Parenting, Pendidikan

Menumbuhkan Jiwa Volunteer pada Anak

MENTENG—Benih kebaikan pada dasarnya dimiliki setiap manusia sejak dia diciptakan di dalam kandungan. Benih itulah yang nantinya membentuk kepekaan sosial yang dibutuhkan untuk menolong sesama manusia. Namun benih ini perlu disemai dan ditumbuhkan. Yakni dengan penanaman nilai-nilai sejak dini pada anak.

Menurut psikolog Ratih Ibrahim benih kebaikan merupakan nilai-nilai luhur yang ditanamkan pada diri seseorang sejak dia kecil. Yakni dengan tujuan membantu orang lain dengan dasar ketulusan dan empati. Salah satu bentuknya adalah altruisme, yang dimiliki setiap orang. Yakni, tindakan suka rela untuk menolong orang lain tanpa ingin mendapat imbalan apa pun.

Seorang anak yang sejak kecilnya dilatih memiliki karakter ini akan tumbuh sebagai orang yang senang menebar manfaat. Tanpa dipaksa dia justru senang melakukan kegiatan-kegiatan amal. Contohnya, menolong teman, merawat hewan yang terluka di jalan, atau menjadi relawan di tempat-tempat bencana.

“Pada anak benih kebaikan perlu dimulai dari dalam rumah,” ujar Ratih saat ditemui di Double Tree Hotel pada (5/8) lalu.

Lebih lanjut, kata dia, kita bisa menolong orang lain apabila kita sendiri punya. Maka, pada tahap awal, anak perlu ditanamkan sense of belonging di rumah. Contohnya, menata meja, merapikan tempat tidur sendiri, atau menyiapkan makan malam.

Jika rasa kepemilikan anak di rumah tersebut sudah terbentuk, selanjutnya tingkatkan untuk memiliki rasa kepedulian di lingkungan yang lebih besar. Misalnya, menjadi panitia acara 17 Agustus di sekitar rumah.

”Ketika melihat suatu kondisi sulit, challenge anak untuk melakukan tindakan,” tutur Ratih.

Dia mencontohkan, saat anak melihat binatang yang terlantar di jalan misalnya, tanyakan pada anak siapa yang akan merawat binatang itu? Dengan begitu muncul sifat empati sekaligus kemandirian anak untuk menanggung sendiri apa yang dia ingin bantu.

Ratih menambahkan manifestasi karakter volunteer di masa dewasa sangat banyak. Contohnya, menjadi orang tua asuh, mengadopsi binatang, merawat gedung tua, dan ikut kegiatan kesukarelawanan. Manfaat dari kegiatan relawan juga tidak hanya dirasakan pada pihak yang ditolong, namun juga kita yang menolong.

”Kita melayani diri sendiri dan orang lain pada saat yang bersamaan. Karena menolong menimbulkan perasaan menyenangkan dan memberi kepuasan,” tandas Ratih. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 9 Agustus 2015

Standard
Buku Anak, Literasi, Parenting, Pendidikan, Reading Habit

Biblioterapi, Sembuhkan Trauma Lewat Buku

KEBAYORAN LAMA—Arya adalah seorang murid taman kanak-kanak (TK) yang ceria. Namun, saat mendengar suara hujan dan petir, keceriaannya sontak hilang. Bahkan dia bisa teriak histeris saat melihat hujan. Sikapnya yang tidak biasa itu muncul setelah Arya banyak melihat tayangan di televisi. Yakni, tentang bencana waduk Situgintung yang bobol. Arya mengalami suatu trauma.

Kabar tentang Arya sampai kepada seorang pendongeng yang juga sering menangani trauma healing. Dia adalah Ariyo Zidni. Ariyo pun menggagas treatment untuk membacakan dongeng setiap hari kepada Arya. Dongeng-dongeng itu sebagian besar berhubungan dengan air dan hujan. Dikisahkan bahwa air dan hujan tidak selamanya jahat. Dalam dua minggu, setelah rutin dibacakan dongeng, Arya tidak lagi histeris ketika hujan datang. Bahkan dia telah bisa asyik bermain hujan.

“Yang saya terapkan pada Arya adalah biblioterapi,” ujar Ariyo saat dihubungi Jawa Pos.

Apa itu biblioterapi? Istilah ini mungkin masih asing di telinga kita. Padahal, sebenarnya jenis terapi ini sudah diterapkan sejak lama. Banyak pula orang yang sudah menerapkannya namun tidak disadari.

Menurut Ariyo, biblioterapi adalah menggunakan bacaan yang baik untuk membantu seseorang memahami sesuatu. Salah satu contohnya seperti mengobati trauma yang dialami Arya di atas. Terapi ini juga dapat berguna untuk membantu orang lepas dari beberapa masalah. Seperti, tekanan stres, kurangnya performa kerja, sering gelisah, atau kepercayaan diri yang rendah di depan publik.

