Kesehatan, Parenting, Pendidikan, Perkembangan Anak

Disleksia

KEBAYORAN LAMA—Bagi pecinta film India mungkin pernah menonton film Taare Zameen Par. Dikisahkan seorang anak berusia 8 tahun masih mengalami kesulitan membaca. Tidak seperti anak lainnya yang sudah bisa membaca pada usia lebih muda. Ternyata, anak tersebut mengalami disleksia. Namun, di balik kekurangannya, bocah tersebut memiliki kemampuan biasa dalam melukis dan berimajinasi.

Disleksia juga banyak terjadi di dunia nyata. Kendala yang dialami penyandangnya secara garis besar adalah kesulitan dalam membaca. Menurut psikolog tumbuh kembang Linda Gunawan dalam Diagnostic and Statistical manual of Mental Disorders (DSM) IV 1994 disleksia dimasukkan dalam kategori kesulitan belajar (learning disability). Yang terdiri dari kesulitan dalam membaca-disleksia, kesulitan dalam menulis-disgraphia, dan kesulitan dalam menghitung-discalculating).

”Tidak ada hubungan langsung antara intelektual dan disleksia,” ujar Linda saat dihubungi Jawa Pos.

Lebih lanjut, kata Linda, proses pembelajaran anak bukan hanya melalui membaca, tetapi juga melalui auditori dan pengamatan. Kendala yang dialami penyandang disleksia adalah kurangnya sumber informasi dari tulisan yang menghambat bertumbuhnya informasi itu sendiri. Sehingga turut menghambat bertumbuhnya potensi optimal intektualnya.

Kedua, lanjut Linda, masalah juga ditemukan dengan kemampuan menulis anak. Terutama ketika dia menulis kata. Ini yang menghambat kemampuan akademisnya di sekolah, jika masalah tidak ditangani.

Namun, seperti kisah Ishaan dalam film Taare Zameen Par dan ilmuwan Einstein yang juga merupakan penyandang disleksia, seringkali penyandangnya memiliki kelebihan di atas rata-rata. Menurut Linda, tidak ada studi yang menyatakan bahwa gangguan perkembangan seseorang berkorelasi dengan kelebihan spesifik dibandingkan orang pada umumnya.

”Satu hal yang perlu dihargai dari mereka, bahwa mereka bekerja lebih keras untuk mengembangkan diri,” tutur Linda.

Oleh karena itu, kata dia, setiap perkembangan kecil, setiap minat yang menonjol dalam diri anak penyandang disleksia, perlu mendapatkan perhatian untuk dikembangkan orang tua. Pencegahan dini disleksia dapat dilakukan ketika orang tua melihat adanya masalah tahap perkembangan awal.

Seperti kemampuan penglihatan awal, berguling dan duduk tepat waktu, perkembangan motorik mulut anak, dan perkembangan bahasanya.

Salah satu orang tua yang memiliki anak penyandang disleksia adalah Amalia Prabowo. Anak sulungnya Aqillurahman A.H. Prabowo (10) masih mengalami kesulitan membaca hingga saat ini. Namun, Amalia tidak tinggal diam. Dengan saran Linda, Amalia berusaha menemukan minat dan potensi terbesar Aqil. ”Kami melakukan hiking setiap pekan sebagai terapi untuk Aqil,” tukas Amalia.

Sembari melakukan terapi Amalia melakukan penjajakan potensi Aqil. Akhirnya ditemukan bahwa Aqil memiliki imajinasi yang luas dan kemampuan melukis yang di atas anak rata-rata. Setiap pekan pula Aqil menghasilkan karya lukis baru yang kini telah dibukukan. Bahkan kisah hidup Aqil akan segera diluncurkan dalam sebuah film.

Bagi orang tua yang memiliki anak dengan disleksia, Linda berpesan agar segera ditangani kepada ahlinya, begitu anak tidak berkembang sebagaimana seharusnya pada anak seusianya. Selain itu, bersabar dalam proses. ”Jangan berpikir bahwa anakku bodoh atau mengeluarkan kata tersebut untuk menunjukkan frustrasi kita. Itu akan memberikan konsep diri yang buruk pada anak sehingga sulit berkembang kemudian,” tandasnya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 27 Juli 2015

Standard
Feature

Aqillurachman A. H. Prabowo, Anak Penyandang Disleksia dengan Bakat Melukis Di Atas Rata-Rata

Dalam dunia Aqil, saat melihat ikan muncul bayangan ikan itu berada di atas awan. Saat sedang berjalan-jalan ke gunung, dia melihat sulur tanaman yang memiliki mata, mulut, hidung, seperti makhluk yang dapat bicara. Imajinasinya seringkali melambung di atas anak rata-rata. Meski menyandang disleksia (tidak bisa membaca), Aqil telah menciptakan puluhan lukisan yang menjadi inspirasi film layar lebar.

