Diet dan Olahraga, Kesehatan, Pola Makan

Kurangi Risiko Diabetes Melitus



KEMAYORAN—Diabetes melitus (DM) atau yang dikenal dengan kencing manis ternyata melanda 9,1 juta masyarakat Indonesia. Angka tersebut menjadikan Indonesia berada di peringkat kelima dengan penyandang DM terbanyak. Peringkat pertama diduduki RRC, berikutnya berturut-turut disusul India, USA, dan Brazil.

Terjadi pelonjakan yang besar dari angka penyandang DM di Indonesia tersebut. Sebelumnya angka penyandang DM hanya mencapai 7,6 juta pada 2010. Sementara pada 2013 meningkat menjadi 9,1 juta. Tidak hanya peningkatan jumlah, angka penyandang DM di Indonesia juga melebar pada kalangan muda.

Hal tersebut diungkapkan guru besar endokrinologi departemen ilmu penyakit dalam Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) dr. Pradana Soewondo dalam acara Partnership in DM Control in Indonesia (PDCI) pada Jumat (10/4) kemarin. Penyandang DM telah merembet pada usia awal 30-an dari yang semula lebih tua. “Ini membuat masa sakit yang lebih lama pada penyandang DM,” ujar Pradana.

Faktor utama peningkatan angka penyandang DM ini adalah pola hidup. Semua kalangan baik tua maupun muda, miskin maupun kaya memiliki risiko terkena DM yang sama. Tidak seperti dulu di mana DM lebih dikenal sebagai penyakit kaum berada. Dengan perubahan budaya saat ini risiko terkena DM dapat melanda siapa pun. Contohnya, budaya minum softdrink (mengandung kadar gula tinggi) dan fastfood sudah merebak ke banyak lapisan masyarakat.

Menurut Kasubdit Pengendalian Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI drg. Dyah Erti Mustikawati, budaya makan masyarakat Indonesia cenderung ikut-ikutan. Masyarakat harus punya prinsip dengan pola makanan sehat. Kita bisa lihat contoh masyarakat China dan Jepang yang hanya mau memakan makanan alami sebagai bagian budaya mereka.

Langkah preventif paling penting untuk mencegah DM adalah dari individu masyarakat sendiri. Sebelum terlambat didiagnosa menyandang DM, masyarakat diimbau untuk sering melakukan cek gula darah dan kondisi umum (KU) di klinik atau puskesmas terdekat. Pemeriksaan minimal dilakukan setiap satu tahun sekali. “Mulai usia 18 tahun mestinya sudah mulai cek kesehatan,” terang Dyah.

“Semua puskesmas telah diharuskan melakukan cek kondisi umum semua pasien yang masuk,” tambah Dyah. Kondisi umum (KU) tersebut di antaranya kondisi gula darah, kolesterol, tekanan darah, berat badan, dan tinggi badan. Sistem tersebut sekaligus memudahkan monitoring pemerintah terhadap penyandang DM. Sehingga memudahkan penanggulangan DM sejak dini, sebelum beranjak kronis bahkan komplikasi.

Selain pemeriksaan gula darah rutin, langkah preventif lainnya adalah memperbaiki pola makan. Setiap orang memiliki kebutuhan jumlah kalori yang berbeda, maka harus memperkirakan kalori yang dikonsumsi per hari mencukupi target. Kalori yang terlampau banyak bisa menyebabkan hormon insulin tidak bekerja dengan baik. Namun, kalori yang banyak tersebut dapat diimbangi dengan melakukan aktivitas fisik. “1 kalori dapat dibakar dengan 25 langkah,” kata Ketua Perkumpulan Endokrinologi (PERKENI) Pusat dr. Achmad Rudijanto.

Upaya preventif dari pola hidup tersebut sejatinya lebih mudah dilakukan daripada pengobatan. DM adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan dapat berujung pada tingkat kronis bahkan komplikasi, seperti kesemutan, kebutaan, hingga stroke. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 10 April 2015



Standard