus stadium final kanker mengalami perbaikan. Dari kondisi yang sudah tidak mampu bangun dari tempat tidur hingga mampu beraktivitas secara normal kembali. Warsito juga mempublikasikan hasil statistik pasien yang melakukan terapi ECCT. Umumnya lebih dari 70 persen adalah kasus stadium lanjut.

Presiden ISLA yang juga penemu low level laser therapy (LLLT) untuk terapi kanker dan weber laser yang sudah banyak dipakai di dunia Mikhael Weber, mengaku terkesan dengan hasil yang dicapai ECCT. “Dengan LLLT saya mendapatkan hasil terapi yang luar biasa, ada satu kasus kanker payudara yang awalnya ukuran 5 cm dalam 1 tahun mengecil hingga menjadi 2 cm. Tetapi melihat hasil ECCT di mana banyak kasus kanker yang telah menyebar ke paru-paru, tulang dan otak bisa kembali normal dalam waktu yang relatif singkat saya benar-benar tak bisa komentar,” ungkap Weber saat berkunjung ke fasilitas klinik dan penelitian C-Tech Labs di Alam Sutera Tangerang 2014 lalu.

Dalam Kongres ISLA ke-10 tersebut juga ditandatangani perjanjian kerjasama antara C-Tech Labs dan Medical Systems, perusahaan Weber. Tujuannya memanfaatkan teknologi ECCT untuk terapi kanker di Jerman dan seluruh jaringan klinik Medical Systems di dunia. Selain itu, teknologi ECCT juga diterapkan untuk sebagian pasien di Jepang dan Polandia. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 17 Juni 2015

Standard
Kehamilan, Kesehatan, Perkembangan Anak

Stunting Pengaruhi Kemampuan Intelektual

SENEN – Persoalan stunting (anak bertubuh pendek) di Indonesia tergolong sebagai kasus kesehatan masyarakat yang berat. Itu juga diakui World Health Organization (WHO) dengan catatan telah melebihi jmlah 30 persen. Sedangkan, stunting di Indonesia pada 2010 mencapai 35,7 persen.  Menurut data riset kesehatan dasar (Riskesdas), angka tersebut menempatkan Indonesia berada di urutan kelima berdasar kontribusi terhadap beban global dari masalah stunting.

Stunting merefleksikan keadaan kurang gizi kronis pada anak. Hal tersebut menjadi perhatian utama karena dampak jangka panjangnya tidak dapat diubah. Dampak tersebut seperti, perawakan pendek saat dewasa, rendahnya produktivitas kerja, dan rendahnya pencapaian di sekolah.

”Pada kasus stunting ada sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan intelektual,” ujar Luh Ade Ari Wiradnyani saat ditemui pada acara promosi doktoralnya di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) kemarin (23/6).

Luh mengatakan, kasus stunting pada perempuan akan mempengaruhi ukuran panggul dan rahim, sehingga membatasi janin ketika dalam kandungan. Idealnya ibu hamil memiliki tinggi minimal 150 cm. ”Ibu yang stunting lebih berisiko melahirkan anak yang stunting pula,” tambahnya.

Luh menjelaskan bahwa pemerintah telah memiliki empat program untuk mengatasi masalah kekurangan gizi dan stunting pada anak. Program tersebut di antaranya konsumsi tablet tambah darah (TTD) pada ibu hamil, pemberian ASI pada bayi usia 0–6 bulan, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI), dan pemberian vitamin A kapsul pada balita.

Dalam penelitian yang dilakukan Luh ditemukan bahwa yang paling berpengaruh pada kasus stunting hanya dua dari empat program tersebut. Keduanya adalah konsumsi TTD pada ibu hamil dan pemberian MPASI pada anak usia 6–24 bulan.

Menurut Luh TTD seharusnya dikonsumsi sejak pemeriksaan pertama kehamilan (bulan pertama kehamilan). Untuk seterusnya dikonsumsi setiap hari hingga bayi lahir. Kategori kepatuhan konsumsi TTD ibu hamil adalah apabila melewati batas minimal 90 tablet selama kehamilan. Target tersebut masih rendah penerapannya di masyarakat. ”Dibutuhkan dukungan dari suami untuk sering mengingatkan ibu hamil mengonsumsi TTD,” tukas Luh.

