Dia merupakan admin dari akun medsos @dosomething_id yang dapat ditemui di instagram dan twitter. Akun tersebut dibuat untuk melakukan kampanye-kampanye positif kepada anak muda lewat media sosial. ”Anak Indonesia kan medsos banget, ini salah satu kekuatan kita,” ujar Olga.
Continue readingTidak Sekadar Mandi, Tapi Stimulasi
SETIA BUDI—Setiap anak dalam masa tumbuh kembang patut mendapat perhatian terbaik dari orang tuanya. Termasuk bayi dalam usia 1—3 tahun. Kegiatan memandikan bayi dalam usia tersebut ternyata bukan suatu hal yang remeh. Namun, dapat memberi banyak manfaat kepada bayi jika dilakukan dengan benar.
Pada periode emas, yakni tiga tahun pertama sejak kelahiran, otak anak berkembang sangat cepat. Otak terdiri dari jutaan neuron yang saling berhubungan satu sama lain. Semakin banyak hubungan neuron yang terbentuk, anak akan semakin pintar. Pembentukan koneksi antar neuron dapat dipicu dengan memberi banyak stimulasi, seperti suara, warna, rasa, dan bau.
Menurut psikolog Ayoe Sutomo, setidaknya ada dua manfaat dari kegiatan memandikan bayi, yang pertama terbentuk bounding emosi antara anak dan orang tua. Sedangkan yang kedua terjadi proses belajar pada anak, seperti mengenal beragam tekstur serta mengenali suara orang tua.
”Stimulasi pada anak dapat terjadi secara tidak sadar, contohnya ketika menidurkan bayi dengan nyanyian. Bayi belajar mengenal suara dan kemampuan musikal,” ujar Ayoe saat ditemui di Lotte Shopping Avenue dalam acara peluncuran produk shampoo bayi terbaru pada (27/5) kemarin.
Anak pada usia 1—3 tahun mengalami perkembangan motorik kasar yang pesat. Sehingga, selalu aktif bergerak ke sana kemari dan seakan tidak bisa diam. Untuk itu, kegiatan mandi setelah bermain perlu dilakukan dengan optimal karena dapat berpengaruh pada psikologis anak. Di antaranya, anak merasa segar dan bersih.
Menurut ahli tumbuh kembang anak dr Soedjatmiko, mandi yang benar dilakukan dengan tidak terburu-buru. Seringkali orang tua memandikan anak ala kadarnya karena alasan kesibukan. Hal itu dapat berakibat anak trauma untuk mandi. Salah satu akibatnya anak sulit diajak keramas misalnya. Ini senada dengan penjelasan Ayoe bahwa stimulasi yang baik adalah bila anak merasa senang.
”Stimulasi multi sensori sama pentingnya dengan kebutuhan ASI, gizi lengkap seimbang, dan imunisasi, ” tutur Soedjatmiko saat ditemui di acara yang sama.
Selain itu, Ayoe merekomendasikan saat anak mulai bisa berkomunikasi, yakni di atas usia tiga tahun, diterapkan aturan mandi. Anak perempuan dimandikan oleh ibu, sedangkan anak laki-laki dimandikan oleh ayah. Dari situ anak dapat dikenalkan pengetahuan seksual sejak dini. (uti)
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 27 Mei 2015
1000 HPK Pengaruhi 80 Persen Perkembangan Otak Anak
GONDANGDIA—Seribu hari pertama kehidupan (HPK) ternyata menjadi masa yang paling penting dalam proses tumbuh kembang seorang anak. Seribu HPK merupakan masa awal kehidupan seorang manusia yang dibagi menjadi tiga tahap. Yaitu, 9 bulan dalam kandungan (270 hari), 6 bulan masa pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif (180 hari), dan 18 bulan masa pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MPASI).
”Selama usia dua hingga tiga tahun pertama pertumbuhan otak berkembang 80 persen,” ujar dokter spesialis gizi Fiastuti Witjaksono ketika ditemui di kampanye Sarihusada bertajuk ‘Berdua Jadi Hebat’ di lapangan parkir Sarinah pada Minggu (24/5) kemarin.
Menurut Fiastuti seribu hari pertama merupakan masa krusial bagi pemenuhan gizi seorang anak. Selain sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak masa ini juga menentukan status kesehatan seseorang di masa muda. ”Jika gizi seribu hari pertama terpenuhi, dapat mengurangi risiko terkena penyakit di masa muda sebanyak 25 persen,” tambah Fiastuti.
Lebih lanjut, Fiastuti menjelaskan bahwa riset membuktikan salah satu penyakit yang mampu dihindari adalah penyakit jantung. Saat seribu hari pertama seorang anak membutuhkan nutrisi lengkap yang dibutuhkan untuk membentuk zat-zat tertentu, seperti hormon dan enzim. Jika salah satu zat ini tidak terbentuk dapat mengakibatkan pembuluh darah menjadi tidak lentur, kaku, dan berdinding tidak mulus. Pembuluh darah bekerja tidak optimal, sehingga nutrisi dalam darah tidak bisa teraliri dengan baik.
Selain itu, jika aliran darah ke otak tidak berjalan optimal, maka dapat memengaruhi perkembangan otak dan fungsi kognitif anak. Sedangkan, otak terdiri dari jaringan-jaringan saraf yang sangat banyak.