Ariyo menjelaskan, terapi ini dapat dilakukan siapa saja. Baik secara mandiri atau pun didampingi terapis. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan buku untuk biblioterapi. Pertama, tentukan tujuan terapi untuk apa. Masalah apa yang dialami dan perubahan apa yang diinginkan?

Kedua, pilih buku sesuai usia. Hal ini menentukan beberapa faktor seperti jenis cerita, tokoh, dan lama baca. Contohnya bagi anak-anak cerita fabel atau dongeng lebih membuat mereka tertarik. Selain itu, lama pembacaan cerita pada anak biasanya tidak lebih dari satu jam.

Secara terpisah, terapis bibliografi dari Universitas Pendidikan Indonesia Susanti Agustina mengatakan biblioterapi bisa dilakukan kepada kanak-kanak usia 0 tahun sampai lansia. Artinya, seorang ibu bisa melakukan biblioterapi untuk mengatasi permasalahan kehamilannya, contohnya  mengantisipasi baby blues. Bagi anak usia dini, biblioterapi berguna untuk mendongkrak minat dan memupuk budaya baca. Selain untuk mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosi.

Sementara, bagi perkembangan anak dan remaja, biblioterapi dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar, masalah salah asuh, pertemanan, percintaan, kehilangan percaya diri, korban bullying, dan lain sebagainya. Bagi dewasa, biblioterapi dapat mengatasi masalah seperti pernikahan, karir dan pekerjaan, bisnis, pengasuhan anak. Bagi lansia, biblioterapi akan membantunya lebih tenang, tidak merasa sendirian, merasa berdaya, seringkali menjadi wahana menyalurkan pegalaman hidupnya yang membuat bahagia ketika diapresiasi.

”Biblioterapi dapat dilakukan secara klasikal, berkelompok, maupun privat,” ujar Susanti.

Secara klasikal artinya, gabungan beberapa individu dapat ikut serta menyelami sebuah kisah dalam buku atau mendiskusikan buku dalam rentang waktu tertentu. Secara grup dapat dilakukan berdasarkan tingkat permasalahan mental dan kognitif yang sama antar individu.

Sementara biblioterapi juga bisa dilakukan secara privat. Bagi individu yang mengalami depresi, psikosomatis, sakit yang tidak memungkinkan untuk berinteraksi intensif dengan orang lain. Privat juga biasanya bagi mereka yang sangat menjaga privasinya, tidak ingin diketahui orang lain tentang permasalahannya, juga mereka yang memiliki tingkat keterbacaan yang lambat. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 22 Agustus 2015

Standard
Parenting, Pendidikan

Mendampingi Anak dari Bullying dan Pem-bully

KEBAYORAN BARU–Masa remaja mungkin menjadi masa yang paling berwarna. Di saat itu manusia mengalami beragam gejolak emosi dan pengalaman berinteraksi. Mulai dari interaksi positif hingga negatif. Salah satu yang menjadi fenomena di kalangan remaja saat ini adalah bullying.

Bullying terjadi saat ada dua pihak yang berada di posisi ‘si kuat’ dan si ‘lemah’. Saat ada dua pihak yang sama kuat beradu, bukanlah sebuah tindak bullying. Namun, dapat disebut berkelahi.

Menurut psikolog Vera Itabiliana remaja di zaman modern lebih rentan terhadap bullying. Hal itu disebabkan item bullying yang lebih banyak, dan cakupannya lebih luas. “Zaman dulu anak bisa kena bully hanya dari interaksi dengan teman, saat ini dari gagdet pun bisa jadi sumber bullying. Selain itu, dulu bully mungkin hanya seputar sekolah, sekarang masalah K-Pop juga bisa jadi bahan bully,” ujar Vera saat ditemui di Hotel Mulia Senayan (12/8) kemarin.

Vera menjelaskan di masa pra remaja anak-anak mengalami masa-masa perlunya pengembangan kompetensi. Jika kompetensi tersebut tidak tercapai dapat menimbulkan perasaan inferior pada anak. Selain itu masa pubertas juga sering mengalami mood swing. Yakni, emosi mudah berubah, seperti BT, murung, dan tiba-tiba tersenyum kembali.

“Masa remaja juga terjadi peer pressure, contohnya anak merasa memiliki tuntutan untuk ikut trend yang terjadi di kalangan temannya,” tukas Vera.

Karena itu, kata dia, peran orang tua sangat penting dalam pendampingan anak pra remaja. Terutama anak yang menjadi korban bullying atau justru pelaku bullying. Vera menyarankan saat mengalami kondisi ini orang tua perlu meningkatkan self esteem sang anak. “Saat dia diganggu teman tanamkan untuk tetap percaya diri, contohnya dengan tersenyum,” tukasnya.

