Dongeng
bisa menjadi media belajar yang sangat kuat bagi anak-anak. Begitulah menurut
Ariyo Zidni. Dari sebuah dongeng anak-anak dapat mengambil pesan moral, melatih
skill komunikasi dan interpersonal, dan menjadi gemar membaca buku. Bahkan
dongeng dapat menjadi obat bagi sebagian anak. Di daerah bencana, dongeng mampu
mengubah wajah murung anak-anak menjadi ceria. Duka menjadi bahagia, dan trauma
berangsur lenyap.
MARUTI
ASMAUL HUSNA SUBAGIO
Setiap kali
cuaca mendung dan langit turun hujan, Arya teriak histeris. Anak itu baru duduk
di bangku taman kanak-kanak (TK). Perubahan sikap Arya mulai tampak sejak
terjadi musibah jebolnya tanggul Situ Gintung. Dia bukan anak korban bencana.
Arya tinggal di daerah Cipinang yang sama sekali tidak terkena dampak tragedi
tersebut. Namun, Arya sering melihat gambar di koran dan televisi yang
menyiarkan berita tersebut.
Seorang
guru TK Arya yang merupakan lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
menceritakan kisah unik anak tersebut kepada Ariyo. Dia ingin meminta bantuan
Ariyo untuk menyelesaikan trauma yang dialami Arya. Sang guru yang juga
merupakan teman dekat Ariyo tahu bahwa Ariyo sering melakukan terapi kepada
anak-anak di daerah bencana.
Ariyo pun
bersedia membantu. Dia akan menerapkan trauma healing kepada Arya lewat
dongeng. Namun, dia tidak mungkin turun langsung menemui Arya karena terapi
mendongeng akan dilakukan secara intens. Ariyo membantu dengan mengajarkan cara
mendongeng kepada orang tua dan guru Arya, juga memilihkan cerita yang tepat.
Setiap hari Arya diperdengarkan cerita dongeng di rumah dan di sekolah lewat
orang tua dan gurunya. Alhasil, satu minggu kemudian Arya telah berani bermain
hujan-hujanan di luar.
Satu kisah
kenangan lagi muncul dari tanah terujung Indonesia sebelah Barat, provinsi
Nangroe Aceh Darussalam. Bencana tsunami yang melanda Aceh pada Desember 2004
lalu sungguh memberikan dampak yang besar. Ariyo pun saat itu turun menjadi
relawan. Dia tiba di Aceh setelah tahun baru 2005. Namun dia tidak membawa
barang bantuan berupa sandang pangan. Yang dia bawa adalah bekal cerita-cerita
yang akan disampaikan pada anak-anak korban bencana.
Di sebuah camp
pengungsian di daerah bukit Soeharto Aceh Barat, Heri, seorang anak usia TK
menampakkan perilaku yang berbeda dari kebanyakan anak-anak korban bencana yang
lain. Jika teman-temannya lebih banyak berubah pendiam atau murung setelah
kejadian tsunami tempo lalu, Heri justru menjadi hiperaktif. Dia sering mengganggu
anak-anak lain dan terkadang menjadi pengacau di camp pengungsi.
”Seperti
orang dewasa yang berbeda-beda caranya dalam meluapkan emosi, anak-anak pun
demikian,” ujar Ariyo menjelaskan.
Melihat
kondisi Heri tersebut, Ariyo mengambil inisiatif. Dia ingin mengubah keaktifan
anak tersebut menjadi suatu hal yang positif. Ariyo menunjuk Heri menjadi
kepala sekolah (semacam ketua kelas, Red). Heri pun menyanggupi. Dia tidak
hanya mengatur anak-anak yang sama-sama berusia TK, namun juga anak usia SD
hingga SMP. Tanggung jawab yang diberikan Ariyo tersebut diiringi dengan terapi
bercerita. Dia melakukan pendekatan-pendekatan kepada Heri lewat beberapa kisah
yang dia bawakan. Akhirnya, sekitar tiga minggu Ariyo berada di sana, Heri
menampakkan perubahan positif. Sikapnya lebih terkontrol dan tidak lagi menjadi
pengacau.
Beberapa
bulan kemudian saat Ariyo telah lama meninggalkan lokasi bencana, dia mendapati
sebuah surat. Butuh waktu beberapa menit untuk mencerna tulisan surat tersebut.
Ternyata surat itu ditulis sendiri oleh Heri. Dia menulis, “Bang Ariyo, jangan
lupa kasih makan kelincinya wortel, ya.” Surat tersebut mengejutkan Ariyo dan
tidak dapat dia lupakan walau sudah bertahun-tahun. Membuktikan besarnya kesan
yang dia torehkan pada anak-anak korban bencana.
