Oleh: Maruti Asmaul Husna Subagio
Masih terkenang jelas dalam memori Humar Hadi, saat
dia bertemu seorang wartawan di sebuah masjid. Wartawan tersebut bekerja di
sebuah stasiun televisi swasta dan baru pertama kali dijumpainya. Perjumpaan
yang tidak direncanakan itu menjadi awal karir Humar Hadi di bidang perfilman
indie.
Saat itu tahun 2005, pemuda yang biasa dipanggil Umank
itu memiliki niat memproduksi sebuah film. Yang dia miliki hanya modal ide cerita
dan motivasi menyampaikan pesan lewat film. Dia tak punya biaya maupun alat
untuk memproduksi film pertamanya itu. Namun, sang wartawan bersedia
meminjamkannya kamera setelah melalui beberapa obrolan. Umank yang merupakan
lulusan Kimia Analisis masih buta cara mengoperasikan kamera.
”Waktu itu nggak tahu apa-apa, cuma tahu cara play,
record, dan hapus video,” kenang Umank.
Saat itu Umank baru usai dari sidang jenjang D3
jurusan Kimia Analisis. Meski tidak memiliki latar belakang ilmu perfilman, dia
memiliki semangat dan passion yang
kuat di bidang tersebut. Hingga saat ini sudah enam film yang dia produksi
secara indie. Mayoritas film tersebut dihasilkan dari rumah produksi bernama
bedasinema yang dia dirikan bersama beberapa teman dekat. Meski terkesan kecil-kecilan
salah satu film karyanya dengan judul #HKS (Hanya Kerudung Sampah, Red) telah
diputar di 25 kota se-Indonesia.
”Dulu kami punya genk sesama teman kuliah, semacam
genk Westlife. Semua punya ketertarikan di dunia film,” tutur Umank.
Genk yang akhirnya berubah menjadi film agency itu memilih menamakan diri
mereka menjadi bedasinema. Nama itu dipilih karena mereka bertekad mengambil
genre Islami dalam film yang diproduksi. Tidak hanya itu, definisi “beda” juga
mereka cerminkan dari proses pembuatan film. Dalam setiap proses pembuatan film
mereka ada rules yang diterapkan.
Contohnya, sebelum waktu sholat semua pemain dan kru harus break. ”Pernah suatu kali semua sudah siap dan rapi dengan make up untuk take, namun tiba-tiba adzan. Akhirnya semua break dan bongkar make up.
Nggak apa-apa, karena habis sholat lebih fresh,” ujarnya.
Umank yang merupakan suami dari Yunita Santini dan
ayah dari Kayyisa Zahira (5 tahun) ini sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan
BUMN. Dia meraih gelar S-1 dari jurusan Teknik Lingkungan Universitas Sahid
Jakarta. Cita-citanya saat SMA adalah bekerja di bidang kimia dan itu sudah
tercapai. Sehingga dia rela bekerja sembari terus menghasilkan karya sinema
yang sama-sama dia cintai.
Tentang cara membagi waktu, dia bercerita setiap
senin—jumat tetap bekerja di kantor dari pagi hingga pukul lima sore. Selama
jam kerja itu dia tidak mau membahas pekerjaan pembuatan film. Hanya pada waktu
break dan malam hari sepulang kerja
dia biasanya berkoordinasi dengan kru atau klien film yang sedang digarap.
Sedangkan, pada Sabtu dan Minggu barulah dia gunakan untuk memproduksi
film-film tersebut.
Di rumah, dia memiliki seorang anak gadis kecil yang
mulai tumbuh jiwa kritisnya. Melihat kesibukan ayahnya kadang kala sang anak
protes mengapa ayahnya pulang malam. ”Harus bikin perjanjian sama anak kalau
hari ini pulang malam,” tukas Umank.
Kadangkala Umank pun merasa bingung dengan dirinya
yang memiliki “dua kepribadian”. Hingga dia berkonsultasi dengan psikolog agar
dapat menjalani keduanya dengan baik. Pernah ada seorang temannya yang berkata,
”Lo ngga boleh gitu, ngga boleh ambil semuanya.” Namun Umank memiliki alasan
sendiri, ”Ngga gitu kalimatnya. Saya bukan mau ambil semuanya, tapi cuma
berusaha melakukan yang terbaik.”
Laki-laki kelahiran Bekasi, 10 Maret 1983 ini mengaku
memiliki motivasi kuat untuk menyampaikan pesan dakwah dalam setiap film yang
dia garap. Idealisme tersebut mengantarkan dia menemui banyak perjuangan
bertahan di ranah indie. Seringkali ada investor yang datang menawarkan bantuan
dana, namun terpaksa ditolak demi mempertahankan orisinalitas ide cerita. Dalam
film keempat yang berjudul Masbukers, Umank mengaku mengeluarkan biaya produksi
dari kantongnya sendiri. ”Tapi akhirnya modalnya balik bahkan lebih,”
tandasnya.
Film pendek yang berdurasi 18 menit tersebut diangkat
dari curahan hati ibu-ibu yang sempat Umank temui di masjid. Sang ibu mengeluh
karena seringkali telat melakukan jamaah sholat (masbuk). Ternyata film itu
mendapat apresiasi yang tinggi dari sutradara film Ketika Cinta Bertasbih,
almarhum Chairul Umam. Sutradara senior tersebut meminta Umank untuk membuat
versi layar lebar. Namun, belum sempat tergarap film ini masuk ke dalam jajaran
finalis festival film pendek Piala Maya. Saat itu semua karya finalis
ditayangkan di Senayan. Sambutan dari penonton cukup baik dan banyak yang
meminta Umank untuk memproduksi film berikutnya.