Selain itu, pemberian MPASI juga masih sering diabaikan. Luh mengatakan, sebagian ibu mengira anak sudah kenyang dengan ASI. Namun, kandungan ASI tidak mencukupi kebutuhan gizi anak usia 6–24 bulan. Di dalam ASI ada beberapa mikronutrien yang tidak ada, seperti zat besi. Zat tersebut hanya bisa didapat dari makanan pendamping ASI, seperti sayuran. ”ASI tetap diberikan, tapi setelah 6 bulan harus ditambah MPASI,” tutur Luh.

Dia menambahkan, MPASI yang direkomendasikan WHO minimal mengandung empat kelompok makanan dari tujuh kelompok makanan yang dibutuhkan bayi. Tujuh kelompok makanan tersebut adalah sereal dan nasi, kacang-kacangan, susu, telur, daging atau ikan, sayur yang mengandung vitamin A, dan sayuran lainnya. ”Dalam sehari minimal anak mengonsumsi empat jenis kelompok makanan tersebut,” tandasnya. (uti/ind)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, diterbitkan di koran Jawa Pos-Metropolitan 24 Juni 2015

Standard
Feature, Parenting

Maria Ernie, Lihai Menyulam dengan Satu Tangan (Kisah Lansia di Panti Jompo)

Langit cerah dan matahari sedang banyak melimpahkan sinarnya. Suasana siang biasanya dimanfaatkan oleh orang lanjut usia (lansia) untuk beristirahat. Apalagi yang sudah mencapai usia kepala delapan. Namun, di dalam Panti Sasana Tresna Werdha Karya Kasih Maria Ernie (82 tahun) masih giat melanjutkan sulaman taplak meja terbarunya.

Saat Jawa Pos mendatangi panti tersebut, tampak satu dua lansia yang berada di luar kamar. Seorang oma sedang menonton drama di televisi. Sementara, oma yang lain baru saja menerima kiriman makanan dari sang anak. Selesai memberikan makanan dan menyapa sang ibu, anak tersebut meninggalkan panti menggunakan sepeda motornya. Sejauh mata memandang di koridor panti hanya ada para lansia yang beraktivitas sendiri-sendiri.

Di sebuah kamar yang berseberangan dengan kantor sekretariat panti, seorang oma tampak duduk memangku selembar kain. Di sampingnya terletak benang warna kuning dan gunting. Pandangannya tidak bergerak dari kain tersebut. Dialah Oma Maria Ernie atau yang biasa dipanggil Oma Ernie.

Oma Ernie tampak lihai menusukkan benang dan jarum mengikuti pola bentuk bunga berwarna kuning. ”Lagi buat taplak meja,” ujarnya.

Sekilas tidak ada yang terlihat berbeda. Meski semua orang yang melihat mungkin akan terkagum di usia yang sedemikian lanjut dia masih bisa menghasilkan karya. Namun, saat Oma Ernie berdiri mengambil jatah snack yang disediakan pengurus, saya terkejut dalam hati. Tampak tangan kiri Oma Ernie sudah tidak lengkap lagi. Tangan itu telah kehilangan jari-jemari hingga lengan sebatas siku. Ternyata sedari tadi Oma Ernie menyulam hanya dengan satu tangan yang masih lengkap.

”Dulu pernah kanker tulang jadi diamputasi,” tutur perempuan kelahiran 26 Maret 1933 ini.

Oma Ernie bercerita dia mengalami kanker tersebut sekitar dua puluh tahun lalu. Namun, kondisi itu tidak menyurutkannya untuk produktif berkarya. Selama di panti dia telah menghasilkan puluhan prakarya. Dia diajari oleh seorang pelatih yang didatangkan oleh pengurus panti. ”Kalau sudah selesai ini dijual,” tukas Oma Ernie.

Mungkin yang dibayangkan orang-orang lansia yang tinggal di panti werdha tidak bahagia. Tetapi hal itu tidak tampak pada Oma Ernie saat itu. ”Anak masih ada di Jakarta, sering juga jenguk ke sini,” tandasnya.

Menurut catatan pengurus panti Oma Ernie adalah penghuni yang paling lama tinggal di sana. Sudah 16 tahun dia habiskan sebagian besar kehidupan di panti itu. Beberapa bulan sekali dia menginap di rumah sang anak. Dari pihak pengurus pun memiliki program membawa para lansia menginap di luar kota setiap dua tahun sekali. Itu sebagai program rekreasi mereka. Oma Ernie menyebutkan sudah pernah diajak ke beberapa tempat wisata seperti Puncak, Anyer, Cibubur, dan Ancol.

Ditanya mengenai rahasia tetap sehat di masa tua Oma Ernie menjawab intinya jangan bengong. Isi waktu dengan aktivitas menyenangkan. Sehari-hari Oma Ernie terbiasa tidur di bawah pukul sembilan malam dan bangun pada pukul empat pagi.