MARUTI ASMAUL HUSNA SUBAGIO

Tak banyak pelukis anak yang pernah membuat pameran tunggal karyanya sendiri. Terlebih pameran lukisan tersebut dilakukan di tengah hutan. Mungkin Aqil menjadi pelukis pertama yang melakukan hal itu. Pada 19 Oktober tahun lalu, anak berusia 10 tahun ini telah menggelar exhibition art dari 40 lukisan buah karyanya sendiri. Acara itu dihadiri oleh 70 anak-anak sebaya Aqil bersama para orang tua mereka, serta CEO dari CNN Indonesia.

Aqil dan ibundanya, Amalia, memilih lokasi di tengah hutan supaya bisa mengenalkan kegiatan hiking (jalan-jalan ke gunung) yang setiap minggu dilakukan Aqil. Bukan karena hobi, namun awalnya Aqil melakukan hiking sebagai sebuah terapi yang dianjurkan psikolog. Karena sejak usia 7 tahun Aqil didiagnosa mengalami disleksia. Penyakit ini membuat Aqil mengalami beberapa kendala seperti kesulitan membaca, tidak bisa membedakan kanan dan kiri, serta memiliki daya ingat yang pendek (short memory disorder).

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 4 Oktober 2004 Aqil lahir sebagai bayi prematur. Amalia memiliki fobia terhadap tempat kotor, sehingga melewatkan satu fase tumbuh kembang Aqil yakni merangkak. ”Sebelum bisa merangkak Aqil sudah sering ditempatkan dalam stroller (kereta dorong bayi), habis itu langsung belajar jalan,” ujar Amalia.

Terlewatkannya satu fase tersebut membuat motorik kasar dan motorik halus Aqil sangat lemah. Namun, saat itu belum ada yang menyadari. Hingga usia Aqil menginjak 6 tahun guru di sekolahnya berkata bahwa Aqil mengalami kesulitan membaca dan menulis. Dia juga sulit mengenali huruf. ”Saat mau masuk SD umur 7 tahun, teman-temannya sudah bisa baca semua tapi Aqil belum,” tutur Amalia.

Amalia pun mengonsultasikan kendala itu pada seorang dokter, yang akhirnya menyarankan Aqil perlu dites. Melanjutkan hal itu Amalia juga berkonsultasi kepada tiga psikolog serta satu psikiater. Hasilnya, Aqil positif didiagnosis mengalami disleksia. Awalnya Amalia tidak mau percaya. Doktrin dari keluarganya selama ini, tidak ada orang yang bodoh, yang ada hanya orang malas. Dia pun beranggapan bahwa sang anak hanya malas belajar. Namun, sekuat apa pun berusaha Aqil tetap kesulitan membaca.

Beberapa kali Amalia memarahi Aqil karena ketidakmampuannya. Hingga kondisi tersebut memicu konflik antara ibu dan anak ini selama satu tahun. Sempat terjadi gap antara Aqil dan Amalia. Aqil seringkali lebih nyaman tinggal di rumah kakak atau ibu Amalia.

Sampai suatu saat Amalia tersadarkan oleh nasihat dari seorang rekannya. ”Anak itu dilahirkan untuk kita. Dia alat Tuhan untuk menaikkan kita,” kenang Amalia mengucapkan nasihat itu.

Dari situlah dia bertekad melakukan sebuah significant move. Amalia mengubah mind set nya terhadap Aqil dan memperbaiki hubungan. Dia memutuskan untuk kembali meminta saran dari psikolog. Dari psikolog, Aqil diminta melakukan beberapa terapi, seperti hiking setiap minggu, menyiram bunga dan menggambar pattern.

