Feature

Vania Desiyanti, Pelari Urban dan Founder Komunitas Girlstogojkt

Oleh: Maruti Asmaul Husna Subagio

Vania Desiyanti mulai rutin melakukan olahraga lari sejak 2012 saat dirinya tinggal di Melbourne, Australia. Di negeri kangguru itu olahraga lari memang lebih membudaya dibanding Indonesia. Lama-kelamaan Vania semakin jatuh cinta pada jenis olahraga yang simple ini. Sepulangnya ke tanah air, Vania bersama seorang rekannya mendirikan komunitas girlstogojkt. Komunitas ini bertujuan memberi wadah bagi perempuan muda untuk lebih percaya diri menjadi pelari urban.

”Selama ini olahraga sangat relate ke laki-laki, padahal laki-laki atau pun perempuan is equal. Aku ingin menghilangkan stigma kalau perempuan nggak terlalu bisa olahraga,” ujar Vania.

Ada tiga karakteristik komunitas girlstogojkt yang membedakan dengan komunitas lari lainnya. Yaitu, perempuan, muda, dan newbie. Vania dan Amelia Kalista (co-founder) memang mencoba merangkul perempuan muda yang masih tergolong pemula dalam olahraga lari. Mereka berdua mendirikan komunitas ini pada 8 Maret lalu, bertepatan dengan peringatan International Women’s Day.

”Karena masih baru, kita belum berani bikin membership. Jadi memang sifatnya tidak mengikat, kami sangat terbuka untuk siapa saja yang mau ikut,” tutur Vania.

Dia menjelaskan, selama ini menggunakan media instagram untuk menghimpun peserta lari. Setiap acara tidak kurang dari 30 hingga 50 peserta yang datang. Mereka terbiasa melakukan lari di daerah SCBD, Senayan, dan Gandaria. Peserta yang sudah pernah ikut akan mendapat kabar acara melalui mailing list (milis). Kata Vania, ke depan mereka mungkin akan membuat membership.

Para pelari pemula tersebut memulai latihan lari dengan jarak 7 km. Setiap agenda lari bersama dilengkapi dengan dynamic work out dan brunch. ”Ketika brunch itu kita jadi banyak ngobrol, kenal satu sama lain, dan lebih PD karena ada teman,” tukas Vania.

Ketika ditanya tentang motivasi, Vania bercerita olahraga lari memberi dampak kesehatan yang besar pada dirinya. Selain itu, berhubungan juga dengan latar belakang ilmu Vania yang merupakan lulusan sosiologi. Dia menempuh pendidikan S1 di University of Melbourne pada 2009—2013 dan S2 di University of Manchester pada 2014—2015.

”Di sosiologi aku belajar tentang gender. Jadi lewat komunitas ini juga ingin mempraktikan ilmu ke bentuk yang lebih real, bahwa olahraga bisa untuk siapa saja,” tandasnya.

Menurutnya, setiap perempuan, walaupun punya keluhan overweight atau kurang tinggi, jadi lebih percaya diri dengan bergabung di komunitas. Sebagai founder tentunya Vania sekaligus berperan sebagai teladan bagi para rekannya. Perempuan yang bekerja sebagai analis di perserikatan bangsa-bangsa (PBB) ini mengaku rutin lari 3x seminggu. Yaitu, setiap selasa, kamis, dan minggu. Masing-masing minimal 5—10 km.

Pengalaman lari terjauhnya pernah ditorehkan ketika mengikuti half marathon di Amsterdam. Yakni, sejauh 21 km. Di sana dia berkenalan dengan banyak anggota run community. ”Seru, tiap km ada yang cheering,” ujarnya.

Cedera karena over train pun pernah Vania alami. Menurutnya itu terjadi karena dia terlalu banyak berlatih dan kurang memerhatikan asupan nutrisi. Dari lari Vania mengambil pelajaran, ada kalanya kita harus push our self dan ada kalanya lebih respect our body. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 30 Agustus 2015

Standard