(Tambahan dari sisi pengurus):

Sehari-hari para lansia pun diberi makanan yang mendapat rekomendasi ahli gizi. Sekretaris Panti Sasana Tresna Werdha Karya Kasih Widyanti Rafael Djari menyebutkan setiap pagi para lansia mengikuti agenda kebaktian. Dilanjutkan dengan sarapan dan aktivitas bebas. Sebagian ada yang suka berkebun, ada juga yang memilih berbelanja ke luar. ”Untuk lansia yang perlu pendampingan, saat berbelanja keluar didampingi pengurus,” tutur Widyanti.

Dalam sepekan, Panti Sasana Tresna Werdha Karya Kasih memiliki dua agenda khusus. Yakni membuat prakarya pada hari selasa dan bermain angklung pada hari rabu. Sudah beragam jenis prakarya yang dihasilkan dari panti werdha berisi 30 lansia perempuan ini. Mulai dari tas daur ulang, sulam-menyulam, dan kerajinan osibana (hiasan bunga kering).

Widyanti menuturkan lansia yang dititipkan di panti masih memiliki keluarga. Alasan dititipkannya bermacam-macam. Pada kondisi seorang lansia, dia memiliki lima anak yang empat di antaranya tinggal di luar negeri. Oma tersebut menolak ketika diajak tinggal di luar negeri karena tidak tahan dengan iklimnya yang dingin.

”Di sini saya merasa ada panggilan hati,” tukas Widyanti. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 13 Juni 2015

Standard
Diet dan Olahraga, Kesehatan

Olahraga saat Puasa Dianjurkan Pagi–Sore

JAKARTA – Meski sedang berpuasa, tapi tubuh tetap dianjurkan untuk bergerak aktif. Makanya, Olahraga saat puasa tidak dilarang, justru dianjurkan. Namun, harus tepat dalam pemilihan waktu berolahraga, durasi, serta jenis olahraga yang dilakukan.

Menurut ahli fisiologi olahraga dr Ermita I. Ilyas, olahraga saat puasa ada dua pilihan waktu yang baik. Yakni, saat pagi dan sore. Olahraga pagi di bulan puasa dianjurkan dilakukan tiga jam setelah sahur. Pada waktu tersebut energi dan glukosa yang tersimpan dalam tubuh masih banyak.

Namun, olahraga yang dianjurkan hanyalah olahraga ringan yang tidak mengeluarkan banyak keringat. Durasi ideal dilakukan selama 20 menit. ”Bisa dengan jalan kaki atau bersepeda,” ujar Ermita.

Sedangkan, pilihan waktu kedua, yakni setengah jam sebelum berbuka. Alasannya, saat kadar gula darah menurun bisa langsung dipenuhi kembali saat berbuka. Jenis olahraga yang dipilih juga olahraga ringan seperti berjalan dan bersepeda. Namun, bagi penderita diabetes tidak dianjurkan berolahraga saat sore hari. Sebab, saat tersebut kadar gula darah sedang rendah. Bagi penderita diabetes disarankan memilih waktu pagi sekitar 15–20 menit. ”Baik kalau bisa olahraga 3 kali seminggu saat puasa,” tutur Ermita.

Ermita menjelaskan, bahwa saat puasa penting bagi tubuh untuk bergerak aktif. Manfaat yang dirasakan adalah tubuh lebih segar, tidak lemas, dan tidak mudah mengantuk. Selain itu, kadar gula darah lebih stabil. Berbeda jika saat puasa dihabiskan dengan banyak tidur. Menurut Ermita, dengan tidur hormon adrenalin tidak keluar. ”Tubuh jadi tambah lemas dan gampang lapar karena kadar glukosa rendah,” ujarnya.

Hormon adrenalin dibutuhkan untuk memecah sumber energi dalam tubuh menjadi energi. Karena itu, saat beraktivitas dan bekerja aktif lapar saat puasa justru tidak terasa. Ermita menambahkan tidur sehabis sahur juga perlu diatur. Yakni, sekitar satu jam setelah sahur agar makanan dalam lambung sudah turun. Tidur saat puasa diperbolehkan jika waktunya tidak terlalu lama. ”Cukup 1–2 jam saat pagi atau siang agar menjadi cadangan energi di waktu malam,” tambahnya. (uti/ind)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 22 Juni 2015

Standard
Feature

Satu Senyum, Komunitas Pasien dan Keluarga Penyandang Celah Bibir dan Langit-Langit

Satu Senyum merupakan sebuah komunitas yang mempersatukan para penyandang celah bibir dan langit-langit (CBL). Dulu, CBL dikenal dengan nama bibir sumbing. Komunitas ini baru diresmikan 3 November 2013. Namun, hingga kini sudah terhimpun ratusan anggota. Mereka saling berbagi.

