Parenting, Pendidikan

Mendampingi Anak dari Bullying dan Pem-bully

KEBAYORAN BARU–Masa remaja mungkin menjadi masa yang paling berwarna. Di saat itu manusia mengalami beragam gejolak emosi dan pengalaman berinteraksi. Mulai dari interaksi positif hingga negatif. Salah satu yang menjadi fenomena di kalangan remaja saat ini adalah bullying.

Bullying terjadi saat ada dua pihak yang berada di posisi ‘si kuat’ dan si ‘lemah’. Saat ada dua pihak yang sama kuat beradu, bukanlah sebuah tindak bullying. Namun, dapat disebut berkelahi.

Menurut psikolog Vera Itabiliana remaja di zaman modern lebih rentan terhadap bullying. Hal itu disebabkan item bullying yang lebih banyak, dan cakupannya lebih luas. “Zaman dulu anak bisa kena bully hanya dari interaksi dengan teman, saat ini dari gagdet pun bisa jadi sumber bullying. Selain itu, dulu bully mungkin hanya seputar sekolah, sekarang masalah K-Pop juga bisa jadi bahan bully,” ujar Vera saat ditemui di Hotel Mulia Senayan (12/8) kemarin.

Vera menjelaskan di masa pra remaja anak-anak mengalami masa-masa perlunya pengembangan kompetensi. Jika kompetensi tersebut tidak tercapai dapat menimbulkan perasaan inferior pada anak. Selain itu masa pubertas juga sering mengalami mood swing. Yakni, emosi mudah berubah, seperti BT, murung, dan tiba-tiba tersenyum kembali.

“Masa remaja juga terjadi peer pressure, contohnya anak merasa memiliki tuntutan untuk ikut trend yang terjadi di kalangan temannya,” tukas Vera.

Karena itu, kata dia, peran orang tua sangat penting dalam pendampingan anak pra remaja. Terutama anak yang menjadi korban bullying atau justru pelaku bullying. Vera menyarankan saat mengalami kondisi ini orang tua perlu meningkatkan self esteem sang anak. “Saat dia diganggu teman tanamkan untuk tetap percaya diri, contohnya dengan tersenyum,” tukasnya.

Senyum juga merupakan suatu solusi simpel yang mujarab. Karena senyum terbukti secara ilmiah dapat membangkitkan hormon bahagia (endorfin). Sehingga stres menuru dan mood membaik.

Selain itu, orang tua juga perlu mencarikan kompetensi terbesar anak. Bawa dia ke banyak kegiatan dan amati dimana minat anak. Dari situ lama-kelamaan dia merasa handal di satu bidang dan kepercayaan diri meningkat.

Vera menambahkan, pada anak pelaku bullying cara menghadapinya relatif sama. Namun, perlu ditekankan pada anak pelaku bullying bahwa perbuatan itu salah, tidak keren, dan pengecut. “Anak pelaku bullying biasanya juga pernah menjadi korban atau memang murni ingin membully” tandas Vera.

Orang tua dituntut memiliki kepekaan dalam fenomena ini. Misalnya, amati baju sekolah anak apakah ada yang robek, amati perubahan perilaku anak yang menjadi murung, atau misalnya tidak berani lewat depan gerbang sekolah. “Jaga selalu komunikasi dengan anak,” ungkap Vera.

Salah satu orang tua yang memiliki pengalaman tersebut adalah Alya Rohali. Sang anak, Anjani pernah mendapat perlakuan digital bullying. Saat itu di salah satu foto instagram Anjani ada yang berkomentar, “kok nggak secantik mamanya?”

Alya pun berkata pada Anjani untuk tidak memedulikan hal itu. Dia menjelaskan pada sang anak bahwa orang tersebut tidak tahu tentang kelebihan Anjani. “Yang penting selalu jaga komunikasi dengan anak,” tandas Alya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 12 Agustus 2015

Standard