”Tidak cukup kuantitas bahwa anak merasa kenyang, tetapi harus diperhatikan kualitas dari sumber gizi yang diberikan,” tutur Fiastuti.
Menurut Fiastuti, sumber gizi yang harus tercukupi pada anak adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Karbohidrat berguna sebagai zat tenaga, protein berguna sebagai zat pembangun, serta lemak berguna sebagai sumber tenaga dan pertumbuhan otak.
Pada masa janin dalam kandungan sumber gizi tersebut disalurkan lewat makanan yang dikonsumsi sang ibu. Maka, ibu hamil harus memerhatikan kandungan gizi yang dia konsumsi tercukupi untuk kebutuhan ibu dan anak. Begitu pula saat 6 bulan masa pemberian ASI eksklusif. Pada masa selanjutnya, yakni pemberian ASI dan MPASI, sumber-sumber zat gizi tersebut diberikan secara bertahap kepada anak dalam bentuk makanan sesungguhnya. ”Usia 1 tahun anak sudah boleh makan makanan seperti orang dewasa,” tukas Fiastuti.
Sementara, sembari anak diberi makanan dengan nutrisi tercukupi, perlu pula dilakukan kontrol gizi untuk mengetahui status gizi anak. Anak harus ditimbang dan disesuaikan dengan usianya. Jika grafik kartu menuju sehat (KMS) menurun hingga mencapai tanda kuning, hal ini perlu diwaspadai. (uti)
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 24 Mei 2015
Olahraga Berat, Hati-Hati Overhidrasi
SENEN—Air adalah komponen terbanyak yang menyusun tubuh manusia. Sekitar 50—60 persen dari berat badan orang dewasa adalah air. Untuk itu setiap harinya manusia membutuhkan konsumsi air ideal sebanyak 2,5 liter (L) atau sama dengan 8 gelas. Namun, jika terlalu banyak meminum air dalam waktu singkat justru bias mengakibatkan overhidrasi. Overhidrasi bahkan bias berujung pada kematian.
Pengetahuan tentang overhidrasi masih minim di masyarakat. Berbeda dengan dehidrasi, yang merupakan kondisi kekurangan cairan tubuh. Overhidrasi terjadi saat seseorang minum berlebihan dalam waktu singkat. Sehingga, mengalami kelebihan cairan dan konsentrasi natrium dalam plasma darah menjadi sangat rendah.
Keadaan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal namun penyebab utama adalah minum berlebihan dalam jangka waktu cepat, misalnya 10—15 menit sebanyak satu liter. Kondisi itu sering ditemui saat olahraga atau kontes minum sebanyak-banyaknya. Selain itu, penyebab lainnya adalah penderita memiliki penyakit tertentu, gangguan hormon, dan obat-obatan.
”Kasus ini banyak terjadi pada orang yang melakukan olahraga berat, terutama atlet atau orang yang berolahraga dalam waktu lama,” ujar pakar fisiologi olahraga departemen fisiologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) Ermita I. Ilyas saat ditemui di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada Selasa (5/5) kemarin.
Ermita menuturkan pernah terjadi kasus overhidrasi di Amerika Serikat yang menyebabkan dua siswa SMA meninggal setelah latihan sepak bola. Kasus pertama penyakit ini terjadi pada pelari ultra marathon (90 km) wanita berusia 46 tahun pada 1981. Selanjutnya ditemukan lagi kasus yang sama pada tahun 1985 dan selama kurun tahun 1990an. Pada 2001—2014 setiap tahun kasus ini ditemukan.
Lebih lanjut, kata Ermita, banyak terjadi kesalahpahaman yang bisa menyebabkan overhidrasi. Banyak informasi yang beredar kurang detil tentang minuman olahraga (seperti minuman isotonik, Red). Minum sebanyak-banyaknya sebelum haus saat akan melakukan olahraga justru dapat menyebabkan overhidrasi. Selain itu Ermita juga berpesan agar tenaga medis di lapangan maupun di ruang gawat darurat perlu berhati-hati, mengingat maraknya lomba maraton. Pasien diberi cairan tambahan karena diduga mengalami dehidrasi.
”Overhidrasi menyebabkan sel-sel dalam tubuh mengembang. Yang paling fatal apabila sel yang mengembang adalah sel otak, akibatnya bisa berakhir higga kematian,” kata pakar gastroenterologi dr. Murdani Abdullah saat ditemui di tempat yang sama.
Menurut Murdani overhidrasi memiliki beberapa tingkatan, yaitu overhidrasi ringan, sedang, dan berat. Pada overhidrasi ringan gejalanya adalah mual dan kram. Overhidrasi ringan dapat ditangani secara mandiri dengan mengurangi konsumsi air dan memberi makanan yang asin pada pasien. Pada overhidrasi sedang gejalanya adalah sakit kepala, perut terasa penuh, kaki dan tangan serta jari-jari bengkak. Sedangkan overhidrasi berat memiliki gejala kejang-kejang, disorientasi, hilang kesadaran, koma dan dapat meninggal. Untuk overhidrasi sedang dan berat penanganan sebaiknya diserahkan pada pihak rumah sakit. (uti)
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 5 Mei 2015
Kurang Percaya Diri, Tulis Satu Kelebihan Setiap Hari
SETIA BUDI—Perempuan di usia remaja seringkali merasakan keresahan dan kurang percaya diri. Sebagian di antara mereka tidak tahu kelebihan dan potensi yang dimiliki. Hal itu dibenarkan oleh psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana.
