Rumah dengan pekarangan hijau membentang adalah suatu kelangkaan di perumahan kota. Namun, di tangan arsitek muda Sigit Kusumawijaya bukan mustahil mewujudkan hal itu. Baginya, lahan terbatas bukan masalah untuk memiliki rumah asri lengkap dengan kebun keluarga yang menyejukkan dan sekaligus mampu mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Dia banyak terinspirasi dari komunitas Indonesia Berkebun yang didirikan bersama rekan arsitek dan berbagai kalangan profesi lainnya.
MARUTI ASMAUL HUSNA SUBAGIO
Mewujudkan lingkungan hidup yang lebih berkualitas adalah salah satu tugas arsitek. Bicara tentang wilayah perkotaan yang terbayang mungkin hanya bangunan rapat yang seakan berebut ruang untuk bernapas. Pemandangan hijau dari kebun-kebun yang menghasilkan sumber makanan seakan berhenti sebatas impian warga kota. Namun, komunitas Indonesia Berkebun membuktikan hal lain. Dengan mengusung konsep urban farming komunitas yang berdiri sejak Oktober 2010 ini berhasil mendekatkan kebun di tengah-tengah perumahan kota yang padat.
Lahir dari ide 20 inisiator lintas profesi, Indonesia Berkebun semakin eksis hingga saat ini. Di antara inisiator tersebut sebagian besar berprofesi sebagai arsitek. Sigit Kusumawijaya adalah salah satunya. Saat itu dia baru pulang dari Belanda setelah menempuh pendidikan S-2 di Delft University of Technology (TU Delft), Belanda. Ridwan Kamil, sang inisiator yang juga sama-sama mempunyai latar belakang di bidang arsitektur, mengajak Sigit dan teman-teman lainnya untuk sama-sama merintis dan menginisiasi gerakan komunitas dengan nama Indonesia Berkebun (akun twitter: @IDberkebun).
Saat ini dari 20 inisiator tersebut hanya sekitar tiga orang yang masih aktif hingga sekarang, termasuk salah satunya Sigit. Namun, generasi penerus Indonesia Berkebun terus berkembang. Salah satunya karena komunitas ini menggunakan basis utama melalui media sosial.
Sejak satu bulan pertama diluncurkan, akun twitter @JktBerkebun, sebagai jejaring pioneer dari Indonesia Berkebun, sudah diikuti sekitar 1000 followers. Jumlah tersebut menjadi berlipat ganda sejak Jakarta Berkebun melakukan launching Tanam Perdana pada 20 Februari 2011. ”Lupa saat itu melonjak jadi berapa, tetapi sekarang jumlah follower-nya sudah 13 ribu, sedangkan follower Indonesia Berkebun sendiri sudah mencapai 108 ribu,” tutur Sigit.
Menurutnya, sejak diluncurkan Indonesia Berkebun memang mendapat euforia yang besar. Belum lagi dilihat dari follower akun twitter Indonesia Berkebun cabang berbagai kota, yang jumlahnya pun masing-masing ribuan. Selain twitter, komunitas ini juga banyak menyebarkan edukasi lingkungan hijau melalui media sosial lainnya seperti facebook, instagram, youtube dan lain-lain.
Tentunya tidak hanya media sosial, gerakan utama Indonesia Berkebun adalah mengajak warga kota untuk turun ke lapangan berkebun bersama di lahan perkotaan. Sejalan dengan tujuan mereka menyebarkan semangat positif untuk lebih peduli kepada lingkungan dan perkotaan dengan program urban farming. Yaitu, memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan yang diubah menjadi lahan pertanian/perkebunan produktif yang dilakukan oleh peran masyarakat sekitar. Saat ini Indonesia Berkebun sudah berkembang dan menularkan semangat ini di 43 jejaring yang terdiri dari 34 kota dan 9 kampus di Indonesia.
”Banyak lahan di perkotaan yang tidak terpakai malah jadi tempat kumuh dan pembuangan sampah,” tukas Sigit.
Lewat program yang dijalankan Indonesia Berkebun mereka menjalankan tiga kata kunci, yaitu ekologi, edukasi, dan ekonomi. Dengan menghidupkan kembali lahan-lahan tak terpakai di perkotaan mereka berupaya meningkatkan kualitas ekologi lewat pelestarian lingkungan dan air. Kemudian, mengajak masyarakat setempat berperan serta merawat kebun sambil melakukan edukasi lingkungan. Hasil kebun yang dipetik bisa membantu masyarakat meningkatkan ketahanan pangan. Sehingga, tidak perlu membeli ke luar beberapa jenis tanaman yang sudah tersedia di kebun.
