Kesehatan, Kewanitaan

Kurang Percaya Diri, Tulis Satu Kelebihan Setiap Hari

SETIA BUDI—Perempuan di usia remaja seringkali merasakan keresahan dan kurang percaya diri. Sebagian di antara mereka tidak tahu kelebihan dan potensi yang dimiliki. Hal itu dibenarkan oleh psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana.

”Mereka harus menghadapi tuntutan keluarga, pendidikan, lingkungan pergaulan, bahkan diri sendiri,” ujar Vera ketika ditemui di Hotel Gran Melia dalam acara “Berbagi Inspirasi Positif, Marina Gelar FUNtastic You” pada Selasa (5/5) kemarin.

Menurut Vera, remaja perempuan adalah masa yang dihadapkan dengan banyak perubahan dan pengambilan keputusan. Misalnya, menentukan jurusan mana yang akan dipilih di perguruan tinggi, konflik dengan teman, atau mulai minder dengan kondisi fisik sendiri.

Meningkatkan kepercayaan diri dapat dimulai dari memahami kelebihan dan potensi diri sendiri. Namun, kebanyakan remaja tidak mampu menyebutkan kelebihan dirinya. Karena itu, Vera berpesan agar remaja perempuan menuliskan satu kelebihan mereka setiap harinya dalam sebuah diary. ”Setelah beberapa lama, diary itu akan memunculkan semangat diri ketika dibuka lagi,” terang Vera.

Selain itu, di era digital ini semakin banyak faktor yang menyebabkan menurunnya kepercayaan diri pada remaja, misalnya lewat cyber bullying. Vera menjelaskan cyber bullying banyak terjadi pada sosok yang sangat menonjol, seperti public figure atau justru sesorang yang dianggap lemah. Jika kondisi ini sampai terjadi tindakan yang diambil sebaiknya membiarkan perbuatan bullying tersebut. ”Cuekin aja,” tukas Vera.

Tindakan bullying yang terjadi juga sebaiknya disimpan, misalnya melakukan screen capture pada komentar yang berbentuk bullying. Suatu saat hal itu bisa menjadi bukti jika telah sampai pada jalur hukum. Menurut Vera melakukan perlawanan terhadap bullying juga dapat dilakukan asal yakin bisa menjadi pihak yang lebih kuat.

Atas beberapa kondisi yang menimpa remaja perempuan tersebut, menurut Vera dibutuhkan empat hal. Pertama, penerimaan dari lingkungan tentang apa adanya diri mereka. Kedua, dukungan untuk mengembangkan diri sesuai minat dan bakat. Selanjutnya, kesempatan untuk mencoba hal baru dan mengembangkan potensi, serta apresiasi terhadap usaha terbaik mereka. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 5 Mei 2015

Standard