”Mereka harus menghadapi tuntutan keluarga, pendidikan, lingkungan pergaulan, bahkan diri sendiri,” ujar Vera ketika ditemui di Hotel Gran Melia dalam acara “Berbagi Inspirasi Positif, Marina Gelar FUNtastic You” pada Selasa (5/5) kemarin.
Menurut Vera, remaja perempuan adalah masa yang dihadapkan dengan banyak perubahan dan pengambilan keputusan. Misalnya, menentukan jurusan mana yang akan dipilih di perguruan tinggi, konflik dengan teman, atau mulai minder dengan kondisi fisik sendiri.
Meningkatkan kepercayaan diri dapat dimulai dari memahami kelebihan dan potensi diri sendiri. Namun, kebanyakan remaja tidak mampu menyebutkan kelebihan dirinya. Karena itu, Vera berpesan agar remaja perempuan menuliskan satu kelebihan mereka setiap harinya dalam sebuah diary. ”Setelah beberapa lama, diary itu akan memunculkan semangat diri ketika dibuka lagi,” terang Vera.
Selain itu, di era digital ini semakin banyak faktor yang menyebabkan menurunnya kepercayaan diri pada remaja, misalnya lewat cyber bullying. Vera menjelaskan cyber bullying banyak terjadi pada sosok yang sangat menonjol, seperti public figure atau justru sesorang yang dianggap lemah. Jika kondisi ini sampai terjadi tindakan yang diambil sebaiknya membiarkan perbuatan bullying tersebut. ”Cuekin aja,” tukas Vera.
Tindakan bullying yang terjadi juga sebaiknya disimpan, misalnya melakukan screen capture pada komentar yang berbentuk bullying. Suatu saat hal itu bisa menjadi bukti jika telah sampai pada jalur hukum. Menurut Vera melakukan perlawanan terhadap bullying juga dapat dilakukan asal yakin bisa menjadi pihak yang lebih kuat.
Atas beberapa kondisi yang menimpa remaja perempuan tersebut, menurut Vera dibutuhkan empat hal. Pertama, penerimaan dari lingkungan tentang apa adanya diri mereka. Kedua, dukungan untuk mengembangkan diri sesuai minat dan bakat. Selanjutnya, kesempatan untuk mencoba hal baru dan mengembangkan potensi, serta apresiasi terhadap usaha terbaik mereka. (uti)
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 5 Mei 2015
Meningkatkan Kualitas Hidup Bayi Prematur
GAMBIR—Di Indonesia setiap tahun terdapat 15,5 persen bayi yang lahir prematur. Data tahun 2010 menunjukkan 675.700 bayi lahir prematur dari total kelahiran sebanyak 4.371.800 bayi. Angka ini menjadikan Indonesia berada di posisi kelima teratas kelahiran prematur di dunia. Posisi tersebut berada setelah India, Tiongkok, Nigeria, dan Pakistan.
Prematuritas ternyata juga menjadi salah satu penyebab besarnya angka kematian bayi. Sebanyak 37 persen angka kematian bayi disebabkan prematuritas. Kelahiran prematur juga menjadi faktor timbulnya risiko gangguan pada bayi. Pertama, risiko jangka pendek seperti hipotermi,gangguan pernafasan berat, kelainan jantung, infeksi, perdarahan otak, gangguan pencernaan, dan masalah minum. Selain itu, risiko jangka panjang seperti gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan pertumbuhan, dan gangguan perkembangan.
“Gangguan perkembangan dapat berupa gangguan perilaku, kecerdasan, interaksi, hingga serebral palsi dan retardasi mental pada perkembangan anak,” ujar dokter spesialis anak Rumah Sakit Ibu Anak (RSIA) Budi Kemuliaan Irma Sapriani saat ditemui di Monas dalam acara aksi gizi pada Minggu (10/5) kemarin.
Menurut keterangan Irma lebih dari 50 persen bayi prematur memiliki gangguan perkembangan. Untuk mencegah risiko tersebut, ibu hamil perlu peduli terhadap kondisi kehamilannya. Ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai saat hamil sebagai tanda prematuritas, di antaranya mengalami keputihan, kontraksi atau kencang-kencang yang sering, keluar air-air, demam, dan keluar darah.
“Jika mengalami salah satu keluhan itu harus berkonsultasi dengan dokter kandungan,” tutur dokter spesialis kandungan Rumah Sakit Ibu Anak (RSIA) Budi Kemuliaan Dwirani Amelia saat ditemui di kesempatan yang sama.
Lebih lanjut, Dwirani mengatakan bahwa ibu hamil tidak cukup sehat saja tetapi juga bugar. Hal itu perlu dibiasakan saat awal pernikahan dengan mengonsumsi makanan bergizi dan olahraga tiga kali seminggu. “Kalau sebelum hamil jarang olahraga, sewaktu hamil akan jadi berat,” tambah Dwirani.
Bayi yang lahir prematur memerlukan perawatan inkubator. Namun, akan lebih baik bila perawatan tersebut ditunjang dengan perawatan metode kangguru (PMK). PMK dilakukan antara ibu dan anak. Caranya adalah menempelkan bayi prematur yang tidak memakai baju ke dada sang ibu. “Kulit ibu dan bayi harus saling menempel,” tambah Irma.