Maruti Asmaul Husna Subagio

JARI lentik Fina tampak lihai memetik senar gitar yang dimainkan di atas panggung. Matanya berbinar, meski bibirnya hanya bisa tertutup. Keterbatasan sebagai penyandang celah bibir dan langit-langit (CBL) membuatnya sulit bernyanyi.

Pagi itu, dia membawakan lagu Jangan Menyerah. Dia dibantu seorang penyanyi untuk mendendangkan judul lagi tersebut. Alunan musik yang terdengar dari petikan gitarnya mengalir merdu. Lewat sinar matanya, tampak ada pancaran semangat yang ingin ditularkan kepada para penonton.

Di bawah panggung, Yenny sibuk dengan kameranya. Dia membantu Fina mendokumentasikan pertunjukan pertama sahabatnya itu. Dari komunitas Satu Senyum lah, dara manis berkulit putih ini saling kenal. Fina dan Yenny berkumpul dalam gathering komunitas Satu Senyum.

Tidak hanya Fina dan Yenny, Minggu pagi itu banyak juga anggota penyandang CBL yang datang ikut gathering. Mereka dari beragam keluarga dan usia. Anak-anak penyandang CBL juga terlihat asyik bermain dan berlari-lari. Tidak ada gurat minder yang tampak. Membaur dalam rajutan kebersamaan.  ”Saya jadi merasa tidak sendirian lagi,” ujar Fina yang lahir di Jakarta pada 10 Maret 1987 itu.

Fina pun bercerita. Termasuk tentang pengalaman operasi pertamanya. Namun, operasi tidak berlanjut. Perubahan wajahnya ke kondisi normal pun belum selesai. Nah, pada 2014, Fina mencoba mencari informasi operasi CBL melalui internet. Dia menemukan website komunitas Satu Senyum.

Selanjutnya, dia langsung diajak bergabung ke komunitas tersebut melalui grup Whatsapp dan Faceboook. Setelah mendapat rekomendasi dari teman-temannya di komunitas itu, akhirnya Fina menjalani operasi kedua pada tahun yang sama. Dari Satu Senyum pula Fina memiliki sahabat dekat yang juga senasib. Dia adalah Yenny.

 Fina dan Yenny kali pertama bertemu setelah diperkenalkan oleh terapis wicara mereka. Yakni, Rita Rahmawati. Perkenalan keduanya saat berada di rumah sakit. ”Minimal tidak merasa sendiri, senang bisa ketemu teman yang sama,” ungkap Fina.

Tidak sebatas rekan di komunitas. Keduanya juga saling berbagi untuk bisa mewujudkan mimpi menjadi pengusaha. Saat ini, Yenny masih kuliah di jurusan manajemen Universitas Trisakti. Sementara Fina sudah bekerja sebagai tenaga administrasi di perusahaan keluarga. Nah, karena pertemanan, sering Fina menitipkan barang jualannya kepada Yenny untuk ikut memasarkannya. ”Yenny pintar dalam marketing,” tandas Fina.

Dua karib itu memiliki sedikit perbedaan dalam kasus CBL yang dialami. Yenny mengalami palatositis atau celah langit-langit. Dia sudah menjalani operasi pertama pada usia 5 tahun di Singapura. Namun, dari operasi pertama dokter yang menangani tidak tahu bahwa penyandang palatositis harus menjalani terapi wicara. Barulah pada usia 15 tahun, Yenny menjalani terapi wicara. Operasi kedua dilakukan lagi satu tahun yang lalu.

”Setelah operasi terapi wicara lebih intens, dan sampai sekarang masih dijalani,” tukas Yenny.

Beda lagi dengan yang dialami Fina. Dia mengalami kasus CBL tidak hanya pada langit-langit, tetapi juga bibir. Kasus ini lazim disebut labiopalatositis. Sama seperti yang dirasakan Yenny, Fina juga menjalani terapi wicara sampai saat ini.

Terapi tersebut mereka lakukan untuk menghilangkan suara sengau pada penyandang CBL. Suara sengau pada CBL tidak bisa dihilangkan hanya dengan operasi. Namun, harus melalui terapi wicara. Tujuannya melatih fungsi organ langit-langit mulut mereka.