Senyum juga merupakan suatu solusi simpel yang mujarab. Karena senyum terbukti secara ilmiah dapat membangkitkan hormon bahagia (endorfin). Sehingga stres menuru dan mood membaik.

Selain itu, orang tua juga perlu mencarikan kompetensi terbesar anak. Bawa dia ke banyak kegiatan dan amati dimana minat anak. Dari situ lama-kelamaan dia merasa handal di satu bidang dan kepercayaan diri meningkat.

Vera menambahkan, pada anak pelaku bullying cara menghadapinya relatif sama. Namun, perlu ditekankan pada anak pelaku bullying bahwa perbuatan itu salah, tidak keren, dan pengecut. “Anak pelaku bullying biasanya juga pernah menjadi korban atau memang murni ingin membully” tandas Vera.

Orang tua dituntut memiliki kepekaan dalam fenomena ini. Misalnya, amati baju sekolah anak apakah ada yang robek, amati perubahan perilaku anak yang menjadi murung, atau misalnya tidak berani lewat depan gerbang sekolah. “Jaga selalu komunikasi dengan anak,” ungkap Vera.

Salah satu orang tua yang memiliki pengalaman tersebut adalah Alya Rohali. Sang anak, Anjani pernah mendapat perlakuan digital bullying. Saat itu di salah satu foto instagram Anjani ada yang berkomentar, “kok nggak secantik mamanya?”

Alya pun berkata pada Anjani untuk tidak memedulikan hal itu. Dia menjelaskan pada sang anak bahwa orang tersebut tidak tahu tentang kelebihan Anjani. “Yang penting selalu jaga komunikasi dengan anak,” tandas Alya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 12 Agustus 2015

Standard
Kesehatan, Parenting, Pendidikan, Perkembangan Anak

Disleksia

KEBAYORAN LAMA—Bagi pecinta film India mungkin pernah menonton film Taare Zameen Par. Dikisahkan seorang anak berusia 8 tahun masih mengalami kesulitan membaca. Tidak seperti anak lainnya yang sudah bisa membaca pada usia lebih muda. Ternyata, anak tersebut mengalami disleksia. Namun, di balik kekurangannya, bocah tersebut memiliki kemampuan biasa dalam melukis dan berimajinasi.

Disleksia juga banyak terjadi di dunia nyata. Kendala yang dialami penyandangnya secara garis besar adalah kesulitan dalam membaca. Menurut psikolog tumbuh kembang Linda Gunawan dalam Diagnostic and Statistical manual of Mental Disorders (DSM) IV 1994 disleksia dimasukkan dalam kategori kesulitan belajar (learning disability). Yang terdiri dari kesulitan dalam membaca-disleksia, kesulitan dalam menulis-disgraphia, dan kesulitan dalam menghitung-discalculating).

”Tidak ada hubungan langsung antara intelektual dan disleksia,” ujar Linda saat dihubungi Jawa Pos.

Lebih lanjut, kata Linda, proses pembelajaran anak bukan hanya melalui membaca, tetapi juga melalui auditori dan pengamatan. Kendala yang dialami penyandang disleksia adalah kurangnya sumber informasi dari tulisan yang menghambat bertumbuhnya informasi itu sendiri. Sehingga turut menghambat bertumbuhnya potensi optimal intektualnya.

Kedua, lanjut Linda, masalah juga ditemukan dengan kemampuan menulis anak. Terutama ketika dia menulis kata. Ini yang menghambat kemampuan akademisnya di sekolah, jika masalah tidak ditangani.

Namun, seperti kisah Ishaan dalam film Taare Zameen Par dan ilmuwan Einstein yang juga merupakan penyandang disleksia, seringkali penyandangnya memiliki kelebihan di atas rata-rata. Menurut Linda, tidak ada studi yang menyatakan bahwa gangguan perkembangan seseorang berkorelasi dengan kelebihan spesifik dibandingkan orang pada umumnya.

”Satu hal yang perlu dihargai dari mereka, bahwa mereka bekerja lebih keras untuk mengembangkan diri,” tutur Linda.

Oleh karena itu, kata dia, setiap perkembangan kecil, setiap minat yang menonjol dalam diri anak penyandang disleksia, perlu mendapatkan perhatian untuk dikembangkan orang tua. Pencegahan dini disleksia dapat dilakukan ketika orang tua melihat adanya masalah tahap perkembangan awal.

Seperti kemampuan penglihatan awal, berguling dan duduk tepat waktu, perkembangan motorik mulut anak, dan perkembangan bahasanya.

Salah satu orang tua yang memiliki anak penyandang disleksia adalah Amalia Prabowo. Anak sulungnya Aqillurahman A.H. Prabowo (10) masih mengalami kesulitan membaca hingga saat ini. Namun, Amalia tidak tinggal diam. Dengan saran Linda, Amalia berusaha menemukan minat dan potensi terbesar Aqil. ”Kami melakukan hiking setiap pekan sebagai terapi untuk Aqil,” tukas Amalia.