Lebih lanjut, kata Irma, metode PMK ada dua yakni intermitten yang dilakukan berselang-seling dengan perawatan inkubator, dan PMK 24 jam yang dilakukan pada bayi prematur selepas dari perawatan inkubator. PMK 24 jam dilakukan pada bayi prematur yang kondisinya sudah stabil.
PMK memiliki banyak keuntungan. Di antaranya menstabilkan denyut jantung bayi, mempercepat peningkatan berat badan bayi prematur, memberi kehangatan bayi, meningkatkan durasi tidur, dan mengurangi tangisan bayi. (uti)
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 10 April 2015
Cegah Infeksi, Ganti Pembalut Tiap 4—6 Jam
Banyak penyakit yang muncul disebabkan oleh cara pengunaan pembalut wanita yang tidak tepat. Misalnya, infeksi kuman pada daerah kewanitaan. Salah satu penyakit pembunuh wanita terbanyak juga diawali oleh infeksi, yaitu kanker serviks. Kanker serviks terjadi di mulut Rahim dan disebabkan oleh infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus). Apakah ada hubungannya antara pemakaian pembalut yang tidak tepat dengan kanker serviks?
Menurut dokter spesialis kandungan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Budi Kemuliaan Dwirani Amelia pembalut yang tersedia di pasaran saat ini seringkali diproduksi menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Bahan kimia berbahaya yang paling banyak digunakan dalam proses pembuatan pembalut adalah chlorin. Chlorin dimanfaatkan untuk memutihkan bahan-bahan pembalut. ”Bagi orang tertentu, chlorin dapat menimbulkan reaksi alergi sehingga timbul gatal dan kemerahan,” ujarnya ketika dihubungi Jawa Pos.
Selain itu ada juga pembalut yang dilapisi plastik. Plastik ini mencegah aliran udara di daerah kewanitaan sehingga menyebabkan daerah tersebut menjadi lembab. Ketika kelembaban tinggi di daerah tersebut, maka kuman-kuman normal yang memang sejak awal ada di daerah tersebut menjadi berkembang biak berlebihan. Sehingga menyebabkan infeksi atau menyebabkan jamur tumbuh dengan subur.
Lebih lanjut, kata Dwirani, yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pembalut adalah lama pemakaian. Apabila kelembaban di daerah kewanitaan sedang tinggi, di mana keluarnya sekret vagina lebih banyak dari hari-hari biasa, maka pembalut akan lebih cepat lembab. Pada keadaan demikian hendaknya mengganti pembalut setidaknya setiap 4—6 jam. Periode 4—6 jam merupakan periode pertumbuhan kuman. Maka jika pembalut segera diganti kuman-kuman tidak akan menginfeksi daerah kewanitaan.
”Pembalut yang dilengkapi dengan gel memang membuat permukaannya menjadi lebih kering,” tutur Dwirani.
Hal itu membuat pembalut yang dilengkapi gel dapat digunakan sedikit lebih lama. Akan tetapi kuman tetap dapat tumbuh dan berkembang biak di dalam gel, sehingga tetap batasi waktu peggunaan pembalut.
Jadi pembalut tidak menyebabkan kanker serviks, tetapi pembalut yang buruk dan penggunaan pembalut yang tidak tepat dapat meningkatkan kejadian infeksi non spesifik (kuman-kuman banal dan flora noemal vagina berlebihan) dan tidak selalu dikaitkan dengan infeksi HPV.
Pembalut yang baik bukan hanya dari bahan-bahan pembuatnya (menyerap cairan dan keringat dengan baik, tidak terbuat dari plastik dan tidak banyak mengandung chlorin) tetapi juga dari cara penggunaannya (maksimal 4—6 jam sudah harus diganti). (uti)
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 18 Mei 2015
Aqillurachman A. H. Prabowo, Anak Penyandang Disleksia dengan Bakat Melukis Di Atas Rata-Rata
Dalam dunia Aqil, saat melihat ikan muncul bayangan ikan itu berada di atas awan. Saat sedang berjalan-jalan ke gunung, dia melihat sulur tanaman yang memiliki mata, mulut, hidung, seperti makhluk yang dapat bicara. Imajinasinya seringkali melambung di atas anak rata-rata. Meski menyandang disleksia (tidak bisa membaca), Aqil telah menciptakan puluhan lukisan yang menjadi inspirasi film layar lebar.
MARUTI ASMAUL HUSNA SUBAGIO
Tak banyak pelukis anak yang pernah membuat pameran tunggal karyanya sendiri. Terlebih pameran lukisan tersebut dilakukan di tengah hutan. Mungkin Aqil menjadi pelukis pertama yang melakukan hal itu. Pada 19 Oktober tahun lalu, anak berusia 10 tahun ini telah menggelar exhibition art dari 40 lukisan buah karyanya sendiri. Acara itu dihadiri oleh 70 anak-anak sebaya Aqil bersama para orang tua mereka, serta CEO dari CNN Indonesia.