Sang psikolog juga menyarankan untuk menemukan bakat spesifik Aqil. Butuh waktu satu tahun untuk Aqil dan Amalia melakukan pencarian tersebut. Mulai dari berlatih bulutangkis, paduan suara, dan beladiri wushu. Semuanya tidak ada yang bertahan lama dan menarik hati Aqil. Hingga Aqil memutuskan untuk kembali melukis dan menggambar pattern.

”Kalau melukis Aqil tidak cukup pakai kertas. Jadi saya membebaskan dia melukis seisi rumah hingga ke dinding dan sofa,” tukas Amalia.

Lambat laun tampaklah minat terbesar Aqil dalam dunia seni lukis. Dia mampu bertahan dengan lukisan dalam waktu yang lama serta menghasilkan karya-karya yang melampaui imajinasi anak rata-rata. Saat itu Aqil sudah diberi pengertian oleh Amalia bahwa dia mengalami kelainan disleksia. Hal ini membuat Aqil seringkali minder. Ketika ada acara keluarga dia memilih sembunyi di balik badan sang ibu.

Amalia akhirnya mengambil inisiatif untuk memamerkan karya Aqil saat ada acara keluarga. Ternyata semua merespon baik dan terkagum pada lukisan Aqil. Lambat laun Aqil mulai berani menunjukkan diri.

”Paling suka menggambar alien,” kata Aqil.

Anak dengan disleksia memang memiliki horizon yang lebih besar dibanding anak rata-rata. Aqil banyak mendapat inspirasi lukisannya saat hiking ke hutan. Bila melihat cabang pohon yang patah misalnya, dia bisa membayangkan bentuknya seperti naga. Inspirasi itu dia tuangkan dalam gambar dan lukisan yang kini jumlahnya sudah mencapai 70-an.

”Aku melukis seminggu sekali. Sekali melukis kadang sampai tiga jam,” tukas Aqil.

Suatu hari ada salah satu anggota keluarga yang mengirimkan gambar Aqil kepada Handoko Hendroyono, seorang pegiat seni dan film. Handoko yang juga produser film Filosofi Kopi ini terkagum pada karya Aqil. Mendengar cerita tentang kisah hidup Aqil dan ibunya serta bakat Aqil yang memukau dia pun berniat mengangkat kisah tersebut dalam versi layar lebar. Artis Atiqah Hasiholan didaulat untuk memerankan Amalia dalam film itu. Atiqah yang sempat membaca kisah mereka dalam buku yang ditulis Amalia dibuat tersedu-sedu saat membaca. Dia pun merasa excited untuk bergabung dalam project film tersebut.

Film yang direncanakan berjudul Indigo itu akan shooting pada bulan September dan rilis pada Januari tahun depan. Ceritanya diangkat dari buku yang ditulis Amalia berjudul Wonderful World. Berisi kisah tentang perjuangannya membesarkan anak-anak. Amalia merupakan single parent dengan dua anak. Yang pertama Aqil, dan kedua adiknya, Satria kini berusia 7 tahun.

Tidak hanya memikat Handoko sebagai produser film. Kisah Aqil juga memunculkan inspirasi bagi Rama Suprapto, seorang pegiat drama musikal. Sedikit berbeda dengan film Handoko yang mengangkat kisah hubungan ibu dan anak, drama musikal garapan Rama akan berfokus pada karya-karya Aqil. Direncanakan drama tersebut akan tayang pada Desember mendatang. ”Saat ini keduanya masih gathering sponsor,” tukas Amalia.

Di sela-sela membantu kesibukan sebagai CEO sebuah perusahaan, Amalia sejak April lalu giat melakukan roadshow kampanye disleksia. Roadshow tersebut bertujuan mengenalkan disleksia kepada ibu-ibu kelas menengah ke bawah yang memiliki anak balita. Amalia memiliki dua tujuan, yang pertama membimbing ibu-ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus agar menerima kondisi anak mereka. Yang kedua, sang ibu harus selalu merasa hidup bahagia. Karena kebahagiaan itu perlu ditularkan kepada anak mereka.

Selain itu dia juga memiliki mimpi mendirikan sekolah disleksia. Yang menjadi tempat pengembangan bakat anak-anak disleksia sesuai bakat unik mereka. Dia juga ingin masyarakat paham bahwa kemampuan akademik bukanlah segala-galanya.

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 28 Mei 2015

Standard