Sembari melakukan terapi Amalia melakukan penjajakan potensi Aqil. Akhirnya ditemukan bahwa Aqil memiliki imajinasi yang luas dan kemampuan melukis yang di atas anak rata-rata. Setiap pekan pula Aqil menghasilkan karya lukis baru yang kini telah dibukukan. Bahkan kisah hidup Aqil akan segera diluncurkan dalam sebuah film.

Bagi orang tua yang memiliki anak dengan disleksia, Linda berpesan agar segera ditangani kepada ahlinya, begitu anak tidak berkembang sebagaimana seharusnya pada anak seusianya. Selain itu, bersabar dalam proses. ”Jangan berpikir bahwa anakku bodoh atau mengeluarkan kata tersebut untuk menunjukkan frustrasi kita. Itu akan memberikan konsep diri yang buruk pada anak sehingga sulit berkembang kemudian,” tandasnya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 27 Juli 2015

Standard
Kesehatan, Parenting, Pola Tidur

Disiplinkan Waktu Tidur

KEBAYORAN LAMA—Mengantuk di siang hari rasanya sangat mengganggu pekerjaan. Sebagian orang bahkan bisa merasa ngantuk yang tidak tertahankan di siang hari sehingga langsung tertidur. Jika gangguan tersebut sering berulang, berhati-hatilah Anda mengalami penyakit gangguan tidur. Salah satunya Delayed Sleep Phase Syndrome (DSPS).

Kesehatan tidur seseorang sangat berpengaruh pada performa dan kesehatan tubuhnya. Menurut dokter spesialis tidur dr Andreas Prasadja kesehatan tidur orang Indonesia secara umum masih sangat buruk. Hal tersebut dilihat dari banyaknya orang Indonesia yang mengalami kantuk di siang hari. ”Kalau tidur cukup, nggak akan ngantuk,” ujar Andreas saat dihubungi Jawa Pos (26/7) kemarin.

Dia mengatakan, jangan langsung menganggap bahwa orang yang ngantuk itu pemalas. Mengantuk merupakan tanda adanya kebutuhan tidur yang belum terpenuhi. Tidak terpenuhinya waktu tidur tersebut salah satunya karena mengalami DSPS. DSPS merupakan gangguan tertundanya waktu tidur seseorang selama beberapa jam dari waktu tidur pada umumnya.

”Penderita DSPS misalnya berusaha tidur pada pukul 12 malam, namun sekuat apa pun dia berusaha baru bisa tidur satu sampai dua jam kemudian,” tutur Andreas.

Lebih lanjut, kata dia, gangguan tidur ini paling banyak dialami oleh remaja dan dewasa muda. Yakni di usia pubertas hingga pertengahan usia 20-an. Menurutnya ada dua faktor yang memengaruhi hal ini. Pertama, jam biologis tidur pada usia remaja dan dewasa muda adalah di atas jam 11. Bagi kalangan muda waktu malam adalah saat meningkatnya vitalitas untuk melaksanakan pekerjaan. Selain itu, faktor lainnya adalah perilaku tidur yang tidak disiplin.     

”Mereka tidak mengatur kesehatan tidurnya karena kehidupan sosial atau karena tugas. Sementara di waktu pagi mereka sudah dituntut ke sekolah atau berangkat kerja sehingga terjadi social jetlag,” tukas Andreas.

Dia menambahkan dalam jangka panjang durasi tidur yang kurang akan meningkatkan tekanan darah, risiko kanker, penyakit jantung, dan penyakit-penyakit metabolik. Selain itu juga bisa mengganggu aspek psikologis seperti depresi dan stres. Sementara, tidur yang cukup sangat penting untuk mengaktifkan konsentrasi, daya ingat, dan kreativitas. Andreas mengatakan kebutuhan tidur pada remaja dan dewasa muda adalah 8,5 sampai 9 seperempat jam per hari.

Untuk mengatasi gangguan DSPS Andreas menyarankan tidak perlu memaksakan tidur. Ada treatment yang dapat dilakukan sendiri. Yakni, pertama biasakan rutin tidur pada jam yang bisa dilakukan contohnya pukul 2 malam. Setelah rutin tidur pada jam tersebut, majukan waktu tidur 15 menit pada satu malam. Kemudian majukan 15 menit lagi pada malam berikutnya, begitu seterusnya hingga tercapai waktu tidur ideal yang mencukupi kebutuhan durasi tidur.