Aqil dan ibundanya, Amalia, memilih lokasi di tengah hutan supaya bisa mengenalkan kegiatan hiking (jalan-jalan ke gunung) yang setiap minggu dilakukan Aqil. Bukan karena hobi, namun awalnya Aqil melakukan hiking sebagai sebuah terapi yang dianjurkan psikolog. Karena sejak usia 7 tahun Aqil didiagnosa mengalami disleksia. Penyakit ini membuat Aqil mengalami beberapa kendala seperti kesulitan membaca, tidak bisa membedakan kanan dan kiri, serta memiliki daya ingat yang pendek (short memory disorder).
Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 4 Oktober 2004 Aqil lahir sebagai bayi prematur. Amalia memiliki fobia terhadap tempat kotor, sehingga melewatkan satu fase tumbuh kembang Aqil yakni merangkak. ”Sebelum bisa merangkak Aqil sudah sering ditempatkan dalam stroller (kereta dorong bayi), habis itu langsung belajar jalan,” ujar Amalia.
Terlewatkannya satu fase tersebut membuat motorik kasar dan motorik halus Aqil sangat lemah. Namun, saat itu belum ada yang menyadari. Hingga usia Aqil menginjak 6 tahun guru di sekolahnya berkata bahwa Aqil mengalami kesulitan membaca dan menulis. Dia juga sulit mengenali huruf. ”Saat mau masuk SD umur 7 tahun, teman-temannya sudah bisa baca semua tapi Aqil belum,” tutur Amalia.
Amalia pun mengonsultasikan kendala itu pada seorang dokter, yang akhirnya menyarankan Aqil perlu dites. Melanjutkan hal itu Amalia juga berkonsultasi kepada tiga psikolog serta satu psikiater. Hasilnya, Aqil positif didiagnosis mengalami disleksia. Awalnya Amalia tidak mau percaya. Doktrin dari keluarganya selama ini, tidak ada orang yang bodoh, yang ada hanya orang malas. Dia pun beranggapan bahwa sang anak hanya malas belajar. Namun, sekuat apa pun berusaha Aqil tetap kesulitan membaca.
Beberapa kali Amalia memarahi Aqil karena ketidakmampuannya. Hingga kondisi tersebut memicu konflik antara ibu dan anak ini selama satu tahun. Sempat terjadi gap antara Aqil dan Amalia. Aqil seringkali lebih nyaman tinggal di rumah kakak atau ibu Amalia.
Sampai suatu saat Amalia tersadarkan oleh nasihat dari seorang rekannya. ”Anak itu dilahirkan untuk kita. Dia alat Tuhan untuk menaikkan kita,” kenang Amalia mengucapkan nasihat itu.
Dari situlah dia bertekad melakukan sebuah significant move. Amalia mengubah mind set nya terhadap Aqil dan memperbaiki hubungan. Dia memutuskan untuk kembali meminta saran dari psikolog. Dari psikolog, Aqil diminta melakukan beberapa terapi, seperti hiking setiap minggu, menyiram bunga dan menggambar pattern.
Sang psikolog juga menyarankan untuk menemukan bakat spesifik Aqil. Butuh waktu satu tahun untuk Aqil dan Amalia melakukan pencarian tersebut. Mulai dari berlatih bulutangkis, paduan suara, dan beladiri wushu. Semuanya tidak ada yang bertahan lama dan menarik hati Aqil. Hingga Aqil memutuskan untuk kembali melukis dan menggambar pattern.
”Kalau melukis Aqil tidak cukup pakai kertas. Jadi saya membebaskan dia melukis seisi rumah hingga ke dinding dan sofa,” tukas Amalia.
Lambat laun tampaklah minat terbesar Aqil dalam dunia seni lukis. Dia mampu bertahan dengan lukisan dalam waktu yang lama serta menghasilkan karya-karya yang melampaui imajinasi anak rata-rata. Saat itu Aqil sudah diberi pengertian oleh Amalia bahwa dia mengalami kelainan disleksia. Hal ini membuat Aqil seringkali minder. Ketika ada acara keluarga dia memilih sembunyi di balik badan sang ibu.
Amalia akhirnya mengambil inisiatif untuk memamerkan karya Aqil saat ada acara keluarga. Ternyata semua merespon baik dan terkagum pada lukisan Aqil. Lambat laun Aqil mulai berani menunjukkan diri.
”Paling suka menggambar alien,” kata Aqil.
Anak dengan disleksia memang memiliki horizon yang lebih besar dibanding anak rata-rata. Aqil banyak mendapat inspirasi lukisannya saat hiking ke hutan. Bila melihat cabang pohon yang patah misalnya, dia bisa membayangkan bentuknya seperti naga. Inspirasi itu dia tuangkan dalam gambar dan lukisan yang kini jumlahnya sudah mencapai 70-an.
”Aku melukis seminggu sekali. Sekali melukis kadang sampai tiga jam,” tukas Aqil.
Suatu hari ada salah satu anggota keluarga yang mengirimkan gambar Aqil kepada Handoko Hendroyono, seorang pegiat seni dan film. Handoko yang juga produser film Filosofi Kopi ini terkagum pada karya Aqil. Mendengar cerita tentang kisah hidup Aqil dan ibunya serta bakat Aqil yang memukau dia pun berniat mengangkat kisah tersebut dalam versi layar lebar. Artis Atiqah Hasiholan didaulat untuk memerankan Amalia dalam film itu. Atiqah yang sempat membaca kisah mereka dalam buku yang ditulis Amalia dibuat tersedu-sedu saat membaca. Dia pun merasa excited untuk bergabung dalam project film tersebut.
