GONDANGDIA—Seribu hari pertama kehidupan (HPK) ternyata menjadi masa yang paling penting dalam proses tumbuh kembang seorang anak. Seribu HPK merupakan masa awal kehidupan seorang manusia yang dibagi menjadi tiga tahap. Yaitu, 9 bulan dalam kandungan (270 hari), 6 bulan masa pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif (180 hari), dan 18 bulan masa pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MPASI).
”Selama usia dua hingga tiga tahun pertama pertumbuhan otak berkembang 80 persen,” ujar dokter spesialis gizi Fiastuti Witjaksono ketika ditemui di kampanye Sarihusada bertajuk ‘Berdua Jadi Hebat’ di lapangan parkir Sarinah pada Minggu (24/5) kemarin.
Menurut Fiastuti seribu hari pertama merupakan masa krusial bagi pemenuhan gizi seorang anak. Selain sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak masa ini juga menentukan status kesehatan seseorang di masa muda. ”Jika gizi seribu hari pertama terpenuhi, dapat mengurangi risiko terkena penyakit di masa muda sebanyak 25 persen,” tambah Fiastuti.
Lebih lanjut, Fiastuti menjelaskan bahwa riset membuktikan salah satu penyakit yang mampu dihindari adalah penyakit jantung. Saat seribu hari pertama seorang anak membutuhkan nutrisi lengkap yang dibutuhkan untuk membentuk zat-zat tertentu, seperti hormon dan enzim. Jika salah satu zat ini tidak terbentuk dapat mengakibatkan pembuluh darah menjadi tidak lentur, kaku, dan berdinding tidak mulus. Pembuluh darah bekerja tidak optimal, sehingga nutrisi dalam darah tidak bisa teraliri dengan baik.
Selain itu, jika aliran darah ke otak tidak berjalan optimal, maka dapat memengaruhi perkembangan otak dan fungsi kognitif anak. Sedangkan, otak terdiri dari jaringan-jaringan saraf yang sangat banyak.
”Tidak cukup kuantitas bahwa anak merasa kenyang, tetapi harus diperhatikan kualitas dari sumber gizi yang diberikan,” tutur Fiastuti.
Menurut Fiastuti, sumber gizi yang harus tercukupi pada anak adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Karbohidrat berguna sebagai zat tenaga, protein berguna sebagai zat pembangun, serta lemak berguna sebagai sumber tenaga dan pertumbuhan otak.
Pada masa janin dalam kandungan sumber gizi tersebut disalurkan lewat makanan yang dikonsumsi sang ibu. Maka, ibu hamil harus memerhatikan kandungan gizi yang dia konsumsi tercukupi untuk kebutuhan ibu dan anak. Begitu pula saat 6 bulan masa pemberian ASI eksklusif. Pada masa selanjutnya, yakni pemberian ASI dan MPASI, sumber-sumber zat gizi tersebut diberikan secara bertahap kepada anak dalam bentuk makanan sesungguhnya. ”Usia 1 tahun anak sudah boleh makan makanan seperti orang dewasa,” tukas Fiastuti.
Sementara, sembari anak diberi makanan dengan nutrisi tercukupi, perlu pula dilakukan kontrol gizi untuk mengetahui status gizi anak. Anak harus ditimbang dan disesuaikan dengan usianya. Jika grafik kartu menuju sehat (KMS) menurun hingga mencapai tanda kuning, hal ini perlu diwaspadai. (uti)
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 24 Mei 2015