”Saat tidur buat kondisi tubuh merasa rileks dan nyaman. Bila sulit tidur jangan dipaksakan, bisa keluar sebentar barulah setelah merasa rileks mencoba tidur kembali,” tandas Andreas. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 26 Juli 2015

Standard
Feature, Parenting

Maria Ernie, Lihai Menyulam dengan Satu Tangan (Kisah Lansia di Panti Jompo)

Langit cerah dan matahari sedang banyak melimpahkan sinarnya. Suasana siang biasanya dimanfaatkan oleh orang lanjut usia (lansia) untuk beristirahat. Apalagi yang sudah mencapai usia kepala delapan. Namun, di dalam Panti Sasana Tresna Werdha Karya Kasih Maria Ernie (82 tahun) masih giat melanjutkan sulaman taplak meja terbarunya.

Saat Jawa Pos mendatangi panti tersebut, tampak satu dua lansia yang berada di luar kamar. Seorang oma sedang menonton drama di televisi. Sementara, oma yang lain baru saja menerima kiriman makanan dari sang anak. Selesai memberikan makanan dan menyapa sang ibu, anak tersebut meninggalkan panti menggunakan sepeda motornya. Sejauh mata memandang di koridor panti hanya ada para lansia yang beraktivitas sendiri-sendiri.

Di sebuah kamar yang berseberangan dengan kantor sekretariat panti, seorang oma tampak duduk memangku selembar kain. Di sampingnya terletak benang warna kuning dan gunting. Pandangannya tidak bergerak dari kain tersebut. Dialah Oma Maria Ernie atau yang biasa dipanggil Oma Ernie.

Oma Ernie tampak lihai menusukkan benang dan jarum mengikuti pola bentuk bunga berwarna kuning. ”Lagi buat taplak meja,” ujarnya.

Sekilas tidak ada yang terlihat berbeda. Meski semua orang yang melihat mungkin akan terkagum di usia yang sedemikian lanjut dia masih bisa menghasilkan karya. Namun, saat Oma Ernie berdiri mengambil jatah snack yang disediakan pengurus, saya terkejut dalam hati. Tampak tangan kiri Oma Ernie sudah tidak lengkap lagi. Tangan itu telah kehilangan jari-jemari hingga lengan sebatas siku. Ternyata sedari tadi Oma Ernie menyulam hanya dengan satu tangan yang masih lengkap.

”Dulu pernah kanker tulang jadi diamputasi,” tutur perempuan kelahiran 26 Maret 1933 ini.

Oma Ernie bercerita dia mengalami kanker tersebut sekitar dua puluh tahun lalu. Namun, kondisi itu tidak menyurutkannya untuk produktif berkarya. Selama di panti dia telah menghasilkan puluhan prakarya. Dia diajari oleh seorang pelatih yang didatangkan oleh pengurus panti. ”Kalau sudah selesai ini dijual,” tukas Oma Ernie.

Mungkin yang dibayangkan orang-orang lansia yang tinggal di panti werdha tidak bahagia. Tetapi hal itu tidak tampak pada Oma Ernie saat itu. ”Anak masih ada di Jakarta, sering juga jenguk ke sini,” tandasnya.

Menurut catatan pengurus panti Oma Ernie adalah penghuni yang paling lama tinggal di sana. Sudah 16 tahun dia habiskan sebagian besar kehidupan di panti itu. Beberapa bulan sekali dia menginap di rumah sang anak. Dari pihak pengurus pun memiliki program membawa para lansia menginap di luar kota setiap dua tahun sekali. Itu sebagai program rekreasi mereka. Oma Ernie menyebutkan sudah pernah diajak ke beberapa tempat wisata seperti Puncak, Anyer, Cibubur, dan Ancol.

Ditanya mengenai rahasia tetap sehat di masa tua Oma Ernie menjawab intinya jangan bengong. Isi waktu dengan aktivitas menyenangkan. Sehari-hari Oma Ernie terbiasa tidur di bawah pukul sembilan malam dan bangun pada pukul empat pagi.

(Tambahan dari sisi pengurus):

Sehari-hari para lansia pun diberi makanan yang mendapat rekomendasi ahli gizi. Sekretaris Panti Sasana Tresna Werdha Karya Kasih Widyanti Rafael Djari menyebutkan setiap pagi para lansia mengikuti agenda kebaktian. Dilanjutkan dengan sarapan dan aktivitas bebas. Sebagian ada yang suka berkebun, ada juga yang memilih berbelanja ke luar. ”Untuk lansia yang perlu pendampingan, saat berbelanja keluar didampingi pengurus,” tutur Widyanti.

Dalam sepekan, Panti Sasana Tresna Werdha Karya Kasih memiliki dua agenda khusus. Yakni membuat prakarya pada hari selasa dan bermain angklung pada hari rabu. Sudah beragam jenis prakarya yang dihasilkan dari panti werdha berisi 30 lansia perempuan ini. Mulai dari tas daur ulang, sulam-menyulam, dan kerajinan osibana (hiasan bunga kering).