Film yang direncanakan berjudul Indigo itu akan shooting pada bulan September dan rilis pada Januari tahun depan. Ceritanya diangkat dari buku yang ditulis Amalia berjudul Wonderful World. Berisi kisah tentang perjuangannya membesarkan anak-anak. Amalia merupakan single parent dengan dua anak. Yang pertama Aqil, dan kedua adiknya, Satria kini berusia 7 tahun.
Tidak hanya memikat Handoko sebagai produser film. Kisah Aqil juga memunculkan inspirasi bagi Rama Suprapto, seorang pegiat drama musikal. Sedikit berbeda dengan film Handoko yang mengangkat kisah hubungan ibu dan anak, drama musikal garapan Rama akan berfokus pada karya-karya Aqil. Direncanakan drama tersebut akan tayang pada Desember mendatang. ”Saat ini keduanya masih gathering sponsor,” tukas Amalia.
Di sela-sela membantu kesibukan sebagai CEO sebuah perusahaan, Amalia sejak April lalu giat melakukan roadshow kampanye disleksia. Roadshow tersebut bertujuan mengenalkan disleksia kepada ibu-ibu kelas menengah ke bawah yang memiliki anak balita. Amalia memiliki dua tujuan, yang pertama membimbing ibu-ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus agar menerima kondisi anak mereka. Yang kedua, sang ibu harus selalu merasa hidup bahagia. Karena kebahagiaan itu perlu ditularkan kepada anak mereka.
Selain itu dia juga memiliki mimpi mendirikan sekolah disleksia. Yang menjadi tempat pengembangan bakat anak-anak disleksia sesuai bakat unik mereka. Dia juga ingin masyarakat paham bahwa kemampuan akademik bukanlah segala-galanya.
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 28 Mei 2015
Humar Hadi, Sutradara Film Indie Lulusan Kimia
Oleh: Maruti Asmaul Husna Subagio
Masih terkenang jelas dalam memori Humar Hadi, saat dia bertemu seorang wartawan di sebuah masjid. Wartawan tersebut bekerja di sebuah stasiun televisi swasta dan baru pertama kali dijumpainya. Perjumpaan yang tidak direncanakan itu menjadi awal karir Humar Hadi di bidang perfilman indie.
Saat itu tahun 2005, pemuda yang biasa dipanggil Umank itu memiliki niat memproduksi sebuah film. Yang dia miliki hanya modal ide cerita dan motivasi menyampaikan pesan lewat film. Dia tak punya biaya maupun alat untuk memproduksi film pertamanya itu. Namun, sang wartawan bersedia meminjamkannya kamera setelah melalui beberapa obrolan. Umank yang merupakan lulusan Kimia Analisis masih buta cara mengoperasikan kamera.
”Waktu itu nggak tahu apa-apa, cuma tahu cara play, record, dan hapus video,” kenang Umank.
Saat itu Umank baru usai dari sidang jenjang D3 jurusan Kimia Analisis. Meski tidak memiliki latar belakang ilmu perfilman, dia memiliki semangat dan passion yang kuat di bidang tersebut. Hingga saat ini sudah enam film yang dia produksi secara indie. Mayoritas film tersebut dihasilkan dari rumah produksi bernama bedasinema yang dia dirikan bersama beberapa teman dekat. Meski terkesan kecil-kecilan salah satu film karyanya dengan judul #HKS (Hanya Kerudung Sampah, Red) telah diputar di 25 kota se-Indonesia.
”Dulu kami punya genk sesama teman kuliah, semacam genk Westlife. Semua punya ketertarikan di dunia film,” tutur Umank.
Genk yang akhirnya berubah menjadi film agency itu memilih menamakan diri mereka menjadi bedasinema. Nama itu dipilih karena mereka bertekad mengambil genre Islami dalam film yang diproduksi. Tidak hanya itu, definisi “beda” juga mereka cerminkan dari proses pembuatan film. Dalam setiap proses pembuatan film mereka ada rules yang diterapkan. Contohnya, sebelum waktu sholat semua pemain dan kru harus break. ”Pernah suatu kali semua sudah siap dan rapi dengan make up untuk take, namun tiba-tiba adzan. Akhirnya semua break dan bongkar make up. Nggak apa-apa, karena habis sholat lebih fresh,” ujarnya.
Umank yang merupakan suami dari Yunita Santini dan ayah dari Kayyisa Zahira (5 tahun) ini sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan BUMN. Dia meraih gelar S-1 dari jurusan Teknik Lingkungan Universitas Sahid Jakarta. Cita-citanya saat SMA adalah bekerja di bidang kimia dan itu sudah tercapai. Sehingga dia rela bekerja sembari terus menghasilkan karya sinema yang sama-sama dia cintai.
Tentang cara membagi waktu, dia bercerita setiap senin—jumat tetap bekerja di kantor dari pagi hingga pukul lima sore. Selama jam kerja itu dia tidak mau membahas pekerjaan pembuatan film. Hanya pada waktu break dan malam hari sepulang kerja dia biasanya berkoordinasi dengan kru atau klien film yang sedang digarap. Sedangkan, pada Sabtu dan Minggu barulah dia gunakan untuk memproduksi film-film tersebut.
