Langit cerah dan matahari sedang banyak melimpahkan sinarnya. Suasana siang biasanya dimanfaatkan oleh orang lanjut usia (lansia) untuk beristirahat. Apalagi yang sudah mencapai usia kepala delapan. Namun, di dalam Panti Sasana Tresna Werdha Karya Kasih Maria Ernie (82 tahun) masih giat melanjutkan sulaman taplak meja terbarunya.
Saat Jawa Pos mendatangi panti tersebut, tampak satu dua lansia yang berada di luar kamar. Seorang oma sedang menonton drama di televisi. Sementara, oma yang lain baru saja menerima kiriman makanan dari sang anak. Selesai memberikan makanan dan menyapa sang ibu, anak tersebut meninggalkan panti menggunakan sepeda motornya. Sejauh mata memandang di koridor panti hanya ada para lansia yang beraktivitas sendiri-sendiri.
Di sebuah kamar yang berseberangan dengan kantor sekretariat panti, seorang oma tampak duduk memangku selembar kain. Di sampingnya terletak benang warna kuning dan gunting. Pandangannya tidak bergerak dari kain tersebut. Dialah Oma Maria Ernie atau yang biasa dipanggil Oma Ernie.
Oma Ernie tampak lihai menusukkan benang dan jarum mengikuti pola bentuk bunga berwarna kuning. ”Lagi buat taplak meja,” ujarnya.
Sekilas tidak ada yang terlihat berbeda. Meski semua orang yang melihat mungkin akan terkagum di usia yang sedemikian lanjut dia masih bisa menghasilkan karya. Namun, saat Oma Ernie berdiri mengambil jatah snack yang disediakan pengurus, saya terkejut dalam hati. Tampak tangan kiri Oma Ernie sudah tidak lengkap lagi. Tangan itu telah kehilangan jari-jemari hingga lengan sebatas siku. Ternyata sedari tadi Oma Ernie menyulam hanya dengan satu tangan yang masih lengkap.
”Dulu pernah kanker tulang jadi diamputasi,” tutur perempuan kelahiran 26 Maret 1933 ini.
Oma Ernie bercerita dia mengalami kanker tersebut sekitar dua puluh tahun lalu. Namun, kondisi itu tidak menyurutkannya untuk produktif berkarya. Selama di panti dia telah menghasilkan puluhan prakarya. Dia diajari oleh seorang pelatih yang didatangkan oleh pengurus panti. ”Kalau sudah selesai ini dijual,” tukas Oma Ernie.
Mungkin yang dibayangkan orang-orang lansia yang tinggal di panti werdha tidak bahagia. Tetapi hal itu tidak tampak pada Oma Ernie saat itu. ”Anak masih ada di Jakarta, sering juga jenguk ke sini,” tandasnya.
Menurut catatan pengurus panti Oma Ernie adalah penghuni yang paling lama tinggal di sana. Sudah 16 tahun dia habiskan sebagian besar kehidupan di panti itu. Beberapa bulan sekali dia menginap di rumah sang anak. Dari pihak pengurus pun memiliki program membawa para lansia menginap di luar kota setiap dua tahun sekali. Itu sebagai program rekreasi mereka. Oma Ernie menyebutkan sudah pernah diajak ke beberapa tempat wisata seperti Puncak, Anyer, Cibubur, dan Ancol.
Ditanya mengenai rahasia tetap sehat di masa tua Oma Ernie menjawab intinya jangan bengong. Isi waktu dengan aktivitas menyenangkan. Sehari-hari Oma Ernie terbiasa tidur di bawah pukul sembilan malam dan bangun pada pukul empat pagi.
(Tambahan dari sisi pengurus):
Sehari-hari para lansia pun diberi makanan yang mendapat rekomendasi ahli gizi. Sekretaris Panti Sasana Tresna Werdha Karya Kasih Widyanti Rafael Djari menyebutkan setiap pagi para lansia mengikuti agenda kebaktian. Dilanjutkan dengan sarapan dan aktivitas bebas. Sebagian ada yang suka berkebun, ada juga yang memilih berbelanja ke luar. ”Untuk lansia yang perlu pendampingan, saat berbelanja keluar didampingi pengurus,” tutur Widyanti.
Dalam sepekan, Panti Sasana Tresna Werdha Karya Kasih memiliki dua agenda khusus. Yakni membuat prakarya pada hari selasa dan bermain angklung pada hari rabu. Sudah beragam jenis prakarya yang dihasilkan dari panti werdha berisi 30 lansia perempuan ini. Mulai dari tas daur ulang, sulam-menyulam, dan kerajinan osibana (hiasan bunga kering).
Widyanti menuturkan lansia yang dititipkan di panti masih memiliki keluarga. Alasan dititipkannya bermacam-macam. Pada kondisi seorang lansia, dia memiliki lima anak yang empat di antaranya tinggal di luar negeri. Oma tersebut menolak ketika diajak tinggal di luar negeri karena tidak tahan dengan iklimnya yang dingin.
”Di sini saya merasa ada panggilan hati,” tukas Widyanti. (uti)
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 13 Juni 2015