Atas rekomendasi dari rekan-rekan di komunitas Satu Senyum, Fina melakukan terapi wicara pascaoperasi kedua. Operasi tersebut dilakukan pada 27 Oktober tahun lalu.

Menurut Fina, saat terapi dilatih untuk menyebutkan huruf-huruf yang sulit dilafalkan oleh penderita CBL. Misalnya, p, b, g, dan d. ”Sejak awal terapi hingga sekarang sudah ada kemajuan,” tutur Fina.

***

Sejak diresmikan pada 3 November 2013 lalu, komunitas Satu Senyum berhasil menghimpun banyak anggota. Setidaknya sudah lebih dari 400 orang. Mereka berasal dari berbagai kota di Indonesia. Mulai Jakarta, Palembang, Medan, Jambi, Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Tingginya peningkatan jumlah anggota Satu Senyum menjadi satu bukti keterbatasan informasi tentang CBL. ”Nah, komunitas Satu Senyum ini berupaya ikut mengampanyekan perawatan dan penanganan yang tepat pada kasus CBL,” ujar Dwi Chahyaningsih, ketua komunitas Satu Senyum.

Dwi mengatakan, pihaknya bersama rekan-rekan Satu Senyum siap bertindak sebagai pusat dukungan dan informasi tentang perawatan CBL. Yang disasar adalah para orang tua dan penyandang CBL di seluruh Indonesia. Kasus CBL tidak boleh dianggap remeh. Menurut dia, kasus CBL seringkali berpengaruh pada beberapa gangguan bagi para penyandangnya. Misalnya, sulit mengunyah dan menelan, gangguan pertumbuhan dan perkembangan rahang, pendengaran, efek psikologis, dan fungsi bicara.

”Bahkan masih banyak dokter yang tidak tahu jika penyandang CBL seharusnya menjalani terapi wicara pasca operasi,” tukas Dwi.

Lewat Satu Senyum, pihaknya memberikan rekomendasi dokter dan rumah sakit yang berpengalaman menangani pasien CBL. Selain itu, juga memberikan dukungan moral kepada para anggotanya. Hampir setiap hari grup Whatsapp komunitas ini ramai dengan cerita-cerita para anggota. Mereka berbagi keluh kesah dan saling memberi dukungan. ’’Seru jadinya,’’ kata Dwi.

Dwi lantas bercerita kelahiran komunitas Satu Senyum itu. Enam tahun lalu, dia melahirkan Bintang Aditya Rahman juga dalam kondisi CBL. Buah hatinya yang berjenis kelamin laki-laki itu mengalami kelainan median cleft with hipertolerism. Kasus tersebut tergolong langka. Hanya dialami oleh satu dari 10.000 anak yang lahir.

Pasca kelahiran Bintang, saat itu Dwi ingin segera member penanganan terbaik bagi anaknya. Namun, sudah berpuluh-puluh dokter yang didatangi tidak bisa menangani kasus tersebut. Dalam keadaan sulit tersebut, dalam benak Dwi pun menebar janji tersendiri. Dia ingin membantu orang tua lain yang memiliki anak dengan kasus CBL.

Setelah bertemu Diah Asri, yang juga memiliki anak dengan kasus CBL, keduanya berinisiatif untuk mengadakan kopi darat. Tentu saja  bersama orang tua yang mengalami pengalaman serupa. Kopi darat pertama berlangsung sukses dengan mengundang dokter ahli CBL, dokter telinga hidung tenggorokan (THT), dokter gigi, dan terapis wicara.

Dari pertemuan itulah para dokter memberikan saran untuk membentuk sebuah kepengurusan resmi. Dalam beberapa pertemuan berikutnya terpilihlah Dwi sebagai ketua komunitas, Diah sebagai wakil ketuanya. Komunitas tersebut juga bekerja sama dengan para dokter dan terapis wicara yang siap mendampingi.

Menurut Dwi, penanganan CBL yang terbaik adalah dilakukan sedini mungkin. Dengan begitu, peluang penyembuhan secara fisik dan fungsi bicara lebih besar. Kondisi CBL sudah dapat dideteksi sejak bayi dalam kandungan.

Pada usia 3 bulan pasca kelahiran, seorang bayi CBL sebaiknya mendapat penanganan operasi bibir. Selanjutnya, setelah menginjak usia 1,5 tahun, penyandang CBL direkomendasikan menjalani operasi langit-langit. Kedua operasi itu hanya mengubah penampilan fisik. Berikutnya, perlu penanganan terapi wicara untuk mendapatkan fungsi bicara yang optimal.

