Banyak penyakit yang muncul disebabkan oleh cara pengunaan pembalut wanita yang tidak tepat. Misalnya, infeksi kuman pada daerah kewanitaan. Salah satu penyakit pembunuh wanita terbanyak juga diawali oleh infeksi, yaitu kanker serviks. Kanker serviks terjadi di mulut Rahim dan disebabkan oleh infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus). Apakah ada hubungannya antara pemakaian pembalut yang tidak tepat dengan kanker serviks?
Menurut dokter spesialis kandungan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Budi Kemuliaan Dwirani Amelia pembalut yang tersedia di pasaran saat ini seringkali diproduksi menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Bahan kimia berbahaya yang paling banyak digunakan dalam proses pembuatan pembalut adalah chlorin. Chlorin dimanfaatkan untuk memutihkan bahan-bahan pembalut. ”Bagi orang tertentu, chlorin dapat menimbulkan reaksi alergi sehingga timbul gatal dan kemerahan,” ujarnya ketika dihubungi Jawa Pos.
Selain itu ada juga pembalut yang dilapisi plastik. Plastik ini mencegah aliran udara di daerah kewanitaan sehingga menyebabkan daerah tersebut menjadi lembab. Ketika kelembaban tinggi di daerah tersebut, maka kuman-kuman normal yang memang sejak awal ada di daerah tersebut menjadi berkembang biak berlebihan. Sehingga menyebabkan infeksi atau menyebabkan jamur tumbuh dengan subur.
Lebih lanjut, kata Dwirani, yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pembalut adalah lama pemakaian. Apabila kelembaban di daerah kewanitaan sedang tinggi, di mana keluarnya sekret vagina lebih banyak dari hari-hari biasa, maka pembalut akan lebih cepat lembab. Pada keadaan demikian hendaknya mengganti pembalut setidaknya setiap 4—6 jam. Periode 4—6 jam merupakan periode pertumbuhan kuman. Maka jika pembalut segera diganti kuman-kuman tidak akan menginfeksi daerah kewanitaan.
”Pembalut yang dilengkapi dengan gel memang membuat permukaannya menjadi lebih kering,” tutur Dwirani.
Hal itu membuat pembalut yang dilengkapi gel dapat digunakan sedikit lebih lama. Akan tetapi kuman tetap dapat tumbuh dan berkembang biak di dalam gel, sehingga tetap batasi waktu peggunaan pembalut.
Jadi pembalut tidak menyebabkan kanker serviks, tetapi pembalut yang buruk dan penggunaan pembalut yang tidak tepat dapat meningkatkan kejadian infeksi non spesifik (kuman-kuman banal dan flora noemal vagina berlebihan) dan tidak selalu dikaitkan dengan infeksi HPV.
Pembalut yang baik bukan hanya dari bahan-bahan pembuatnya (menyerap cairan dan keringat dengan baik, tidak terbuat dari plastik dan tidak banyak mengandung chlorin) tetapi juga dari cara penggunaannya (maksimal 4—6 jam sudah harus diganti). (uti)
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 18 Mei 2015