Widyanti menuturkan lansia yang dititipkan di panti masih memiliki keluarga. Alasan dititipkannya bermacam-macam. Pada kondisi seorang lansia, dia memiliki lima anak yang empat di antaranya tinggal di luar negeri. Oma tersebut menolak ketika diajak tinggal di luar negeri karena tidak tahan dengan iklimnya yang dingin.

”Di sini saya merasa ada panggilan hati,” tukas Widyanti. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 13 Juni 2015

Standard
Kesehatan, Parenting

Tidak Sekadar Mandi, Tapi Stimulasi

SETIA BUDI—Setiap anak dalam masa tumbuh kembang patut mendapat perhatian terbaik dari orang tuanya. Termasuk bayi dalam usia 1—3 tahun. Kegiatan memandikan bayi dalam usia tersebut ternyata bukan suatu hal yang remeh. Namun, dapat memberi banyak manfaat kepada bayi jika dilakukan dengan benar.

Pada periode emas, yakni tiga tahun pertama sejak kelahiran,  otak anak berkembang sangat cepat. Otak terdiri dari jutaan neuron yang saling berhubungan satu sama lain. Semakin banyak hubungan neuron yang terbentuk, anak akan semakin pintar. Pembentukan koneksi antar neuron dapat dipicu dengan memberi banyak stimulasi, seperti suara, warna, rasa, dan bau.

Menurut psikolog Ayoe Sutomo, setidaknya ada dua manfaat dari kegiatan memandikan bayi, yang pertama terbentuk bounding emosi antara anak dan orang tua. Sedangkan yang kedua terjadi proses belajar pada anak, seperti mengenal beragam tekstur serta mengenali suara orang tua.

”Stimulasi pada anak dapat terjadi secara tidak sadar, contohnya ketika menidurkan bayi dengan nyanyian. Bayi belajar mengenal suara dan kemampuan musikal,” ujar Ayoe saat ditemui di Lotte Shopping Avenue dalam acara peluncuran produk shampoo bayi terbaru pada (27/5) kemarin.

Anak pada usia 1—3 tahun mengalami perkembangan motorik kasar yang pesat. Sehingga, selalu aktif bergerak ke sana kemari dan seakan tidak bisa diam. Untuk itu, kegiatan mandi setelah bermain perlu dilakukan dengan optimal karena dapat berpengaruh pada psikologis anak. Di antaranya, anak merasa segar dan bersih.

Menurut ahli tumbuh kembang anak dr Soedjatmiko, mandi yang benar dilakukan dengan tidak terburu-buru. Seringkali orang tua memandikan anak ala kadarnya karena alasan kesibukan. Hal itu dapat berakibat anak trauma untuk mandi. Salah satu akibatnya anak sulit diajak keramas misalnya. Ini senada dengan penjelasan Ayoe bahwa stimulasi yang baik adalah bila anak merasa senang.

”Stimulasi multi sensori sama pentingnya dengan kebutuhan ASI, gizi lengkap seimbang, dan imunisasi, ” tutur Soedjatmiko saat ditemui di acara yang sama.

Selain itu, Ayoe merekomendasikan saat anak mulai bisa berkomunikasi, yakni di atas usia tiga tahun, diterapkan aturan mandi. Anak perempuan dimandikan oleh ibu, sedangkan anak laki-laki dimandikan oleh ayah. Dari situ anak dapat dikenalkan pengetahuan seksual sejak dini. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 27 Mei 2015

Standard
Kehamilan, Kesehatan, Parenting

1000 HPK Pengaruhi 80 Persen Perkembangan Otak Anak

GONDANGDIA—Seribu hari pertama kehidupan (HPK) ternyata menjadi masa yang paling penting dalam proses tumbuh kembang seorang anak. Seribu HPK merupakan masa awal kehidupan seorang manusia yang dibagi menjadi tiga tahap. Yaitu, 9 bulan dalam kandungan (270 hari), 6 bulan masa pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif (180 hari), dan 18 bulan masa pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MPASI).

”Selama usia dua hingga tiga tahun pertama pertumbuhan otak berkembang 80 persen,” ujar dokter spesialis gizi Fiastuti Witjaksono ketika ditemui di kampanye Sarihusada bertajuk ‘Berdua Jadi Hebat’ di lapangan parkir Sarinah pada Minggu (24/5) kemarin.

Menurut Fiastuti seribu hari pertama merupakan masa krusial bagi pemenuhan gizi seorang anak. Selain sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak masa ini juga menentukan status kesehatan seseorang di masa muda. ”Jika gizi seribu hari pertama terpenuhi, dapat mengurangi risiko terkena penyakit di masa muda sebanyak 25 persen,” tambah Fiastuti.