Bahkan, beberapa anggota Satu Senyum adalah para ibu hamil yang didiagnosis janinnya mengalami CBL. Karena itu, penanganannya dapat dilakukan sedini mungkin dengan hasil optimal. ’’Masih banyak orang tua atau penyandang CBL yang belum tahu penanganan kasus CBL. Perawatan idealnya dilakukan sejak bayi hingga usia 18 tahun,” tandas Dwi.

Saat ini, komunitas Satu Senyum sedang menggarap project baru. Yakni, mengumpulkan serba-serbi kisah hidup para penyandang CBL dewasa dalam sebuah buku. Rencananya, buku itu akan launching pada November tahun ini. Isinya, memuat kisah inspiratif para anggota dari berbagai wilayah di Indonesia. ‘’Semoga bisa memberikan manfaat bagi yang lain,’’ katanya. (*/hud) 

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, diterbitkan di koran Jawa Pos-Metropolitan pada 12 Juni 2015

Standard
Feature

Ariyo Zidni, Pendongeng Spesialis Daerah Bencana

Dongeng bisa menjadi media belajar yang sangat kuat bagi anak-anak. Begitulah menurut Ariyo Zidni. Dari sebuah dongeng anak-anak dapat mengambil pesan moral, melatih skill komunikasi dan interpersonal, dan menjadi gemar membaca buku. Bahkan dongeng dapat menjadi obat bagi sebagian anak. Di daerah bencana, dongeng mampu mengubah wajah murung anak-anak menjadi ceria. Duka menjadi bahagia, dan trauma berangsur lenyap.

MARUTI ASMAUL HUSNA SUBAGIO

Setiap kali cuaca mendung dan langit turun hujan, Arya teriak histeris. Anak itu baru duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Perubahan sikap Arya mulai tampak sejak terjadi musibah jebolnya tanggul Situ Gintung. Dia bukan anak korban bencana. Arya tinggal di daerah Cipinang yang sama sekali tidak terkena dampak tragedi tersebut. Namun, Arya sering melihat gambar di koran dan televisi yang menyiarkan berita tersebut.

Seorang guru TK Arya yang merupakan lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menceritakan kisah unik anak tersebut kepada Ariyo. Dia ingin meminta bantuan Ariyo untuk menyelesaikan trauma yang dialami Arya. Sang guru yang juga merupakan teman dekat Ariyo tahu bahwa Ariyo sering melakukan terapi kepada anak-anak di daerah bencana.

Ariyo pun bersedia membantu. Dia akan menerapkan trauma healing kepada Arya lewat dongeng. Namun, dia tidak mungkin turun langsung menemui Arya karena terapi mendongeng akan dilakukan secara intens. Ariyo membantu dengan mengajarkan cara mendongeng kepada orang tua dan guru Arya, juga memilihkan cerita yang tepat. Setiap hari Arya diperdengarkan cerita dongeng di rumah dan di sekolah lewat orang tua dan gurunya. Alhasil, satu minggu kemudian Arya telah berani bermain hujan-hujanan di luar.   

Satu kisah kenangan lagi muncul dari tanah terujung Indonesia sebelah Barat, provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Bencana tsunami yang melanda Aceh pada Desember 2004 lalu sungguh memberikan dampak yang besar. Ariyo pun saat itu turun menjadi relawan. Dia tiba di Aceh setelah tahun baru 2005. Namun dia tidak membawa barang bantuan berupa sandang pangan. Yang dia bawa adalah bekal cerita-cerita yang akan disampaikan pada anak-anak korban bencana.

Di sebuah camp pengungsian di daerah bukit Soeharto Aceh Barat, Heri, seorang anak usia TK menampakkan perilaku yang berbeda dari kebanyakan anak-anak korban bencana yang lain. Jika teman-temannya lebih banyak berubah pendiam atau murung setelah kejadian tsunami tempo lalu, Heri justru menjadi hiperaktif. Dia sering mengganggu anak-anak lain dan terkadang menjadi pengacau di camp pengungsi.

”Seperti orang dewasa yang berbeda-beda caranya dalam meluapkan emosi, anak-anak pun demikian,” ujar Ariyo menjelaskan.