Hingga muncul karyanya yang kelima pada tahun 2013
berjudul #HKS, singkatan dari Hanya Kerudung Sampah. Film dengan durasi hampir
satu jam ini bercerita tentang tiga sahabat laki-laki yang mengalami kelainan
orientasi seksual. Mereka terdiri dari seorang waria, homoseksual, dan satu
lagi seorang pecandu narkoba yang tinggal dalam satu rumah kontrakan. Dalam
kehidupannya mereka sering dipandang seperti “sampah” oleh orang-orang sekitar.
Bahkan seorang tokoh muslimah ditampilkan memiliki karakter yang memandang
mereka sebelah mata. Namun, dalam perjalanannya keempat tokoh tersebut tersadarkan
dan kembali ke jalan fitrahnya.
Berbagai sambutan pro dan kontra sempat muncul ketika
film ini diputar. Umank sebagai sutradara khawatir dianggap sebagai aktivis
gay, karena banyak adegan dalam film yang menunjukkan kehidupan kaum tersebut.
Padahal bukan itu pesan sesungguhnya yang dia bawa. Film ini memiliki tagline
“Tidak ada satu alasan pun yang menghalangi seseorang untuk berbuat kebaikan.”
Sambutan penonton untuk film #HKS pun di luar dugaan.
Sejak premiere-nya ditayangkan di Museum Bank Mandiri pada 29 September 2013,
berbagai panggilan dari luar kota datang kepada Umank, tim bedasinema, dan para
pemain untuk menayangkan film tersebut. Total ada 25 kota se-Indonesia, yakni
dari kota Padang sampai wilayah timur Pulau Jawa, kota Malang.
Kini, yang terbaru Umank dan rumah produksi bedasinema
sedang melakukan penggarapan untuk film keenam, yang berjudul Tausiyah Cinta.
Proses shooting seperti pada film-film sebelumnya dilakukan hanya pada hari
sabtu dan minggu. Film berdurasi 1,5 jam tersebut memakan waktu shooting empat
bulan, yakni Februari hingga Mei 2015. Rencananya Tausiyah Cinta akan
ditayangkan pada September 2015.
Film tersebut dibintangi oleh aktor dan aktris muda
pendatang baru yang bertalenta. Beberapa pemain pendukung melibatkan aktor dan
aktris kenamaan seperti Irwansyah dan Peggy Melati Sukma. Film yang masih
bernafas Islam tersebut akan bercerita tentang kesholehan yang dipertanyakan
dan bagaimana seseorang bangkit dari ujian.
Umank mengaku menemui banyak pelajaran dan pengorbanan
dari setiap film yang dia garap. Mulai dari film pertama saat dia masih
berbekal penguasaan yang minim terhadap kamera. Dia mengaku belajar membuat
film secara otodidak. Selain itu juga mengikuti berbagai workshop film, salah
satunya yang menghadirkan sutradara kenamaan Riri Riza.
Pada masa-masa awal, modal alat produksi film juga dia
tak punya. Hingga dia rela meminjam dan mengembalikan kamera kepada seorang
teman setiap pekan. Sebenarnya sang teman bersedia kameranya dipinjam lebih
lama. Namun Umank menganggap itu barang berharga dan demi menjaga amanah, dia
rela mengembalikan kamera itu pada dini hari. ”Dulu sampai numpang mobil sayur
karena sudah nggak ada angkot dan terlalu capek untuk naik motor,” kenang
Umank.
”Kalau nonton lagi film pertama suka begini,” cerita
Umank sambil memeragakan menutup wajah.
Seiring waktu berjalan rumah produksi bedasinema di
mana Umank menjabat sebagai CEO semakin profesional mengelola karya-karyanya.
Rumah produksi tersebut hanya memiliki lima anggota inti namun didukung oleh
tenaga produksi yang berkompeten dengan sistem kontrak per film. Contohnya,
kameraman dan coaching talent mereka merekrut orang luar.
Dalam mengelola tim yang akhirnya besar tersebut dia
mengaku mendapat ruang belajar yang besar. Posisi sebagai leader sangat diasah.
Umank mengaku banyak belajar mengelola kesabaran. Bahkan laki-laki yang dikenal
tenang dan jarang marah ini pernah memuncak emosinya pada saat shooting dini
hari. Dia mendapati seorang pemain yang dilihat tidak fokus hingga mengulang 7
kali take. ”Jangan mentang-mentang film dakwah kamu anggap ini film nggak
penting,” ujarnya ketika itu dengan suara keras.
Sepulangnya dari lokasi shooting Umank mengirim pesan
personal kepada para kru dan pemain. Dia takut ada sikap yang berlebihan dan
meminta maaf.
Umank mengaku tidak terobsesi filmnya harus diputar di bioskop atau layar lebar. Baginya tidak semua karya bagus diputar di bioskop. Namun, tidak menepis kemungkinan pula bila kesempatan itu ada. Yang dia ingin pastikan adalah orisinalitas cerita serta pesan di balik setiap film karyanya. ”Saya nggak mau bikin film yang nggak membuat hati saya tergetar,” tuturnya. Mimpinya ke depan, bedasinema menjadi publishing house yang terus menggarap project-project kebaikan.
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 14 Mei 2015