KEBAYORAN LAMA—Arya adalah seorang murid taman kanak-kanak (TK) yang ceria. Namun, saat mendengar suara hujan dan petir, keceriaannya sontak hilang. Bahkan dia bisa teriak histeris saat melihat hujan. Sikapnya yang tidak biasa itu muncul setelah Arya banyak melihat tayangan di televisi. Yakni, tentang bencana waduk Situgintung yang bobol. Arya mengalami suatu trauma.
Kabar tentang Arya sampai kepada seorang pendongeng yang juga sering menangani trauma healing. Dia adalah Ariyo Zidni. Ariyo pun menggagas treatment untuk membacakan dongeng setiap hari kepada Arya. Dongeng-dongeng itu sebagian besar berhubungan dengan air dan hujan. Dikisahkan bahwa air dan hujan tidak selamanya jahat. Dalam dua minggu, setelah rutin dibacakan dongeng, Arya tidak lagi histeris ketika hujan datang. Bahkan dia telah bisa asyik bermain hujan.
“Yang saya terapkan pada Arya adalah biblioterapi,” ujar Ariyo saat dihubungi Jawa Pos.
Apa itu biblioterapi? Istilah ini mungkin masih asing di telinga kita. Padahal, sebenarnya jenis terapi ini sudah diterapkan sejak lama. Banyak pula orang yang sudah menerapkannya namun tidak disadari.
Menurut Ariyo, biblioterapi adalah menggunakan bacaan yang baik untuk membantu seseorang memahami sesuatu. Salah satu contohnya seperti mengobati trauma yang dialami Arya di atas. Terapi ini juga dapat berguna untuk membantu orang lepas dari beberapa masalah. Seperti, tekanan stres, kurangnya performa kerja, sering gelisah, atau kepercayaan diri yang rendah di depan publik.
Ariyo menjelaskan, terapi ini dapat dilakukan siapa saja. Baik secara mandiri atau pun didampingi terapis. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan buku untuk biblioterapi. Pertama, tentukan tujuan terapi untuk apa. Masalah apa yang dialami dan perubahan apa yang diinginkan?
Kedua, pilih buku sesuai usia. Hal ini menentukan beberapa faktor seperti jenis cerita, tokoh, dan lama baca. Contohnya bagi anak-anak cerita fabel atau dongeng lebih membuat mereka tertarik. Selain itu, lama pembacaan cerita pada anak biasanya tidak lebih dari satu jam.
Secara terpisah, terapis bibliografi dari Universitas Pendidikan Indonesia Susanti Agustina mengatakan biblioterapi bisa dilakukan kepada kanak-kanak usia 0 tahun sampai lansia. Artinya, seorang ibu bisa melakukan biblioterapi untuk mengatasi permasalahan kehamilannya, contohnya mengantisipasi baby blues. Bagi anak usia dini, biblioterapi berguna untuk mendongkrak minat dan memupuk budaya baca. Selain untuk mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosi.
Sementara, bagi perkembangan anak dan remaja, biblioterapi dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar, masalah salah asuh, pertemanan, percintaan, kehilangan percaya diri, korban bullying, dan lain sebagainya. Bagi dewasa, biblioterapi dapat mengatasi masalah seperti pernikahan, karir dan pekerjaan, bisnis, pengasuhan anak. Bagi lansia, biblioterapi akan membantunya lebih tenang, tidak merasa sendirian, merasa berdaya, seringkali menjadi wahana menyalurkan pegalaman hidupnya yang membuat bahagia ketika diapresiasi.
”Biblioterapi dapat dilakukan secara klasikal, berkelompok, maupun privat,” ujar Susanti.
Secara klasikal artinya, gabungan beberapa individu dapat ikut serta menyelami sebuah kisah dalam buku atau mendiskusikan buku dalam rentang waktu tertentu. Secara grup dapat dilakukan berdasarkan tingkat permasalahan mental dan kognitif yang sama antar individu.
Sementara biblioterapi juga bisa dilakukan secara privat. Bagi individu yang mengalami depresi, psikosomatis, sakit yang tidak memungkinkan untuk berinteraksi intensif dengan orang lain. Privat juga biasanya bagi mereka yang sangat menjaga privasinya, tidak ingin diketahui orang lain tentang permasalahannya, juga mereka yang memiliki tingkat keterbacaan yang lambat. (uti)
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 22 Agustus 2015