Bagaimana
sebuah dongeng seolah dapat begitu ajaib? Bahkan dapat menolong anak-anak yang
mengalami trauma di daerah bencana. Ketika ditemui Jawa Pos Ariyo menjelaskan bahwa dongeng sebagai trauma healing
dapat membuat anak menjadi tenang dan nyaman. Berikutnya, lewat suara,
ekspresi, dan gerak tubuh yang memikat dongeng mampu menstimulasi anak untuk
berani aktif. ”Pendekatan lewat dongeng mampu menjadi pintu pertama mereka
lebih terbuka, dan berani berkomunikasi,” tutur Ariyo yang merupakan alumni
Ilmu Kepustakaan dan Informasi Universitas Indonesia (UI).
Ariyo
menjelaskan bahwa trauma healing pada anak korban bencana relatif membutuhkan
banyak waktu. Target yang ingin dicapai lewat dongeng adalah membuka pintu
komunikasi. Dengan begitu anak lebih berani menyampaikan sakit atau apa pun
yang dia rasakan.
Dia
memelajari pengetahuan tersebut dengan berkonsultasi kepada psikolog. Juga
banyak menggali ilmu tentang bibliotherapy. Yakni, terapi yang mampu membuat
orang menjadi lebih baik lewat membaca buku.
”Pada anak
korban bencana nggak boleh terlalu
dekat, atau akan menjadi kehilangan kedua,” tukas laki-laki kelahiran Jakarta,
18 Juni 1980 ini.
Menurut
Ariyo, dirinya sebagai relawan trauma healing hanya diperbolehkan berada di
lokasi pengungsian maksimal tiga minggu. Jika masih dibutuhkan di tempat
tersebut para relawan diminta pulang sejenak, baru kemudian kembali. Alasannya
agar para relawan tidak tertular stres. Karena itu juga dia harus pandai
menjaga jarak dengan anak-anak. ”Kalau terlalu dekat dengan anak-anak, setelah
itu pergi, bisa menjadi kehilangan kedua buat mereka,” tandasnya.
Karena
waktu yang singkat itu, saat berada di pengungsian Ariyo tidak hanya mendongeng
kepada anak-anak. Dia juga melakukan story coaching, yakni melatih para relawan
setempat agar bisa mendongeng.
Ariyo mulai
menjadi relawan trauma healing sejak awal 2000-an. Menurutnya saat itu belum
banyak pendongeng yang turun ke pengungsian. Sehingga dia sempat dijuluki
pendongeng spesialis bencana. ”Kalau sekarang sudah banyak,” ungkapnya.
Beberapa
tempat bencana yang pernah dia kunjungi seperti tsunami Aceh, tanggul jebol
Situ Gintung, gempa Bantul, letusan gunung Merapi, gempa Bengkulu, dan yang
terbaru di Sinabung. Dia juga kerap diminta datang di pengungsian banjir
Jakarta. ”Kalau banjir Jakarta karena sering, sifatnya bukan trauma healing
tapi playing therapy saja,” ujarnya.
Tidak hanya
melakukan trauma healing anak-anak korban bencana, Ariyo juga sering diminta
mendongeng di depan anak-anak yang lama menginap di rumah sakit. Contohnya,
anak-anak penderita kanker.
Dia
teringat kali pertama dia mendongeng di depan khalayak saat masih kuliah. Saat
itu Ariyo diajak dosennya untuk mendongeng di depan pasien anak pengidap kanker
di rumah sakit cipto mangunkusumo (RSCM). Ariyo menjelaskan kondisi mereka saat
pertama melihat tampak lemah, kepala mereka tidak memiliki rambut karena
kemoterapi, dan sebagian memakai masker. ”Tapi sewaktu aku mendongeng,
kelihatan di mata mereka itu mata tertawa,” kenang Ariyo.
Dari
pengalaman itulah hati Ariyo tersentuh. Dia bertekad untuk menyebarkan dongeng
dan kisah kepada anak-anak lainnya. Terutama yang mengalami kondisi sakit.
Ariyo tidak
berhenti pada dirinya sendiri. Pemuda kelahiran 35 tahun lalu ini juga
mendirikan komunitas Ayo Dongeng Indonesia. Anggotanya berisi 30-an orang yang
rela menjadi volunteer trauma healing korban bencana. Namun, mereka tidak mau
disebut pendongeng karena berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang
berprofesi sebagai wartawan, sekretaris, mahasiswa, sampai ibu rumah tangga.
Ditanya tentang tokoh inspirasi dalam mendongeng, Ariyo menjawab yang paling berpengaruh adalah keluarganya serta Pak Raden. Dia mengaku memiliki keluarga yang sangat senang bercerita. Terutama sangat terlihat sewaktu kumpul lebaran. Sementara dari pak Raden, Ariyo sempat bertemu langsung dan berguru padanya saat masih kuliah.