Melihat kondisi Heri tersebut, Ariyo mengambil inisiatif. Dia ingin mengubah keaktifan anak tersebut menjadi suatu hal yang positif. Ariyo menunjuk Heri menjadi kepala sekolah (semacam ketua kelas, Red). Heri pun menyanggupi. Dia tidak hanya mengatur anak-anak yang sama-sama berusia TK, namun juga anak usia SD hingga SMP. Tanggung jawab yang diberikan Ariyo tersebut diiringi dengan terapi bercerita. Dia melakukan pendekatan-pendekatan kepada Heri lewat beberapa kisah yang dia bawakan. Akhirnya, sekitar tiga minggu Ariyo berada di sana, Heri menampakkan perubahan positif. Sikapnya lebih terkontrol dan tidak lagi menjadi pengacau.

Beberapa bulan kemudian saat Ariyo telah lama meninggalkan lokasi bencana, dia mendapati sebuah surat. Butuh waktu beberapa menit untuk mencerna tulisan surat tersebut. Ternyata surat itu ditulis sendiri oleh Heri. Dia menulis, “Bang Ariyo, jangan lupa kasih makan kelincinya wortel, ya.” Surat tersebut mengejutkan Ariyo dan tidak dapat dia lupakan walau sudah bertahun-tahun. Membuktikan besarnya kesan yang dia torehkan pada anak-anak korban bencana.

Bagaimana sebuah dongeng seolah dapat begitu ajaib? Bahkan dapat menolong anak-anak yang mengalami trauma di daerah bencana. Ketika ditemui Jawa Pos Ariyo menjelaskan bahwa dongeng sebagai trauma healing dapat membuat anak menjadi tenang dan nyaman. Berikutnya, lewat suara, ekspresi, dan gerak tubuh yang memikat dongeng mampu menstimulasi anak untuk berani aktif. ”Pendekatan lewat dongeng mampu menjadi pintu pertama mereka lebih terbuka, dan berani berkomunikasi,” tutur Ariyo yang merupakan alumni Ilmu Kepustakaan dan Informasi Universitas Indonesia (UI).

Ariyo menjelaskan bahwa trauma healing pada anak korban bencana relatif membutuhkan banyak waktu. Target yang ingin dicapai lewat dongeng adalah membuka pintu komunikasi. Dengan begitu anak lebih berani menyampaikan sakit atau apa pun yang dia rasakan.

Dia memelajari pengetahuan tersebut dengan berkonsultasi kepada psikolog. Juga banyak menggali ilmu tentang bibliotherapy. Yakni, terapi yang mampu membuat orang menjadi lebih baik lewat membaca buku.

”Pada anak korban bencana nggak boleh terlalu dekat, atau akan menjadi kehilangan kedua,” tukas laki-laki kelahiran Jakarta, 18 Juni 1980 ini.

Menurut Ariyo, dirinya sebagai relawan trauma healing hanya diperbolehkan berada di lokasi pengungsian maksimal tiga minggu. Jika masih dibutuhkan di tempat tersebut para relawan diminta pulang sejenak, baru kemudian kembali. Alasannya agar para relawan tidak tertular stres. Karena itu juga dia harus pandai menjaga jarak dengan anak-anak. ”Kalau terlalu dekat dengan anak-anak, setelah itu pergi, bisa menjadi kehilangan kedua buat mereka,” tandasnya.

Karena waktu yang singkat itu, saat berada di pengungsian Ariyo tidak hanya mendongeng kepada anak-anak. Dia juga melakukan story coaching, yakni melatih para relawan setempat agar bisa mendongeng.

Ariyo mulai menjadi relawan trauma healing sejak awal 2000-an. Menurutnya saat itu belum banyak pendongeng yang turun ke pengungsian. Sehingga dia sempat dijuluki pendongeng spesialis bencana. ”Kalau sekarang sudah banyak,” ungkapnya.

Beberapa tempat bencana yang pernah dia kunjungi seperti tsunami Aceh, tanggul jebol Situ Gintung, gempa Bantul, letusan gunung Merapi, gempa Bengkulu, dan yang terbaru di Sinabung. Dia juga kerap diminta datang di pengungsian banjir Jakarta. ”Kalau banjir Jakarta karena sering, sifatnya bukan trauma healing tapi playing therapy saja,” ujarnya.

Tidak hanya melakukan trauma healing anak-anak korban bencana, Ariyo juga sering diminta mendongeng di depan anak-anak yang lama menginap di rumah sakit. Contohnya, anak-anak penderita kanker.

Dia teringat kali pertama dia mendongeng di depan khalayak saat masih kuliah. Saat itu Ariyo diajak dosennya untuk mendongeng di depan pasien anak pengidap kanker di rumah sakit cipto mangunkusumo (RSCM). Ariyo menjelaskan kondisi mereka saat pertama melihat tampak lemah, kepala mereka tidak memiliki rambut karena kemoterapi, dan sebagian memakai masker. ”Tapi sewaktu aku mendongeng, kelihatan di mata mereka itu mata tertawa,” kenang Ariyo.