Sigit bercerita pengalaman pertama mereka meminjam lahan di kawasan Springhill Residence Kemayoran. Developer yang meminjamkan lahan ternyata sangat welcome dan koopoeratif. Mereka dipinjami lahan seluas 1 hektar. Karena sangat luas, yang dipakai untuk berkebun hanya setengahnya. ”Bahkan developernya menyediakan tukang kebun,” tandas Sigit.
Berbekal pengetahun tentang pertanian yang seadanya, Sigit bercerita dia dan sesama pegiat komunitas mengawali berkebun dengan tanaman yang tangguh dan bandel alias mudah dirawat dan ditanam. Saat itu mereka memilih menanam kangkung. ”Dari sekian banyak yang ditanam ternyata tidak semuanya tumbuh,” kenang Sigit sambil setengah tertawa.
Target dari komunitas Indonesia Berkebun adalah masyarakat urban yang tinggal di perkotaan. Sehingga, Sigit dan para punggawa Indonesia Berkebun perlu memikirkan konsep yang tepat bagi mereka. Agar anggota lama bertahan, konsep berkebun harus fun. Terkadang mereka mengadakan cooking on the spot dari hasil kebun yang dipetik. Kadang juga berkebun sembari diiringi alunan musik, atau mengundang komunitas lain untuk saling berbagi.
”Anggota yang anak muda juga sering selfie di kebun, kemudian diunggah di media sosial. Mungkin lebih banyak selfie-nya daripada berkebun. Tapi nggak apa-apa, yang penting fun dan mereka bisa jadi corong di media sosial, karena anak-anak muda itulah yang sangat aktif di media-media sosial,” jelas Sigit.
Sudah lima tahun berdiri Sigit mengaku komunitas Indonesia Berkebun sudah menjadi suatu keluarga baru. Banyak kisah yang terjalin antara sesama anggota. Termasuk contohnya ada 5 pasangan anggota yang sudah menikah. ”Awalnya mereka bertemu di kebun dan lama-kelamaan menjalin interaksi,” cerita Sigit.
Bagi dirinya pribadi pun aktivitas Indonesia Berkebun banyak memengaruhi karya-karya arsitektural yang dia ciptakan. Lulusan sarjana teknik dari Universitas Indonesia ini bercita-cita memperkaya konsep green architecture. Salah satunya mengintegrasikannya dengan konsep urban farming. Dari situ bisa mendekatkan masyarakat dengan sumber makanan. Dia berharap hal ini ikut mengantisipasi isu krisis pangan yang sering berkembang.
Sigit bisa dibilang arsitek yang sensitif dengan isu kemanusiaan. Dalam karya thesis-nya Sigit mengangkat persoalan restrukturisasi kampung kumuh di Cape Town, Afrika Selatan. Selama dua minggu dia berkunjung ke negara kulit hitam tersebut.
Saat ini Sigit juga menjadi principal architect di perusahaan konsultan yang ia dirikan dengan nama sigit.kusumawijaya | architect & urbandesigner (www.sigitkusumawijaya.com). Isu ketahanan pangan menjadi sorotan dalam konsep green architecture dalam karya-karya Sigit. Dia menganggap green architecture tidak sebatas penghematan energi dan penambah nilai estetika saja, namun juga yang bisa memenuhi kebutuhan pangan penghuni bangunan tersebut secara sustain, khususnya sayuran. Dia memperkuat karya-karya desain tersebut dengan riset yang sekarang dia lakukan. Yang bertujuan menghitung kebutuhan pangan seisi penghuni rumah dapat tercukupi melalui desain urban farming.
”Kebun di rumah tidak harus di pekarangan, bisa juga diintegrasikan dengan atap (rooftop garden) bahkan fasad rumah (vertical garden),” tukas Sigit.
Sebagai arsitek muda dengan setumpuk prestasi, Sigit menyimpan harapan untuk dunia arsitektur Indonesia. Salah satunya, saat ini dia menjadi anggota Executive Steering Committee (SC) untuk Atap Jakarta-House Vision Indonesia, sebuah organisasi yang fokus melakukan riset “hunian masa depan” di Jakarta.
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 15 Juli 2015