Di rumah, dia memiliki seorang anak gadis kecil yang mulai tumbuh jiwa kritisnya. Melihat kesibukan ayahnya kadang kala sang anak protes mengapa ayahnya pulang malam. ”Harus bikin perjanjian sama anak kalau hari ini pulang malam,” tukas Umank.
Kadangkala Umank pun merasa bingung dengan dirinya yang memiliki “dua kepribadian”. Hingga dia berkonsultasi dengan psikolog agar dapat menjalani keduanya dengan baik. Pernah ada seorang temannya yang berkata, ”Lo ngga boleh gitu, ngga boleh ambil semuanya.” Namun Umank memiliki alasan sendiri, ”Ngga gitu kalimatnya. Saya bukan mau ambil semuanya, tapi cuma berusaha melakukan yang terbaik.”
Laki-laki kelahiran Bekasi, 10 Maret 1983 ini mengaku memiliki motivasi kuat untuk menyampaikan pesan dakwah dalam setiap film yang dia garap. Idealisme tersebut mengantarkan dia menemui banyak perjuangan bertahan di ranah indie. Seringkali ada investor yang datang menawarkan bantuan dana, namun terpaksa ditolak demi mempertahankan orisinalitas ide cerita. Dalam film keempat yang berjudul Masbukers, Umank mengaku mengeluarkan biaya produksi dari kantongnya sendiri. ”Tapi akhirnya modalnya balik bahkan lebih,” tandasnya.
Film pendek yang berdurasi 18 menit tersebut diangkat dari curahan hati ibu-ibu yang sempat Umank temui di masjid. Sang ibu mengeluh karena seringkali telat melakukan jamaah sholat (masbuk). Ternyata film itu mendapat apresiasi yang tinggi dari sutradara film Ketika Cinta Bertasbih, almarhum Chairul Umam. Sutradara senior tersebut meminta Umank untuk membuat versi layar lebar. Namun, belum sempat tergarap film ini masuk ke dalam jajaran finalis festival film pendek Piala Maya. Saat itu semua karya finalis ditayangkan di Senayan. Sambutan dari penonton cukup baik dan banyak yang meminta Umank untuk memproduksi film berikutnya.
Hingga muncul karyanya yang kelima pada tahun 2013 berjudul #HKS, singkatan dari Hanya Kerudung Sampah. Film dengan durasi hampir satu jam ini bercerita tentang tiga sahabat laki-laki yang mengalami kelainan orientasi seksual. Mereka terdiri dari seorang waria, homoseksual, dan satu lagi seorang pecandu narkoba yang tinggal dalam satu rumah kontrakan. Dalam kehidupannya mereka sering dipandang seperti “sampah” oleh orang-orang sekitar. Bahkan seorang tokoh muslimah ditampilkan memiliki karakter yang memandang mereka sebelah mata. Namun, dalam perjalanannya keempat tokoh tersebut tersadarkan dan kembali ke jalan fitrahnya.
Berbagai sambutan pro dan kontra sempat muncul ketika film ini diputar. Umank sebagai sutradara khawatir dianggap sebagai aktivis gay, karena banyak adegan dalam film yang menunjukkan kehidupan kaum tersebut. Padahal bukan itu pesan sesungguhnya yang dia bawa. Film ini memiliki tagline “Tidak ada satu alasan pun yang menghalangi seseorang untuk berbuat kebaikan.”
Sambutan penonton untuk film #HKS pun di luar dugaan. Sejak premiere-nya ditayangkan di Museum Bank Mandiri pada 29 September 2013, berbagai panggilan dari luar kota datang kepada Umank, tim bedasinema, dan para pemain untuk menayangkan film tersebut. Total ada 25 kota se-Indonesia, yakni dari kota Padang sampai wilayah timur Pulau Jawa, kota Malang.
Kini, yang terbaru Umank dan rumah produksi bedasinema sedang melakukan penggarapan untuk film keenam, yang berjudul Tausiyah Cinta. Proses shooting seperti pada film-film sebelumnya dilakukan hanya pada hari sabtu dan minggu. Film berdurasi 1,5 jam tersebut memakan waktu shooting empat bulan, yakni Februari hingga Mei 2015. Rencananya Tausiyah Cinta akan ditayangkan pada September 2015.
Film tersebut dibintangi oleh aktor dan aktris muda pendatang baru yang bertalenta. Beberapa pemain pendukung melibatkan aktor dan aktris kenamaan seperti Irwansyah dan Peggy Melati Sukma. Film yang masih bernafas Islam tersebut akan bercerita tentang kesholehan yang dipertanyakan dan bagaimana seseorang bangkit dari ujian.
Umank mengaku menemui banyak pelajaran dan pengorbanan dari setiap film yang dia garap. Mulai dari film pertama saat dia masih berbekal penguasaan yang minim terhadap kamera. Dia mengaku belajar membuat film secara otodidak. Selain itu juga mengikuti berbagai workshop film, salah satunya yang menghadirkan sutradara kenamaan Riri Riza.
Pada masa-masa awal, modal alat produksi film juga dia tak punya. Hingga dia rela meminjam dan mengembalikan kamera kepada seorang teman setiap pekan. Sebenarnya sang teman bersedia kameranya dipinjam lebih lama. Namun Umank menganggap itu barang berharga dan demi menjaga amanah, dia rela mengembalikan kamera itu pada dini hari. ”Dulu sampai numpang mobil sayur karena sudah nggak ada angkot dan terlalu capek untuk naik motor,” kenang Umank.