Dari pengalaman itulah hati Ariyo tersentuh. Dia bertekad untuk menyebarkan dongeng dan kisah kepada anak-anak lainnya. Terutama yang mengalami kondisi sakit.

Ariyo tidak berhenti pada dirinya sendiri. Pemuda kelahiran 35 tahun lalu ini juga mendirikan komunitas Ayo Dongeng Indonesia. Anggotanya berisi 30-an orang yang rela menjadi volunteer trauma healing korban bencana. Namun, mereka tidak mau disebut pendongeng karena berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang berprofesi sebagai wartawan, sekretaris, mahasiswa, sampai ibu rumah tangga.

Ditanya tentang tokoh inspirasi dalam mendongeng, Ariyo menjawab yang paling berpengaruh adalah keluarganya serta Pak Raden. Dia mengaku memiliki keluarga yang sangat senang bercerita. Terutama sangat terlihat sewaktu kumpul lebaran. Sementara dari pak Raden, Ariyo sempat bertemu langsung dan berguru padanya saat masih kuliah.  

Standard
Kesehatan, Saraf

Aktivitas Berulang Bisa Sebabkan Gangguan Saraf Neuropati

SAWAH BESAR—Gaya hidup sehari-hari yang sering berulang dapat menjadi penyebab risiko penyakit neuropati. Aktivitas yang dimaksud seperti bermain gadget, mengendarai motor, dan mengetik di komputer. Neuropati adalah kondisi gangguan dan kerusakan saraf yang ditandai dengan gejala seperti kesemutan, kebas, dan kram.

Berdasarkan hasil pemeriksaan 5.478 orang di Neuropathy Check Points Neurobion di 8 kota besar di Indonesia 1 dari 2 orang berisiko terkena neuropati. Bahkan 38 persen dari kelompok usia 20-29 tahun telah berisiko neuropati. Walaupun prevalensinya tinggi, awareness masyarakat terhadap neuropati masih sangat minim.

Menurut Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) Pusat dr Manfaluthy Hakim gerakan berulang–ulang pergelangan tangan ke atas dan ke bawah dapat menyebabkan tendon di pergelangan tangan mengalami peradangan. Kondisi itu akhirnya menekan saraf di daerah pergelangan tangan, yang jika berlangsung lama dapat menyebabkan neuropati.

Neuropati dapat dicegah dengan rajin melakukan olahraga teratur. Untuk itu diciptakan olahraga khusus sebagai upaya preventif neuropati sejak dini yang dinamakan neuromove. Neuromove diciptakan oleh para ahli yang terdiri dari spesialis kedokteran olahraga dan spesialis saraf.

Gerakan neuromove terdiri dari gerakan aerobik dan stretching untuk melatih saraf, melemaskan ketegangan otot, serta mengurangi back pain akibat duduk terlalu lama. Salah satu gerakan inti neuromove adalah gerakan menyilang antara gerak tangan dan bola mata. Manfaat merutinkan gerakan tersebut mampu meningkatkan kecepatan reaksi seseorang dan meningkatkan daya ingat.

“Neuromove adalah gerakan olahraga yang didesain khusus untuk mengaktifkan sel-sel saraf, baik saraf tepi maupun saraf pusat,” ujar dokter spesialis kedokteran olahraga dr Ade Tobing di Hotel Borobudur pada Kamis (28/5) lalu.

Lebih lanjut, Ade menjelaskan gerakan seperti menyilang batang tubuh, koordinasi bola mata, tangan, balance, dan fokus pada gerakan stretching dapat menghindari cedera. Gerakan neuromove dapat dilakukan di mana saja, khususnya pada saat beraktivitas seharian di kantor. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan gerakan ini sekitar 15-20 menit, atau hanya 5-10 menit untuk gerakan inti.

”Gerakan neuromove dapat membantu melemaskan otot dan saraf akibat tekanan tersebut, serta membantu mengaktifkan sel-sel saraf,” tambah Manfaluthy.

Selain mempraktikkan neuromove secara teratur, pencegahan neuropati harus dilakukan bersamaan dengan konsumsi vitamin neurotropik. Konsumsi vitamin neurotropik yang terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 akan membantu saraf bekerja dengan baik. “Selain itu, istirahat yang cukup juga penting untuk regenerasi sel saraf,” tukas Manfaluthy. (uti)

Standard