Kesehatan, Kewanitaan

Cegah Infeksi, Ganti Pembalut Tiap 4—6 Jam



Banyak penyakit yang muncul disebabkan oleh cara pengunaan pembalut wanita yang tidak tepat. Misalnya, infeksi kuman pada daerah kewanitaan. Salah satu penyakit pembunuh wanita terbanyak juga diawali oleh infeksi, yaitu kanker serviks. Kanker serviks terjadi di mulut Rahim dan disebabkan oleh infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus). Apakah ada hubungannya antara pemakaian pembalut yang tidak tepat dengan kanker serviks?

Menurut dokter spesialis kandungan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Budi Kemuliaan Dwirani Amelia pembalut yang tersedia di pasaran saat ini seringkali diproduksi menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Bahan kimia berbahaya yang paling banyak digunakan dalam proses pembuatan pembalut adalah chlorin. Chlorin dimanfaatkan untuk memutihkan bahan-bahan pembalut. ”Bagi orang tertentu, chlorin dapat menimbulkan reaksi alergi sehingga timbul gatal dan kemerahan,” ujarnya ketika dihubungi Jawa Pos.

Selain itu ada juga pembalut yang dilapisi plastik. Plastik ini mencegah aliran udara di daerah kewanitaan sehingga menyebabkan daerah tersebut menjadi lembab. Ketika kelembaban tinggi di daerah tersebut, maka kuman-kuman normal yang memang sejak awal ada di daerah tersebut menjadi berkembang biak berlebihan. Sehingga menyebabkan infeksi atau menyebabkan jamur tumbuh dengan subur.

Lebih lanjut, kata Dwirani, yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pembalut adalah lama pemakaian. Apabila kelembaban di daerah kewanitaan sedang tinggi, di mana keluarnya sekret vagina lebih banyak dari hari-hari biasa, maka pembalut akan lebih cepat lembab. Pada keadaan demikian hendaknya mengganti pembalut setidaknya setiap 4—6 jam. Periode 4—6 jam merupakan periode pertumbuhan kuman. Maka jika pembalut segera diganti kuman-kuman tidak akan menginfeksi daerah kewanitaan.

”Pembalut yang dilengkapi dengan gel memang membuat permukaannya menjadi lebih kering,” tutur Dwirani.

Hal itu membuat pembalut yang dilengkapi gel dapat digunakan sedikit lebih lama. Akan tetapi kuman tetap dapat tumbuh dan berkembang biak di dalam gel, sehingga tetap batasi waktu peggunaan pembalut.

Jadi pembalut tidak menyebabkan kanker serviks, tetapi pembalut yang buruk dan penggunaan pembalut yang tidak tepat dapat meningkatkan kejadian infeksi non spesifik (kuman-kuman banal dan flora noemal vagina berlebihan) dan tidak selalu dikaitkan dengan infeksi HPV.

Pembalut yang baik bukan hanya dari bahan-bahan pembuatnya (menyerap cairan dan keringat dengan baik, tidak terbuat dari plastik dan tidak banyak mengandung chlorin) tetapi juga dari cara penggunaannya (maksimal 4—6 jam sudah harus diganti). (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 18 Mei 2015



Standard
Kesehatan, Kewanitaan

Hati-Hati Perdarahan Menstruasi Berlebih

SETIABUDI—Menstruasi normal dialami setiap wanita setiap bulannya. Namun, banyak wanita yang tidak menyadari suatu kondisi kelainan pada menstruasi, yaitu perdarahan berlebih. Kondisi ini sering juga disebut heavy menstruation bleeding (HMB). HMB sering diabaikan padahal sangat berpengaruh bagi penderitanya.

Sekitar 52 persen wanita mengalami HMB dalam kehidupan mereka. Namun, 30 persen di antaranya tidak menyadari bahwa mereka mengalami HMB. Pada kondisi normal, seorang wanita mengalami menstruasi sebanyak 80 mL setiap harinya (1 sendok makan=15 mL). Namun, pada penderita HMB wanita mengalami menstruasi lebih dari itu. Jumlahnya bisa mencapai 200—300 mL.

Lama waktu mengalami menstruasi pun berbeda. Pada kondisi normal wanita mengalami menstruasi selama 2—7 hari. Sedangkan pada wanita HMB lama menstruasi bisa mencapai 10—12 hari bahkan lebih. ”HMB juga ditandai dengan pergantian pembalut wanita setiap satu jam,” ujar profesor obsetri dan ginekologi Universitas Indonesia Biran Affandi saat ditemui di Hotel Fairmont Jakarta pada Senin (20/4) kemarin.

Di samping itu, tanda-tanda HMB lainnya dijelaskan oleh profesor obsetri dan ginekologi Universitas Autonomous Barcelona J. Calaf-Alsina, ada tiga tanda yang perlu diwaspadai. Pertama, jika saat menstruasi disertai dengan penurunan kondisi fisik seperti lemas dan lemah. Kedua, jika terjadi perubahan aktivitas, misalnya tidak kuat berolahraga atau menjadi malas bersosialisasi. Ketiga, diukur dari pergantian pembalut setiap harinya. Jika beberapa jam sekali sudah harus mengganti pembalut, perlu diwaspadai adanya HMB pada tubuh wanita.

”Saat sudah mengalami tanda-tanda tersebut disarankan segera berkonsultasi kepada dokter ginekologi,” tambah Calaf.

Kondisi HMB ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor.  Calaf menjelaskan penyebabnya bisa dikarenakan kelainan organik, seperti adanya polip atau mioma di dalam saluran rahim. Kelainan tersebut sebagian besar terjadi pada wanita berusia di atas 40 tahun. Selain itu juga bisa disebabkan kelainan fungsional yang dipengaruhi hormon.

Pada praktik klinis, kondisi HMB ini masih cenderung diremehkan. Hal tersebut dikarenakan masih sedikit wanita yang mencari nasihat medis untuk kondisi ini. Padahal banyak dampak negatif yang ditimbulkan jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus. Mulai dari aktivitas yang banyak terganggu, gangguan emosi, nyeri hebat, anemia, hingga penurunan tingkat kesuburan.

Kondisi ini bisa ditangani dengan menambahkan hormon estrogen dalam tubuh wanita. Salah satunya didapatkan dari alat kontrasepsi. Namun, hal tersebut tidak dapat menyembuhkan secara total kondisi HMB. Alat kontrasepsi hanya meredakan gejalanya. Untuk pengobatan lebih lanjut tetap harus diketahui faktor penyebab HMB secara medis. Selanjutnya, terdapat beragam pilihan pengobatan jika HMB tidak tertangani. Seperti pengangkatan rahim, pengikisan endometrium (lapisan terdalam pada rahim), obat anti pembekuan darah, dan progestogen (hormon yang berperan dalam menstruasi). (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 20 April 2015

Standard