”Kalau nonton lagi film pertama suka begini,” cerita Umank sambil memeragakan menutup wajah.
Seiring waktu berjalan rumah produksi bedasinema di mana Umank menjabat sebagai CEO semakin profesional mengelola karya-karyanya. Rumah produksi tersebut hanya memiliki lima anggota inti namun didukung oleh tenaga produksi yang berkompeten dengan sistem kontrak per film. Contohnya, kameraman dan coaching talent mereka merekrut orang luar.
Dalam mengelola tim yang akhirnya besar tersebut dia mengaku mendapat ruang belajar yang besar. Posisi sebagai leader sangat diasah. Umank mengaku banyak belajar mengelola kesabaran. Bahkan laki-laki yang dikenal tenang dan jarang marah ini pernah memuncak emosinya pada saat shooting dini hari. Dia mendapati seorang pemain yang dilihat tidak fokus hingga mengulang 7 kali take. ”Jangan mentang-mentang film dakwah kamu anggap ini film nggak penting,” ujarnya ketika itu dengan suara keras.
Sepulangnya dari lokasi shooting Umank mengirim pesan personal kepada para kru dan pemain. Dia takut ada sikap yang berlebihan dan meminta maaf.
Umank mengaku tidak terobsesi filmnya harus diputar di bioskop atau layar lebar. Baginya tidak semua karya bagus diputar di bioskop. Namun, tidak menepis kemungkinan pula bila kesempatan itu ada. Yang dia ingin pastikan adalah orisinalitas cerita serta pesan di balik setiap film karyanya. ”Saya nggak mau bikin film yang nggak membuat hati saya tergetar,” tuturnya. Mimpinya ke depan, bedasinema menjadi publishing house yang terus menggarap project-project kebaikan.
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 14 Mei 2015
Anak Perlu Cukup Stimulasi
KEBAYORAN BARU—Periode emas anak memang sangat menentukan tumbuh kembangnya hingga usia dewasa. Usia dua tahun pertama setelah kelahiran adalah yang paling krusial. Tidak hanya nutrisi yang cukup dan seimbang, anak di usia tersebut juga membutuhkan stimulasi. Sayangnya, hal ini seringkali dilupakan para orang tua.
”Riset membuktikan bahwa gangguan perkembangan anak sebagian besar karena kurang stimulasi,” ujar ketua unit kerja tumbuh kembang (UKK) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Eddy Fadlyana saat ditemui di hotel Ritz Carlton dalam acara peluncuran Wyeth Nutrition Science Center (WNSC) pada Selasa (26/5) kemarin.
Menurut Eddy faktor utama penyebab kurangnya stimulasi adalah pola asuh orang tua. Anak jarang diajak bermain dan berinteraksi. Padahal, stimulasi dibutuhkan untuk mengembangkan empat komponen, yaitu motorik kasar, motorik halus, sosial, dan bicara.
”Yang sering kita temukan ibu-ibu menggendong anaknya sambil menyapu misalnya, tanpa mengajak sang anak bicara,” tambah Eddy.
Lebih lanjut, ujarnya, stimulasi perlu menjadi suatu pola kebiasaan. Stimulasi yang diberikan kepada anak butuh disesuaikan dengan milestone tumbuh kembang anak sesuai usianya. Salah satunya dilakukan melalui permainan edukasi sederhana. Misalnya, pada anak usia 6 bulan kemampuannya sudah bisa merangkak. Pada awal usia tersebut sang anak dapat diberi stimulasi dengan cara meletakkan guling kecil di depannya. Kemudian guling diputarkan agar anak mengikuti pergerakan guling.
Begitu pula pada usia tujuh bulan, seorang anak seharusnya sudah bisa duduk. Pada usia enam hingga tujuh bulan sang anak perlu dilatih duduk. Kemudian, memasuki usia satu tahun, anak seharusnya sudah bisa berjalan. Stimulasi latihan berjalan dapat dilakukan dengan memegang kedua tangannya, kemudian satu tangan, dan lambat laun kedua tangan anak dilepas.
”Saat ini banyak terdapat kelompok belajar dan PAUD (pendidikan anak usia dini, Red), namun stimulasi yang utama harusnya berasal dari orang tua,” tutur Eddy.
Stimulasi tersebut sangat berpengaruh pada perkembangan otak dan kognitif anak. Dengan stimulasi yang baik saraf-saraf otak anak dilatih berkembang secara optimal. Apalagi usia dua tahun pertama perkembangan otak anak sangat pesat, yakni lebih dari 70 persen. Sebaliknya, jika tidak mendapat stimulasi bisa berakibat pada kerusakan otak permanen.
”Jika dikoreksi pada usia yang lebih besar, tidak akan berpengaruh banyak pada anak. Karena masa perkembangan otak yang optimal terjadi pada dua tahun pertama,” tukas Eddy.
Sedangkan, jika ditemukan seorang anak tidak dapat melakukan tindakan sesuai milestone usianya, perlu dikonsultasikan kepada dokter anak. Perlu dipastikan bahwa anak tidak memiliki masalah tumbuh kembang. Karena jika terlambat, akan terbawa hingga usia dewasanya. (uti)
Ditulis oleh Maruti Asmaul Husna Subagio, (saat itu) reporter Jawa Pos Metropolitan, pada 26 Mei 2015