Lebih lanjut, Fiastuti menjelaskan bahwa riset membuktikan salah satu penyakit yang mampu dihindari adalah penyakit jantung. Saat seribu hari pertama seorang anak membutuhkan nutrisi lengkap yang dibutuhkan untuk membentuk zat-zat tertentu, seperti hormon dan enzim. Jika salah satu zat ini tidak terbentuk dapat mengakibatkan pembuluh darah menjadi tidak lentur, kaku, dan berdinding tidak mulus. Pembuluh darah bekerja tidak optimal, sehingga nutrisi dalam darah tidak bisa teraliri dengan baik.

Selain itu, jika aliran darah ke otak tidak berjalan optimal, maka dapat memengaruhi perkembangan otak dan fungsi kognitif anak. Sedangkan, otak terdiri dari jaringan-jaringan saraf yang sangat banyak.

”Tidak cukup kuantitas bahwa anak merasa kenyang, tetapi harus diperhatikan kualitas dari sumber gizi yang diberikan,” tutur Fiastuti.

Menurut Fiastuti, sumber gizi yang harus tercukupi pada anak adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Karbohidrat berguna sebagai zat tenaga, protein berguna sebagai zat pembangun, serta lemak berguna sebagai sumber tenaga dan pertumbuhan otak.

Pada masa janin dalam kandungan sumber gizi tersebut disalurkan lewat makanan yang dikonsumsi sang ibu. Maka, ibu hamil harus memerhatikan kandungan gizi yang dia konsumsi tercukupi untuk kebutuhan ibu dan anak. Begitu pula saat 6 bulan masa pemberian ASI eksklusif. Pada masa selanjutnya, yakni pemberian ASI dan MPASI, sumber-sumber zat gizi tersebut diberikan secara bertahap kepada anak dalam bentuk makanan sesungguhnya. ”Usia 1 tahun anak sudah boleh makan makanan seperti orang dewasa,” tukas Fiastuti.

Sementara, sembari anak diberi makanan dengan nutrisi tercukupi, perlu pula dilakukan kontrol gizi untuk mengetahui status gizi anak. Anak harus ditimbang dan disesuaikan dengan usianya. Jika grafik kartu menuju sehat (KMS) menurun hingga mencapai tanda kuning, hal ini perlu diwaspadai. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 24 Mei 2015

Standard
Parenting

Anak Perlu Cukup Stimulasi

KEBAYORAN BARU—Periode emas anak memang sangat menentukan tumbuh kembangnya hingga usia dewasa. Usia dua tahun pertama setelah kelahiran adalah yang paling krusial. Tidak hanya nutrisi yang cukup dan seimbang, anak di usia tersebut juga membutuhkan stimulasi. Sayangnya, hal ini seringkali dilupakan para orang tua.

”Riset membuktikan bahwa gangguan perkembangan anak sebagian besar karena kurang stimulasi,” ujar ketua unit kerja tumbuh kembang (UKK) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Eddy Fadlyana saat ditemui di hotel Ritz Carlton dalam acara peluncuran Wyeth Nutrition Science Center (WNSC) pada Selasa (26/5) kemarin.

Menurut Eddy faktor utama penyebab kurangnya stimulasi adalah pola asuh orang tua. Anak jarang diajak bermain dan berinteraksi. Padahal, stimulasi dibutuhkan untuk mengembangkan empat komponen, yaitu motorik kasar, motorik halus, sosial, dan bicara.

”Yang sering kita temukan ibu-ibu menggendong anaknya sambil menyapu misalnya, tanpa mengajak sang anak bicara,” tambah Eddy.

Lebih lanjut, ujarnya, stimulasi perlu menjadi suatu pola kebiasaan. Stimulasi yang diberikan kepada anak butuh disesuaikan dengan milestone tumbuh kembang anak sesuai usianya. Salah satunya dilakukan melalui permainan edukasi sederhana. Misalnya, pada anak usia 6 bulan kemampuannya sudah bisa merangkak. Pada awal usia tersebut sang anak dapat diberi stimulasi dengan cara meletakkan guling kecil di depannya. Kemudian guling diputarkan agar anak mengikuti pergerakan guling.

Begitu pula pada usia tujuh bulan, seorang anak seharusnya sudah bisa duduk. Pada usia enam hingga tujuh bulan sang anak perlu dilatih duduk. Kemudian, memasuki usia satu tahun, anak seharusnya sudah bisa berjalan. Stimulasi latihan berjalan dapat dilakukan dengan memegang kedua tangannya, kemudian satu tangan, dan lambat laun kedua tangan anak dilepas.

”Saat ini banyak terdapat kelompok belajar dan PAUD (pendidikan anak usia dini, Red), namun stimulasi yang utama harusnya berasal dari orang tua,” tutur Eddy.

Stimulasi tersebut sangat berpengaruh pada perkembangan otak dan kognitif anak. Dengan stimulasi yang baik saraf-saraf otak anak dilatih berkembang secara optimal. Apalagi usia dua tahun pertama perkembangan otak anak sangat pesat, yakni lebih dari 70 persen. Sebaliknya, jika tidak mendapat stimulasi bisa berakibat pada kerusakan otak permanen.

”Jika dikoreksi pada usia yang lebih besar, tidak akan berpengaruh banyak pada anak. Karena masa perkembangan otak yang optimal terjadi pada dua tahun pertama,” tukas Eddy.

Sedangkan, jika ditemukan seorang anak tidak dapat melakukan tindakan sesuai milestone usianya, perlu dikonsultasikan kepada dokter anak. Perlu dipastikan bahwa anak tidak memiliki masalah tumbuh kembang. Karena jika terlambat, akan terbawa hingga usia dewasanya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 26 Mei 2015

Standard
Parenting

Agar Anak Tak Kecanduan Gadget, Jangan Lebih dari 1-2 Jam Sehari

Di dunia yang serba terkomputerisasi ini, paparan gadget dan teknologi selalu dijumpai sehari-hari. Bahkan sebagian orang telah masuk ke dalam taraf adiktif atau kecandun terhadap pemakaian gadget. Tidak hanya pada orang tua, namun juga anak-anak.

Psikolog Roslina Verauli menjelaskan bahwa taraf adiktif itu dikategorikan ketika kegiatan bersama gadget atau teknologi sudah sampai mengganggu fungsi hidup sehari-hari anak. Anak pada usia pra sekolah semestinya banyak memiliki waktu untuk bermain aktif dan berhubungan dengan orang-orang dekat.

Hasil riset American Academy of Pediatrics (AAP) pada tahun 1999 menyimpulkan bahwa waktu anak berinteraksi dengan teknologi, termasuk gadget, komputer, tablet, dan layar TV semestinya tidak lebih dari 1—2 jam per hari. Pada saat riset itu dilakukan memang paparan teknologi tidak seluas saat ini, namun ternyata AAP tidak mengoreksi hasil penelitiannya hingga sekarang. Sehingga, batas tersebut tetap berlaku.

”Hasil riset itu masuk akal karena anak usia pra sekolah membutuhkan waktu bermain minimal 5 jam per hari,” tutur Roslina saat dihubungi Jawa Pos.

Lebih lanjut Roslina mengatakan bahwa aktivitas bermain dalam 5 jam tersebut harus terdiri dari kegiatan bermain aktif dan pasif. Sementara, bermain dengan gadget hanya merupakan kegiatan bermain pasif saja. Karena itu, waktu bermain 5 jam harus diisi dengan kegiatan gerak aktif pula. Misalnya, bermain di luar dengan teman sebaya atau memanipulasi alat bermain di rumah.

Menurut Roslina ada kesalahan pandangan antara anak dan gadget di kalangan orang tua dan sebagian pakar. Mereka menganggap gadget sebagai sebab anak mengalami kecanduan dan melakukan kegiatan abnormal. Namun, sebenarnya anak bermain dengan gadget adalah sebuah akibat. Yang timbul karena kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi, sehingga melarikan diri ke gadget.

Apa yang menyebabkan anak tidak terpenuhi kebutuhan emosionalnya? Pertama, karena diskonfirmasi antara orang tua dan anak. Maksudnya, orang tua berada di rumah bersama anak namun tidak menganggap penting sang anak. Anak lebih banyak diabaikan. ”Kalau orang tua bersikap hangat, orang tua tidak akan bisa dikalahkan oleh gadget,” tukas Roslina.

Selain itu, perlu diperhatikan pula apakah anak cukup terfasilitasi dengan kegiatan di luar, misalnya mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Perhatikan pula apakah anak memiliki pilihan untuk bermain dengan teman-teman sebayanya. Hal-hal tersebut dapat mengalihkan perhatian anak dari gadget, yang sebenarnya muncul karena kurangnya pilihan berkegiatan aktif.

”Sebelum nyalahin gadget cek dulu tiga hal itu,” kata Roslina.

Tidak ada batasan minimal usia mengenalkan anak pada gadget. Di zaman yang serba computerize ini kemampuan menguasasi komputer adalah salah satu agenda untuk menguasai kemampuan adaptif. Mobil, televisi, dan banyak hal lainnya saat ini sudah berbasis komputer.

Sehingga normal-normal saja mengenalkan anak dengan gadget. Namun, untuk mulai menggunakan gadget Roslina membatasi minimal usia 2—3 tahun.

Di samping itu, hal terakhir yang harus diperhatikan orang tua adalah memakai gadget sesuai peruntukannya. Apakah untuk bekerja, bermain, atau berhubungan dengan dunia luar. Seorang anak akan meniru perilaku orang yang dikaguminya. Pada usia pra sekolah, riset menunjukkan orang yang dikagumi tersebut adalah orang tuanya. (uti)

Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 3 Mei 2015

Standard